Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Survei ARCI: Gerindra Teratas di Jatim, Demokrat Naik, PPP Anjlok

Kota Surabaya
Survei ARCI: Gerindra Teratas di Jatim, Demokrat Naik, PPP Anjlok
Peneliti ARCI Baihaki Sirajt saat memaparkan hasil survei di Surabaya, Kamis (3/9/2026). IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Survei ARCI pada 18-28 Agustus 2026 menempatkan Gerindra teratas di Jawa Timur dengan 16,3 persen, diikuti PKB 15,1 persen dan PDIP 13,7 persen.
  • Demokrat naik menjadi 12,5 persen dan sejajar dengan Golkar, didorong aktivitas pengurus daerah serta efek elektoral AHY dan Emil Dardak; Golkar disebut menurun sejak akhir 2025.
  • PPP mencatat elektabilitas terendah, 1,5 persen, di hampir seluruh wilayah Jawa Timur kecuali Madura; ARCI menyebut kondisi ini alarm bagi target parlemen 2029.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Peta elektabilitas partai politik di Jawa Timur (Jatim) mulai menunjukkan pergeseran menjelang Pemilu 2029. Gerindra masih menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi di Jatim, sementara Demokrat mencatat kenaikan dan PPP justru berada di titik terendah sepanjang survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI).

Dalam survei terbaru ARCI yang digelar 18-28 Agustus 2026, elektabilitas Gerindra mencapai 16,3 persen. Posisi kedua ditempati PKB dengan 15,1 persen, disusul PDI Perjuangan (PDIP) 13,7 persen.

Golkar dan Demokrat berada di posisi berikutnya dengan elektabilitas sama-sama 12,5 persen. Sementara PSI memperoleh 5,1 persen, PAN 4,2 persen, NasDem 4,1 persen, PKS 4,1 persen, PPP 1,5 persen, Perindo 1,1 persen, serta partai lainnya 3,5 persen. Adapun responden yang tidak tahu atau tidak menjawab mencapai 6,3 persen.

Peneliti ARCI Baihaki Sirajt mengatakan, posisi Gerindra sebagai partai dengan elektabilitas tertinggi di Jatim tidak terlepas dari aktivitas kader dan legislator partai yang dinilai cukup intens turun ke masyarakat.

“Memang legislator Gerindra ini banyak yang aktif, tentunya mengawal program presiden, termasuk mereka juga menyerap aspirasi warga. Selain itu, kepala daerah Gerindra di Jatim sangat banyak. Secara langsung ini berdampak pada elektoral partai,” ujarnya saat memaparkan hasil survei di Surabaya, Kamis (3/9/2026).

Baihaki mengungkapkan, faktor lain yang ikut mengangkat elektabilitas Gerindra adalah tingginya tingkat pengenalan masyarakat terhadap partai yang menaungi Presiden Prabowo Subianto. Meski berada di posisi teratas, Baihaki menilai elektoral Gerindra masih dapat ditingkatkan.

“Top of mind warga sangat tinggi terhadap partai dari presiden. Meski saya kira angka elektoral Gerindra saat ini masih belum optimal dan masih bisa ditingkatkan lagi dengan kinerja kerakyatan dari kader Gerindra,” katanya.

Di bawah Gerindra, PKB masih mempertahankan posisi sebagai salah satu kekuatan utama politik Jatim. Namun, Baihaki menyebut elektoral PKB cenderung stagnan. Sementara PDIP disebut masih mengalami progres, meski kenaikannya relatif kecil. Berbeda dengan Golkar yang justru mengalami penurunan sejak akhir 2025.

“PKB stagnan, untuk PDI ada progres meski sangat kecil. Sementara Golkar menurun sejak akhir tahun 2025 lalu,” katanya.

Pergerakan paling mencolok justru terjadi pada Demokrat. Elektabilitas partai berlambang mercy tersebut kini mencapai 12,5 persen, menempatkannya sejajar dengan Golkar.

Baihaki menilai kenaikan Demokrat tidak terlepas dari kerja-kerja elektoral jajaran pengurus DPD Demokrat Jatim, khususnya dalam setahun terakhir. “Kenaikan justru ada di Demokrat, dampak kerja-kerja elektoral dari Emil Dardak beserta pengurus DPD selama setahun terakhir,” jelasnya.

Menurut Baihaki, perubahan struktur kepengurusan DPD Demokrat Jatim pada 2025 turut membuat aktivitas partai di tingkat masyarakat semakin terlihat. Program-program yang menyentuh langsung masyarakat dinilai memberikan dampak terhadap elektabilitas.

“Tentu adanya perombakan pada susunan kepengurusan DPD Demokrat Jatim pada tahun 2025 memberi dampak, sehingga Demokrat ini lebih hidup dengan berbagai program langsung ke masyarakat,” terangnya.

Selain kerja mesin partai di daerah, Baihaki menyebut efek elektoral dari figur Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua DPD Demokrat Jatim Emil Elestianto Dardak juga ikut mengerek elektabilitas partai.

“Tentu yang juga sangat berdampak pada elektoral Demokrat ialah coattail effect dari AHY sebagai salah satu menteri dengan kinerja terbaik. Selain itu, elektoral terhadap Emil Dardak juga meningkat di Jatim, dan semakin banyak warga yang tahu bahwa Emil Dardak adalah Ketua Demokrat Jatim,” katanya.

Di sisi lain, PPP menghadapi situasi paling berat. Elektabilitas partai tersebut hanya 1,5 persen. Baihaki menyebut angka itu menjadi yang terendah sepanjang ARCI melakukan survei elektabilitas partai di Jatim. “Hampir di semua segmen wilayah, PPP anjlok. Hanya di Madura saja PPP masih bisa bersaing, bahkan bisa di lima besar,” ungkapnya.

Menurut Baihaki, kondisi tersebut menjadi alarm bagi PPP yang menargetkan kembali lolos ke parlemen pada Pemilu 2029. Jawa Timur, kata dia, merupakan salah satu lumbung suara terbesar sehingga lemahnya elektoral di provinsi ini dapat menjadi persoalan serius.

“Ini tentu alarm berbahaya bagi PPP yang menargetkan kembali lolos ke Senayan pada 2029 karena Jatim lumbung suara,” tegasnya.

Ia menilai salah satu persoalan PPP di Jatim adalah belum munculnya figur yang memiliki tingkat popularitas dan daya tarik elektoral kuat di banyak wilayah. Kondisi berbeda terlihat di Madura, tempat PPP masih memiliki tokoh yang mengakar di masyarakat.

“Ketidakpopuleran tokoh PPP di Jatim berdampak pada elektoral partai, kecuali di Madura yang memang punya tokoh mengakar,” pungkasnya.

Survei ARCI tersebut melibatkan 1.200 responden yang tersebar di Jawa Timur. Pengambilan data dilakukan pada 18-28 Agustus 2026 dengan margin of error sekitar 2,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More