Suasana hari libur lebaran di telaga Sarangan Magetan. IDN Times/ Riyanto.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan akhirnya angkat bicara terkait viralnya keluhan wisatawan soal dugaan praktik “getok harga” oleh sejumlah pelaku UMKM di kawasan wisata, khususnya Telaga Sarangan.
Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Magetan, Eka Raditya, menegaskan pihaknya sejak awal telah mengingatkan para pelaku usaha agar tidak mematok harga di luar kewajaran.
“Secara prinsip, kami sudah menyampaikan melalui surat edaran agar pelaku usaha tidak menerapkan harga yang melampaui batas kepatutan,” kata Eka, Senin (5/1/2026).
Tak hanya soal kewajaran harga, Disbudpar juga menekankan pentingnya transparansi. Pelaku usaha diminta mencantumkan daftar harga makanan dan minuman agar wisatawan mengetahui sejak awal harga yang harus dibayar.
“Tujuannya biar pengunjung tahu harga suatu barang atau jasa itu berapa. Jadi tidak ada kesan dibodohi,” ujarnya.
Menurut Eka, pihaknya juga telah menyebarkan panduan berwisata cerdas melalui media sosial, termasuk panduan membeli makanan dan minuman di kawasan wisata. Namun ia mengakui, di lapangan masih ditemukan pelaku usaha yang menetapkan harga lebih tinggi dari batas kewajaran.
“Memang harus diakui, ada beberapa yang menerapkan harga lebih tinggi. Padahal harga di tempat wisata itu wajar kalau sedikit lebih mahal dibanding tempat lain, tapi tidak boleh melampaui batas kepatutan,” tegasnya.
Untuk menindaklanjuti persoalan ini, Disbudpar Magetan akan berkoordinasi dengan paguyuban pedagang yang menaungi para pelaku UMKM. Langkah pembinaan hingga pemberian peringatan atau sanksi akan dilakukan melalui paguyuban tersebut.
“Pembinaan yang paling efektif memang lewat paguyuban. Di situ nanti bisa diberikan peringatan ataupun sanksi,” jelas Eka.
Meski demikian, Eka mengungkapkan bahwa penentuan harga di kawasan wisata memang tidak bisa diatur secara kaku seperti kebutuhan pokok.
“Ini bukan kebutuhan pokok yang bisa ditentukan batas atas dan bawahnya. Tapi ke depan akan ada kesepakatan antaranggota paguyuban untuk menetapkan harga yang wajar sesuai batas kepatutan,” pungkasnya.
Polemik harga ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama agar citra wisata Magetan tetap terjaga dan wisatawan tidak kapok berkunjung kembali.