Ngawi, IDN Times – Di tengah melambungnya harga cabai rawit saat ini, petani di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, justru harus menelan pil pahit. Salah satunya tanaman cabai siap panen milik Parin (45), warga Desa Dadapan, Kecamatan Kendal, rusak akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut dalam sepekan terakhir.
Petani Cabai Ngawi Terpuruk di Tengah Melonjaknya Harga

1. Imbas cuaca ekstrim
Seperti inilah kondisi tanaman cabai di lahan seluas 5000 meter persegi milik Parin tampak busuk dan mengering. Berbagai upaya penyelamatan sudah dilakukan, mulai dari penyemprotan hingga pemberian pupuk, namun hasilnya nihil. Cuaca yang tak menentu diduga menjadi penyebab utama kerusakan tanaman ini.
"Ini setengah hektar yang rusak seperempat sendiri. Harga memang tinggi, tapi kalau kondisinya seperti ini, balik modal saja sudah alhamdulillah. Seluruh petani di sini 60 persen tanamannya rusak, susah diobati," keluh Parin, Jumat (17/1/2025).
2. Petani sulit kembalikan modal
Dari luas lahan tersebut, Parin hanya mampu memanen sekitar 50 kilogram cabai. Padahal, harga cabai di tingkat petani saat ini cukup tinggi, berkisar Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram, meski sebelumnya sempat menyentuh Rp90.000. Sayangnya, tingginya harga tidak mampu menutup biaya produksi yang membengkak akibat kerusakan tanaman.
"Sudah delapan kali panen, sekali panen cuma 50 kilogram. Harga jual kemarin Rp90 ribu, sekarang Rp80 ribu sampai Rp85 ribu. Tapi belum balik modal, Mas, karena banyak yang rusak begini," ujar Titik Widayati, istri Parin.
3. Petani mengaku pasrah
Kondisi serupa juga dialami oleh mayoritas petani cabai di Kecamatan Kendal. Sekitar 60 persen lahan cabai mereka rusak akibat cuaca yang tak bersahabat. Kini, Parin dan petani lainnya hanya bisa pasrah dengan mengumpulkan sisa cabai yang masih bisa dipetik untuk dijual ke tengkulak.
Cuaca ekstrem menjadi tantangan besar bagi petani, terutama saat harga komoditas sedang tinggi. Tanpa solusi nyata, para petani terancam terus merugi meski harga cabai melambung di pasaran.