Pelabuhan Probolinggo Dibidik Jadi Gerbang Logistik Jawa-Nusa Tenggara

- Pemprov Jatim menyiapkan Pelabuhan Probolinggo sebagai simpul logistik penghubung Jawa dengan NTB dan NTT melalui rute kapal Ro-Ro untuk truk serta penumpang.
- Rute langsung ini ditujukan memangkas jarak, biaya angkutan darat, dan antrean pelabuhan bagi pelaku usaha dari Pasuruan, Probolinggo, hingga Malang Raya.
- Fasilitas pelabuhan dinilai memadai tanpa ekspansi dermaga, tetapi keberlanjutan rute bergantung pada ketersediaan pasar dan muatan; realisasi ditargetkan semester kedua tahun ini.
Surabaya, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mulai menggeser orientasi pengembangan Pelabuhan Probolinggo. Pelabuhan yang selama ini lebih banyak melayani kebutuhan arus barang lokal tersebut dibidik menjadi simpul logistik strategis yang menghubungkan Jawa dengan kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Saat ini, Dinas Perhubungan Jatim tengah mematangkan pembukaan rute pelayaran baru dari Probolinggo menuju kawasan Nusa Tenggara. Untuk merealisasikan jalur tersebut, Dishub Jatim intensif berkoordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), termasuk menyiapkan skema angkutan menggunakan kapal roll-on roll-off (Ro-Ro).
Rute tersebut diharapkan dapat membuka jalur distribusi yang lebih efisien bagi kendaraan angkutan barang, terutama truk, sekaligus mengangkut penumpang secara langsung dari Probolinggo menuju NTB dan NTT.
Kepala Bidang Pelayaran Dishub Jatim Luhur Prihadi mengatakan, Pelabuhan Probolinggo memiliki keunggulan geografis karena berada lebih dekat dengan kawasan industri dan sentra produksi di Jawa Timur bagian timur dibandingkan pelabuhan utama di Surabaya.
“Kalau lewat Surabaya, pelaku usaha harus menghitung biaya angkutan darat yang lebih jauh dan antrean pelabuhan. Jika lewat Probolinggo, jarak tempuh ke NTB dan NTT jauh lebih dekat. Biaya logistik otomatis bisa ditekan,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).
Luhur menyampaikan, potensi tersebut terutama dapat dimanfaatkan pelaku usaha dari kawasan Pasuruan, Probolinggo hingga Malang Raya. Dengan tersedianya jalur langsung dari Probolinggo ke Nusa Tenggara, barang tidak harus terlebih dahulu bergerak menuju Surabaya untuk kemudian dikirim melalui jalur laut.
“Posisi Pelabuhan Probolinggo sangat presisi untuk memangkas rantai distribusi barang,” katanya.
Saat ini, proses pematangan kerja sama antarpihak masih berlangsung, termasuk pembahasan Nota Kesepahaman (MoU). Pemprov Jatim menargetkan rute pelayaran Ro-Ro tersebut dapat direalisasikan pada semester kedua tahun ini.
Dari sisi infrastruktur, Dishub Jatim menilai Pelabuhan Probolinggo sudah memiliki modal yang cukup untuk melayani pengembangan arus logistik. Fasilitas yang tersedia antara lain gudang logistik, area dermaga yang relatif luas, serta akses jalan menuju pelabuhan yang ditunjang Jalan Lingkar Utara (JLU) Probolinggo.
Yang menjadi modal penting lainnya adalah tingkat kepadatan operasional pelabuhan yang relatif rendah. Kondisi tersebut membuat Pelabuhan Probolinggo dinilai memiliki ruang cukup besar untuk meningkatkan volume bongkar muat tanpa harus melakukan ekspansi fisik dalam waktu dekat. “Dari segi kesiapan fasilitas, kami menjamin infrastruktur pendukung di Pelabuhan Probolinggo saat ini sudah sangat mumpuni dalam memfasilitasi lalu lintas kapal maupun lalu lintas muatan berkapasitas besar,” kata Luhur.
Ia menegaskan, pemerintah tidak sedang mengejar pembangunan fisik dermaga baru. Sebab, belum terdapat alokasi anggaran pengembangan dermaga pada tahun ini maupun tahun depan.
“Tahun ini dan tahun depan memang tidak ada alokasi anggaran pengembangan dermaga. Jadi kita tidak mengejar fisik baru, melainkan bagaimana kapasitas yang sangat longgar ini dioptimalkan penuh,” jelasnya.
Tantangan utama pengembangan rute baru bukan semata kesiapan infrastruktur, melainkan memastikan tersedia pasar dan muatan yang cukup agar kapal dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Dishub Jatim mendorong BUMD pengelola pelabuhan lebih agresif menjaring calon pengguna jasa, khususnya pelaku industri dan pemilik barang di wilayah Jawa Timur bagian timur. Strategi tersebut penting untuk menjaga tingkat keterisian muatan atau load factor sehingga rute Probolinggo–Nusa Tenggara tidak hanya berhenti sebagai jalur alternatif, tetapi mampu berkembang menjadi koridor logistik baru.

















