PKh UNESA Bekali Guru Konseling Disabilitas, Sekolah Makin Inklusif!

- Prodi Pendidikan Khusus FIP UNESA menggelar PKM di SDN 7 Kampungdalem, Tulungagung, untuk membekali guru PAUD dan TK mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
- Pelatihan menekankan konseling disabilitas berpusat pada siswa, melalui identifikasi masalah, asesmen kebutuhan, penyusunan program, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut.
- UNESA mendorong kolaborasi guru-orang tua serta pengimbasan kepada warga sekolah agar pembelajaran adaptif dan inklusif menjadi budaya yang mendukung kebutuhan setiap siswa.
Surabaya, IDN Times - Pendidikan inklusif bukan sekadar menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) di ruang kelas yang sama. Guru juga dituntut mampu memahami karakter, kebutuhan, hingga kondisi emosional setiap anak agar mereka tetap merasa aman dan memiliki kesempatan belajar yang setara.
Semangat itulah yang dibawa Program Studi Pendidikan Khusus (PKh), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SDN 7 Kampungdalem, Tulungagung, Jumat (11/9/2026).
Melalui tema “Model Konseling Disabilitas Berbasis Sekolah Melalui Pendekatan Kolaboratif Guru-Orang Tua untuk Mendukung Regulasi Emosi dan Keberlanjutan Belajar PDPD Menuju Pencapaian SDGs 4”, UNESA membekali guru PAUD dan TK yang mendampingi siswa berkebutuhan khusus dengan pendekatan konseling disabilitas berbasis sekolah.
Kegiatan tersebut tidak hanya berisi pemaparan teori. Para guru diajak membahas langsung berbagai persoalan yang mereka temui ketika mendampingi siswa berkebutuhan khusus di sekolah masing-masing.
Tim PKM Prodi PKh FIP UNESA yang terdiri dari Reza Akbar Fauzan, Prof Endang Pudjiastuti Sartinah, Prof Wagino, Diah Ekasari, Acep Ovel Novari Beny, Diah Anggraeny, menekankan bahwa setiap siswa memiliki karakteristik, kebutuhan, kekuatan, preferensi, dan cara komunikasi yang berbeda. Pendekatan terhadap anak berkebutuhan khusus tidak bisa disamaratakan.
Guru didorong untuk memahami kebutuhan setiap siswa sebagai dasar dalam merancang pembelajaran yang adaptif dan inklusif. Pendekatan tersebut juga menempatkan guru dan orang tua sebagai dua pihak yang harus berjalan bersama agar dukungan kepada anak tidak berhenti di sekolah.
Dalam pelatihan, peserta dikenalkan dengan prinsip konseling disabilitas yang berpusat pada PDPD, inklusif, kolaboratif, kontekstual, dan berkelanjutan. Guru juga dibekali tahapan penanganan persoalan siswa mulai dari identifikasi masalah, asesmen kebutuhan, penyusunan program, pelaksanaan, evaluasi hingga tindak lanjut.
Diskusi berlangsung interaktif. Para peserta membagikan pengalaman sekaligus berkonsultasi mengenai berbagai tantangan ketika mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Dari proses tersebut, guru tidak hanya diarahkan untuk mengenali masalah, tetapi juga mencari bentuk dukungan yang sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
Antusiasme peserta bahkan mendorong munculnya kebutuhan untuk menggelar bimbingan teknis lanjutan. Salah satu peserta berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sekolah.
“Saya berharap setiap peserta dapat mengaplikasikan peran inklusivitas kepada lingkungan sekolah sehingga peran pendidikan inklusi saat ini bisa berjalan secara maksimal,” tuturnya.
UNESA juga mendorong peserta melakukan pengimbasan kepada guru dan seluruh warga sekolah. Dengan begitu, pemahaman tentang pendidikan inklusi dan konseling disabilitas dapat menyebar dan menjadi bagian dari budaya sekolah.
Reza Akbar Fauzan mengatakan pemahaman guru mengenai karakteristik dan kebutuhan siswa menjadi kunci untuk menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif.
“Kami tentu berharap para peserta dapat memaksimalkan pemahaman baru tentang pendidikan inklusi serta konseling disabilitas dan menerapkannya kepada seluruh warga sekolah, terutama dalam proses pembelajaran,” katanya.
Menurutnya, ketika guru memahami karakteristik dan kebutuhan peserta didik dengan baik, dukungan yang diberikan akan lebih tepat sasaran. Hal itu diharapkan membuat pendidikan inklusi tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar dirasakan siswa dalam proses belajar sehari-hari.
“Dengan pemahaman yang baik mengenai karakteristik dan kebutuhan peserta didik, diharapkan guru mampu menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif sehingga tujuan pendidikan inklusi dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan,” pungkasnya.



















