Minyak Naik, UMKM Ini Justru Untung Berkat Goreng Pakai Pasir

- UMKM krupuk upil di Magetan berinovasi menggoreng dengan pasir sebagai pengganti minyak, membuat produk lebih renyah dan hemat biaya produksi.
- Metode goreng pasir memungkinkan produksi hingga 2.000 bungkus per hari dengan efisiensi tinggi, bahkan pemasaran sudah menjangkau wilayah Madiun.
- Usaha ini memberdayakan 15 ibu rumah tangga sekitar dan mencatat omzet harian dua digit meski menghadapi kenaikan harga kemasan plastik.
Magetan, IDN Times – Kenaikan harga minyak goreng yang dikeluhkan banyak pelaku usaha ternyata tak selalu berujung kerugian. Di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, sebuah UMKM krupuk upil justru menemukan cara unik untuk tetap bertahan bahkan meraup keuntungan dengan mengganti minyak goreng menggunakan pasir.
Usaha yang dirintis sejak 2022 ini membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa menjadi solusi di tengah tekanan biaya produksi. Tak hanya lebih hemat, metode ini juga menghasilkan kualitas krupuk lebih sehat yang tak kalah dengan cara konvensional.
1. Goreng pakai pasir, lebih hemat dan renyah

Alih-alih menggunakan minyak goreng yang harganya terus melonjak, pelaku usaha memilih metode penggorengan dengan pasir. Selain menekan biaya produksi, cara ini justru membuat krupuk lebih renyah dan tidak berminyak. “Kalau pakai pasir ini jauh lebih hemat, hasilnya juga lebih renyah dan tidak berminyak,” ujar Rohman, pemilik usaha, Rabu (22/4/2026).
Pasir yang digunakan pun bukan sembarangan, melainkan didatangkan khusus dari Blitar dengan kualitas tertentu agar aman untuk proses produksi makanan.
2. Produksi tembus 2.000 bungkus per hari

Dengan metode tersebut, usaha ini mampu memproduksi hingga 2.000 bungkus krupuk upil setiap harinya. Produk ini pun sudah dipasarkan ke berbagai wilayah di Karisidenan Madiun. “Sehari bisa sampai dua ribu bungkus, pemasaran sudah ke wilayah Madiun dan sekitarnya,” jelasnya.
Efisiensinya juga terlihat dari penggunaan pasir 10 kilogram pasir bisa dipakai hingga 10 hari, jauh lebih hemat dibandingkan minyak goreng.
3. Berdayakan ibu rumah tangga, omzet tembus dua digit

Tak hanya soal keuntungan, usaha ini juga memberi dampak sosial bagi warga sekitar. Sedikitnya 15 pekerja, yang mayoritas ibu rumah tangga, terlibat dalam proses produksi hingga pengemasan. “Kami juga melibatkan warga sekitar, terutama ibu-ibu rumah tangga, supaya ikut merasakan manfaatnya,” kata Rohman.
Meski masih menghadapi tantangan seperti kenaikan harga kemasan plastik, pelaku usaha menyiasatinya dengan mengurangi isi per bungkus tanpa menurunkan kualitas. “Kalau kemasan naik, kami siasati dengan isi sedikit dikurangi, tapi kualitas tetap dijaga,” tambahnya.
Hasilnya, omzet harian yang didapat cukup memuaskan. Meski tidak mau menyebut angka pasti, Rohman menyebut angkanya sudah mencapai dua digit

















