Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
SPBU yang Kritis BBM di Jatim di Bawah 10 Persen
Ilustrasi aktivitas pengendara sepeda motor di sebuah SPBU. (unsplash.com/Reyhan Aviseno)
  • SPBU berstatus kritis di Jawa Timur masih jauh di bawah 10 persen dari 772 penyalur Biosolar dan lebih dari 900 penyalur Pertalite.

  • Pertamina memantau stok dan konsumsi SPBU setiap 15 menit, lalu memprioritaskan pengiriman ke lokasi yang diperkirakan kehabisan BBM sebelum truk tiba.

  • Untuk mempercepat pemulihan, Pertamina mengerahkan lebih dari 200 truk, menambah 20 armada, serta memperpanjang pengisian terminal hingga 24 jam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
19 Oktober 2026

Stok Biosolar di tangki penyimpanan mencapai 60.000 kiloliter, setara kebutuhan selama enam hari.

20 Oktober

Stok Biosolar ditargetkan meningkat menjadi 80.000 kiloliter, setara kebutuhan selama delapan hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah SPBU di Jawa Timur berstatus kritis karena stok Biosolar atau Pertalite diperkirakan habis sebelum pasokan berikutnya tiba, meski jumlahnya jauh di bawah 10 persen dari total SPBU penyalur.
  • Who?
    Pertamina memantau dan memprioritaskan pengiriman BBM; Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan kondisi distribusi. SPBU penyalur Biosolar dan Pertalite terdampak status kritis.
  • Where?
    Kondisi terjadi di Jawa Timur. Laporan kekosongan BBM sempat muncul di Malang Raya, Bondowoso, dan Banyuwangi.
  • When?
    Pemantauan stok dilakukan setiap 15 menit. Data stok Biosolar di tangki penyimpanan tercatat per 19 Oktober 2026, dengan peningkatan stok ditargetkan pada 20 Oktober 2026.
  • Why?
    SPBU berstatus kritis ketika stok diperkirakan habis sebelum truk pengangkut tiba, berdasarkan sisa persediaan, tingkat konsumsi, dan estimasi waktu pengiriman dari terminal.
  • How?
    Pertamina memprioritaskan SPBU kritis, mengerahkan lebih dari 200 truk, menambah sekitar 20 armada spot charter, serta memperpanjang operasi pengisian truk di terminal menjadi 24 jam sehari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Beberapa SPBU di Jawa Timur hampir habis bensin sebelum truk datang. Tapi jumlahnya kurang dari 10 persen. Pak Emil dan Pertamina melihat stok tiap 15 menit. SPBU yang hampir kosong didahulukan. Pertamina memakai lebih dari 200 truk. Stok dan kiriman mulai membaik, tetapi tetap diawasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemantauan digital setiap 15 menit memungkinkan distribusi BBM di Jawa Timur diarahkan secara responsif ke SPBU yang paling membutuhkan. Dengan jumlah titik kritis jauh di bawah 10 persen, tambahan armada, operasi terminal 24 jam, serta stok Biosolar yang ditargetkan meningkat, upaya pemulihan pasokan menunjukkan koordinasi yang semakin terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jawa Timur (Jatim) masih berstatus kritis akibat stok bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan habis sebelum pasokan berikutnya tiba. Meski demikian, jumlah SPBU dalam kategori tersebut disebut masih jauh di bawah 10 persen dari total SPBU penyalur Biosolar dan Pertalite di Jatim.

Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak mengatakan, kondisi SPBU dipantau secara digital setiap 15 menit oleh Pertamina. Pemantauan ini digunakan untuk menentukan SPBU yang perlu segera mendapat pasokan, terutama ketika stoknya diperkirakan habis sebelum truk pengangkut tiba.

“Dari total 772 yang menyalurkan Biosolar maupun yang menyalurkan Pertalite lebih dari 900, itu tidak lebih dari 10 persen, bahkan jauh di bawah 10 persen sebenarnya yang kondisinya kritis,” ujar Emil.

Emil menjelaskan, Pertamina membagi status SPBU menjadi tiga kategori, yakni aman, waspada, dan kritis. Penentuan status tersebut didasarkan pada jumlah stok yang tersisa, tingkat konsumsi, serta perkiraan waktu pengiriman dari terminal.

SPBU masuk kategori kritis apabila persediaan BBM diperkirakan habis sebelum truk pengangkut tiba. Sebagai contoh, jika perjalanan menuju SPBU membutuhkan waktu dua jam, tetapi stok diperkirakan habis dalam satu jam, SPBU tersebut akan menjadi prioritas pengiriman.

“Yang kondisi kritis itu didahulukan untuk segera diisi,” jelasnya.

Menurut Emil, sistem pemantauan menggabungkan data stok dan konsumsi SPBU yang diperbarui setiap 15 menit. Dengan begitu, Pertamina dapat memperkirakan berapa lama persediaan akan bertahan dan mengatur prioritas distribusi berdasarkan kondisi terkini.

Sejumlah laporan kekosongan BBM sempat muncul di Malang Raya, Bondowoso, dan Banyuwangi. Namun, Emil meminta masyarakat tidak menyimpulkan bahwa seluruh wilayah Jawa Timur mengalami kelangkaan BBM hanya berdasarkan kondisi di beberapa SPBU.

“Jangan langsung digeneralisir bahwa di seluruh wilayah terjadi kelangkaan. Bisa jadi hanya satu atau dua SPBU yang mengalami kondisi tersebut karena ritme pembelian dan waktu pengiriman tidak bertemu,” katanya.

Untuk mempercepat pemulihan stok, Pertamina mengerahkan lebih dari 200 truk pengangkut BBM dan menambah sekitar 20 armada melalui skema spot charter. Jam operasional pengisian truk di terminal juga diperpanjang dari sekitar 12 jam menjadi 24 jam sehari.

Sementara itu, stok Biosolar di tangki penyimpanan per 19 Oktober 2026 mencapai 60.000 kiloliter, setara kebutuhan selama enam hari. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 80.000 kiloliter pada 20 Oktober atau setara kebutuhan delapan hari.

Emil menegaskan, penambahan stok di terminal harus diikuti percepatan distribusi ke SPBU agar kondisi pasokan di lapangan kembali normal. Menurutnya, tren distribusi mulai membaik, tetapi pemantauan dan pengiriman terus dilakukan untuk mengantisipasi konsumsi yang masih tinggi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article