Probolinggo, IDN Times - Pusaran angin bercampur pasir muncul di kawasan Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (4/7/2025). Badan Meteorologi Klimatologi dan Klimatologi (BMKG) Juanda pun memberi penjelasan mengenai fenomena ini.
Berdasarkan video yang beredar, terlihat pusaran angin bercampur pasir itu nampak berputar-putar. Ketinggian pusaran sekitar lebih dari 20 meter.
Di antara pusaran, terlihat aktivitas pariwisata masih berjalan seperti biasa.
Berdasarkan postingan Instagram BMKG Juanda, fenomena Dust Devil, yakni pusaran udara kecil namun kuat yang terjadi saat udara kering yang sangat panas dan tidak stabil di permukaan tanah naik dengan cepat melalui udara yang lebih dingin di atasnya, membentuk aliran udara ke atas berupa pusaran dan membawa debu, serpihan, atau puing-puing di sekitarnya (NOAA).
Penyebabnya yakni pemanasan matahari pada permukaan tanah yang cukup intensif, jumlah tutupan awan yang sangat sedikit (cuaca cerah), banyak debu dan pasir di permukaan tanah, kelembaban rendah dan permukaan tanah yang kering.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi mengatakan, fenomena ini tidak berbahaya. Hal tersebut sering terjadi saat musim kemarau.
"(Masyarakat) tidak perlu khawatir karena memang tidak berbahaya, dan biasa sering terjadi di musim kemarau," ucapnya kepada IDN Times, Minggu (5/7/2026).
Di samping itu, durasi pusaran angin ini juga tidak lama. Di Bromo, biasanya pusaran akan berlangsung sekitar 1-2 menit.
"Itu hanya sesaat, biasanya untuk ukuran seperti di bromo berkisar 1-2 menit," kata dia.
Meski tidak lama, pusaran ini juga bisa bergerak. Terapi, hal tersebut bergantung pada gerakan angin. "Tergantung pergerakan anginnya, cenderungnya akan bergerak tetapi tidak jauh radiusnya," pungkas dia.
