Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rest Area Rasa Destinasi Wisata

Rest Area Rasa Destinasi Wisata
Penampakan Rest Area Travoy KM 725 A dari udara. Dok. PT Jasamarga Tol Sumo for IDN Times.
Intinya Sih
  • Rest Area Travoy KM 725A di tol Surabaya–Mojokerto menawarkan fasilitas lengkap seperti SPKLU, masjid modern, area bermain anak, dan kios UMKM yang menjadikannya lebih dari sekadar tempat istirahat.
  • Pengelolaan rest area mengusung konsep keberlanjutan berbasis ESG dengan pemilahan sampah, IPAL ramah lingkungan, serta edukasi publik tentang kebersihan dan tanggung jawab sosial bagi pengunjung.
  • Aplikasi Travoy mempermudah pengguna jalan memantau lalu lintas dan fasilitas rest area, namun pakar menilai perlu pengawasan agar inovasi digital tidak berubah menjadi komersialisasi ruang publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Terik matahari belum genap berada di puncaknya ketika deretan kendaraan mulai melambat di ruas tol Surabaya - Mojokerto, Jumat (17/4/2026). Jam baru menunjukkan pukul 10.00 WIB, tetapi hawa panas sudah terasa menekan dari balik kaca depan. Dalam kondisi seperti itu, pilihan untuk menepi sejenak bukan sekadar kebutuhan, melainkan keharusan mengambil jeda. Di titik inilah Rest Area Travoy KM 725A hadir sebagai jeda yang menawarkan lebih dari sekadar tempat berhenti.

Begitu memasuki kawasan rest area, kesan pertama yang muncul adalah lapang. Area parkir yang luas memberi ruang bagi berbagai jenis kendaraan. Mulai dari mobil keluarga hingga bus dan truk logistik, untuk berhenti tanpa rasa sempit. Tidak tampak kebingungan dari para pengemudi. Semua seolah sudah memahami alur. Parkir, turun, lalu menyebar ke titik-titik kebutuhan masing-masing.

Ruang Transit yang Menjadi Ruang Hidup

20260417_100448.jpg
Mobil listrik yang sedang mengisi bahan bakar di SPKLU Rest Area Travoy KM 725A Tol Sumo. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Mobil-mobil kecil berderet rapi di dekat minimarket dan gerai makanan. Sebagian memilih posisi strategis di dekat toilet. Di sisi lain, kendaraan besar seperti bus pariwisata dan truk berhenti di zona tersendiri. Pembagian ruang ini bukan sekadar teknis, tetapi mencerminkan pengelolaan yang matang. Memberi kenyamanan tanpa saling mengganggu.

Di antara hiruk-pikuk itu, seorang pengemudi bernama Yopi tampak santai berdiri di samping mobil listriknya. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dari Jakarta menuju Surabaya. Seperti kebiasaan yang ia bangun, setiap menemukan rest area Travoy, ia memilih berhenti.

"Enak di sini. SPKLU-nya terawat, sebagian juga masih baru. Pengisiannya cepat,” ujarnya sambil sesekali melirik indikator baterai.

Di kawasan ini, fasilitas SPKLU PLN memang menjadi salah satu daya tarik utama. Tidak hanya satu titik, pengisian kendaraan listrik tersedia di dekat pintu masuk dan keluar, masing-masing dilengkapi dua hingga tiga dispenser. Letaknya yang berdekatan dengan area makan dan minimarket menjadikan waktu tunggu tidak terasa sia-sia.

Yopi tidak berlama-lama. Setelah memastikan baterai terisi penuh, ia bersiap melanjutkan perjalanan. Agenda berikutnya sudah menanti. Pertemuan bisnis di Surabaya. Namun sebelum itu, ia memastikan tubuhnya cukup segar untuk kembali berkendara.

Simfoni Perjalanan: Dari Sopir Truk hingga Peziarah

20260417_102149.jpg
Kondisi UMKM atau Pujasera di Rest Area Travoy KM 725 A Tol Sumo. IDN Times/Ardisansyah Fajar.

Di sisi lain rest area, suasana berbeda terlihat. Rombongan penumpang bus turun dengan langkah ringan. Sebagian adalah peziarah wali, sebagian lainnya rombongan wisata keluarga. Mereka bergerak cepat menuju deretan kios UMKM yang berjajar.

Aroma gorengan yang baru diangkat dari minyak panas menyebar di udara. Secangkir kopi panas menjadi teman istirahat yang sederhana namun cukup. Di sudut lain, beberapa sopir truk duduk santai, berbagi cerita perjalanan panjang yang mereka tempuh.

Percakapan mereka ringan, diselingi tawa. Tidak ada sekat antara penumpang, sopir, atau peziarah. Rest area menjadi ruang pertemuan sosial yang cair, tempat di mana perjalanan panjang menemukan jeda dalam bentuk kebersamaan.

Namun tidak semua memilih membeli makanan. Di bawah rindangnya pohon, beberapa keluarga menggelar bekal. Nasi dalam bungkus kertas minyak dibuka perlahan, lauk sederhana disusun, dan makan bersama pun dimulai. Botol air dingin berpindah tangan, menghapus dahaga di tengah cuaca panas.

Yang menarik, setelah selesai makan, mereka tidak kesulitan mencari tempat sampah. Di berbagai titik tersedia fasilitas pemilahan, termasuk tong khusus botol plastik dengan pesan Reduce, Reuse, Recycle.

Rest Area Berbasis Keberlanjutan

20260417_095754.jpg
Sampah botol yang disediakan di Rest Area KM 725 A Tol Sumo. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Upaya ini bukan kebetulan. Pengelolaan sampah di rest area ini merupakan bagian dari pendekatan keberlanjutan yang diusung oleh PT Jasamarga Surabaya Mojokerto.

Konsep ini mengacu pada prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), di mana aspek lingkungan menjadi perhatian utama. Selain pemilahan sampah plastik, tersedia pula sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memastikan limbah tidak mencemari lingkungan sekitar.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan krisis lingkungan, langkah kecil seperti pemisahan sampah di rest area menjadi penting. Ia tidak hanya berfungsi secara praktis, tetapi juga edukatif. Membentuk kebiasaan baru bagi masyarakat. Perubahan.

Rest area pun bertransformasi menjadi ruang edukasi publik yang tidak terasa menggurui. Pengunjung belajar melalui pengalaman langsung, bukan sekadar imbauan.

Oase Spiritual di Tengah Perjalanan dan Ramah Keluarga

20260417_095926.jpg
Masjid yang ada di salah satu suduh Rest Area Travoy KM 725 A Tol Sumo. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Tidak jauh dari area makan, berdiri sebuah bangunan putih dengan desain modern. Itulah Masjid Asy Syamsu Al Abadiyah. Tempat ibadah yang menjadi salah satu fasilitas unggulan.

Masjid ini diresmikan pada 22 Juli 2023 oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Arsitekturnya sederhana namun elegan, didominasi warna putih yang memberi kesan bersih dan tenang.

Di dalamnya, suasana terasa sejuk. Pendingin ruangan bekerja optimal, karpet tertata rapi, dan kebersihan terjaga. Norma, salah satu pengunjung, mengaku sengaja menyempatkan diri untuk salat sunah di sini.

"Adem banget. Bersih juga. Jadi bukan cuma berhenti makan, tapi bisa sekalian ibadah dengan nyaman,” katanya. Kehadiran masjid ini mempertegas bahwa rest area bukan lagi sekadar tempat transit, melainkan ruang pemulihan, baik secara fisik maupun spiritual.

Bagi keluarga yang membawa anak, tersedia pula area bermain. Playground ini menjadi magnet tersendiri. Anak-anak berlarian, tertawa, dan melepas energi setelah berjam-jam duduk di dalam kendaraan.

"Kalau ada playground begini, anak-anak jadi senang. Rasanya bukan cuma berhenti, tapi seperti mampir ke tempat wisata kecil,” tambah Norma.

Konsep ramah keluarga ini menjadi salah satu kekuatan utama Travoy Rest Area. Tidak hanya menyediakan fasilitas dasar, tetapi juga menghadirkan pengalaman. Orang tua bisa beristirahat, anak-anak bisa bermain, dan semua anggota keluarga mendapatkan ruangnya masing-masing.

Lalu Lintas Padat, Layanan Tetap Tertata

20260417_100810.jpg
Kondisi SPBU di Rest Area Travoy KM 725 A Tol Sumo. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Setiap hari, rata-rata 4.000 hingga 5.000 kendaraan masuk ke rest area ini. Angka tersebut meningkat signifikan saat akhir pekan atau libur keagamaan.

Namun tingginya trafik tidak lantas mengurangi kenyamanan. Sistem pengelolaan lalu lintas di dalam area, penempatan petugas keamanan, serta pembagian zona yang jelas membantu menjaga ketertiban.

Di bagian tengah, pos keamanan berdiri sebagai pusat pengawasan. Petugas tidak hanya berjaga di tempat, tetapi juga berpatroli secara berkala. Mereka dibagi tugas secara jelas. Menjaga objek vital, seperti dekat mesin ATM hingga pengisian bahan bakar.

Keamanan menjadi faktor penting, terutama bagi pengemudi yang beristirahat dalam waktu lama. Rasa aman membuat pengunjung bisa benar-benar melepas lelah tanpa kekhawatiran.

Travoy Apps: Asisten Digital Pengguna Jalan

Transformasi tidak hanya terjadi pada fasilitas fisik. Di sisi digital, pengguna jalan kini dimudahkan dengan kehadiran aplikasi Travoy. Aplikasi ini menjadi asisten perjalanan yang praktis. Pengguna dapat memantau kondisi lalu lintas secara real-time, menemukan lokasi rest area, hingga mengakses layanan darurat.

Yopi pun mengaku menggunakan aplikasi tersebut sepanjang perjalanan. Hal ini sangat beremafatat baginya. Karena dia tahu titik-titik rest rea yang ada tempat pengisian mobil listriknya atau SPKLU.

"Ya kami manfaatkan itu (Travoy Apps),” bebernya. “Travoy juga menyediakan informasi terkait fasilitas di setiap rest area, termasuk ketersediaan SPKLU, SPBU, hingga tempat makan,” tambah Yopi.

Dalam situasi darurat, pengguna dapat langsung menghubungi layanan bantuan jalan tol melalui fitur yang terintegrasi. “Menurut saya, keberadaan aplikasi ini memperkuat konsep rest area modern yang tidak hanya nyaman secara fisik, tetapi juga cerdas secara digital,” ungkapnya.

Antara Layanan Publik dan Logika Bisnis

20260417_102341.jpg
Pos pengamanan di Rest Area Travoy KM 725 A Tol Sumo. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Dosen dan Peneliti Kebijakan Publik Universitas Negeri Surabaya (Unesa)), Ahmad Nizar Hilmi--yang akrab disapa Nizar-menilai bahwa secara konkret, kehadiran rest area modern dan aplikasi Travoy memang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kalau dilihat dari hal yang paling konkret, Rest Area Travoy dan aplikasi Travoy memang memberi manfaat langsung bagi pengguna jalan. Orang bisa melihat lokasi rest area, fasilitas yang tersedia, kapasitas parkir, kondisi lalu lintas, tarif tol, bahkan pemantauan CCTV secara real time,” ujarnya.

Menurut Nizar, manfaat tersebut membuat perjalanan menjadi lebih aman, lebih terinformasi, dan lebih nyaman. Namun, ia mengingatkan bahwa analisis tidak boleh berhenti pada aspek kenyamanan semata.

“Dari perspektif kebijakan, kita tidak cukup berhenti di persoalan kenyamanan publik. Justru dari manfaat yang tampak sederhana itu, kita bisa melihat bahwa mobilitas publik sekarang semakin ditata melalui logika platform dan logika profit,” jelasnya.

Ia menilai, rest area kini berkembang bukan hanya sebagai tempat beristirahat, tetapi juga sebagai ruang ekonomi. Aktivitas konsumsi, pergerakan manusia, hingga pola singgah mulai terkelola dalam satu sistem yang terintegrasi.

“Rest area bukan lagi sekadar tempat istirahat, tetapi juga ruang untuk mengalirkan nilai ekonomi. Aplikasi bukan sekadar alat bantu, tetapi juga sarana pengelolaan arus manusia, perilaku, dan data,” tambahnya.

Dalam konteks ini, inovasi layanan publik seperti Travoy menghadirkan dua sisi sekaligus. Kemudahan bagi pengguna, sekaligus indikasi meningkatnya komodifikasi ruang publik.

Modernisasi yang Perlu Diawasi

Nizar menekankan bahwa ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari modernitas layanan. “Ukuran utama kita seharusnya bukan hanya apakah layanan ini modern, tetapi apakah ia benar-benar memperluas manfaat publik atau justru membuat publik makin menjadi objek pengelolaan bisnis,” tegasnya.

Ia juga mendorong adanya transparansi dari pemerintah dan pengelola jalan tol. Informasi mengenai siapa yang paling diuntungkan, bagaimana akses dijaga, serta bagaimana perlindungan bagi UMKM dan pengguna harus disampaikan secara terbuka.

“Pemerintah perlu memastikan bahwa data, akses, dan ruang mobilitas itu benar-benar digunakan untuk kepentingan publik, bukan semata akumulasi keuntungan,” katanya.

Selain itu, aspek perlindungan konsumen juga menjadi hal penting. Pengguna jalan perlu mendapatkan jaminan keamanan, baik dari sisi layanan maupun penggunaan data digital.

Dalam pandangan Nizar, perkembangan teknologi dalam layanan jalan tol memang patut diapresiasi sebagai bentuk modernisasi. Namun, pengawasan tetap diperlukan agar tidak bergeser menjadi komersialisasi berlebihan.

“Jangan sampai inovasi seperti ini membuat publik terbiasa menerima komersialisasi atas ruang yang semestinya melayani kepentingan umum,” katanya mengingatkan.

Lebih dari Sekadar Tempat Singgah

Copy of DJI_0760.JPG
Rest Area Travoy KM 725 A tampak dari udara. Dok. PT Jasamarga Tol Sumo for IDN Times.

Direktur Utama PT Jasamarga Surabaya Mojokerto, D. Hari Pratama, menegaskan bahwa Travoy bukan sekadar tempat singgah. Perjalanan panjang di jalan tol menuntut konsentrasi tinggi. Tanpa jeda yang cukup, risiko kelelahan meningkat.

Dalam konteks ini, rest area seperti Travoy menjadi bagian penting dari keselamatan berkendara. Pengguna jalan diimbau untuk beristirahat minimal setiap empat jam perjalanan. Selain itu, memastikan kondisi kendaraan, bahan bakar, dan saldo uang elektronik juga menjadi hal yang tidak kalah penting.

Kami ingin memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna jalan, tidak hanya nyaman, tetapi juga berkelanjutan,” ujarnya.

Pernyataan ini tercermin dari setiap sudut rest area. Dari kebersihan toilet, kenyamanan masjid, keberadaan UMKM, hingga fasilitas kendaraan listrik. Semuanya dirancang untuk meningkatkan pengalaman pengguna.

Rest area kini bukan lagi titik jeda yang monoton. Ia telah berkembang menjadi ruang hidup yang dinamis. Dan ketika mesin kembali dinyalakan, para pengemudi tidak hanya membawa kendaraan yang siap melaju, tetapi juga tubuh dan pikiran yang telah diperbarui.

20260417_134446_0000.png
Infografis Rest Area Travoy KM 725 A Tol Sumo. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More