Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Progres 19 Sekolah Rakyat di Jatim Tembus 75 Persen
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jatim, Restu Novi Widiani. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Pembangunan 19 gedung permanen Sekolah Rakyat di Jawa Timur telah mencapai rata-rata 75 persen dan ditargetkan siap beroperasi pada tahun ajaran baru Juli 2026.
  • Setiap sekolah akan menampung sekitar 270 siswa dari keluarga miskin kategori desil 1, dengan total lebih dari 5.000 anak yang akan mendapatkan akses pendidikan.
  • Pemprov Jatim fokus menuntaskan pembangunan dan mempersiapkan perpindahan siswa dari sekolah rintisan ke gedung permanen, dengan Banyuwangi menjadi daerah pertama yang siap beroperasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) memastikan pembangunan Sekolah Rakyat (SR) terus dikebut menjelang tahun ajaran baru 2026/2027. Hingga pertengahan Juni 2026, progres pembangunan 19 gedung permanen Sekolah Rakyat di berbagai daerah rata-rata telah mencapai 75 persen.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jatim, Restu Novi Widiani mengatakan, percepatan pembangunan dilakukan agar seluruh sekolah dapat mulai beroperasi sesuai target pemerintah pada Juli 2026. Meski demikian, pemerintah masih membuka kemungkinan penyesuaian hingga Agustus apabila terdapat pembangunan yang belum sepenuhnya rampung.

"Sekolah Rakyat sudah mulai berjalan. Saat ini pembangunan gedung permanen di 19 lokasi terus dipercepat dengan rata-rata progres sekitar 75 persen untuk menyongsong tahun ajaran baru," ujar Novi, Rabu (16/6/2026).

Sebanyak 19 gedung permanen tersebut dibangun di Banyuwangi, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Kota Kediri, Malang, Pacitan, Pasuruan, Trenggalek, Tuban, Kota Pasuruan, dan Kota Surabaya. Seluruh daerah saat ini mempercepat penyelesaian fisik bangunan sekaligus menyiapkan sarana penunjang operasional.

Menurut Novi, Pemprov Jatim bertugas melakukan monitoring pembangunan, sedangkan pelaksanaan program sepenuhnya mengikuti skema yang ditetapkan Kementerian Sosial.

Seiring progres pembangunan, proses rekrutmen peserta didik juga mulai berjalan. Setiap sekolah permanen akan menampung 270 siswa yang terdiri atas tiga rombongan belajar jenjang SD, tiga SMP, dan tiga SMA. Dengan kapasitas tersebut, sebanyak 19 sekolah permanen diproyeksikan mampu melayani lebih dari 5.000 anak dari keluarga miskin.

"Beberapa daerah yang sebelumnya belum memiliki sekolah rintisan kini mulai melakukan rekrutmen siswa untuk mengisi kuota sekolah permanen," katanya.

Pemprov juga memastikan proses perpindahan siswa dari sekolah rintisan ke gedung permanen telah disiapkan. Namun, sebagian besar sekolah rintisan masih akan tetap beroperasi hingga ada kebijakan lanjutan dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Banyuwangi menjadi daerah pertama yang siap memindahkan kegiatan belajar mengajar ke gedung permanen karena fasilitasnya telah tersedia. "Yang sudah bisa langsung berpindah ke bangunan permanen saat ini adalah Banyuwangi karena fasilitasnya sudah siap," kata Novi.

Ia menegaskan, penerimaan peserta didik Sekolah Rakyat tidak dibuka untuk umum. Seluruh calon siswa berasal dari keluarga miskin kategori desil 1 yang telah melalui proses verifikasi dan validasi pemerintah. Program ini diprioritaskan bagi anak-anak yang putus sekolah maupun yang berisiko putus sekolah agar kembali memperoleh akses pendidikan.

Nantinya, dengan beroperasinya 19 sekolah permanen, kapasitas layanan Sekolah Rakyat di Jawa Timur diperkirakan meningkat signifikan dan melengkapi sekitar 2.450 siswa yang telah mengikuti program pada tahap awal.

Pemprov Jatim menegaskan fokus utama saat ini adalah menuntaskan pembangunan seluruh fasilitas permanen agar kegiatan belajar mengajar dapat dimulai tepat waktu sebelum mempertimbangkan pembukaan sekolah rintisan baru di daerah lainnya.

Editorial Team

Related Article