Merajut Kembali Jiwa yang Sunyi Lewat Simfoni Kidung Tanggulangin

Program Simfoni Kidung Tanggulangin di Desa Ganggangpanjang memberdayakan 10 penyandang disabilitas mental melalui kerajinan, pertanian, dan produk herbal sebagai terapi untuk mengurangi melamun serta mendukung pemulihan.
Kecamatan Tanggulangin mencatat 246 orang dengan masalah kesehatan jiwa; Ganggangpanjang menjadi pusat kegiatan karena memiliki 27 penyandang, jumlah tertinggi di antara 18 desa.
Program CSR Pertagas OEJA berkembang dari dana sosial pengelolaan limbah menjadi dukungan alat produksi dan konseling psikolog, melibatkan kader, akademisi, masyarakat, serta pemerintah dalam rehabilitasi sosial.
Sidoarjo, IDN Times - Desa Ganggangpanjang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur sunyi siang itu, Rabu (26/8/2026). Beberapa orang berkumpul di sebuah pendopo kecil yang mereka namai Pendopo Sehati Poskesdes. Tempat tersebut bukan sekedar pusat kesehatan desa, lebih dari itu ada beberapa orang yang jiwanya pernah redup diajak kembali menyalakan api.
Di antaranya ada Wiwik Handayani (38) yang fokus menyuir-nyuir tali rafia menggunakan sebatang jarum pentul. Dikerjakan bersama beberapa orang lainnya dibantu kader, rumbai-rumbai tali rafia itu akan disulap menjadi sebuah sulak. Sembari itu Wiwik sesekali tersenyum, menjawab pertanyaan siapa saja yang mengajaknya bicara.
Itu lah keseharian Wiwik agar tidak melamun sepanjang hari di rumah. Di samping meminum obat penenang setiap pagi dan malam, membuat kemoceng dan prakarya lainnya di pendopo bersama teman-teman senasib adalah cara Wiwik untuk mengusir suara-suara aneh di pikiran. “Ini membuat kemoceng, baru jadi satu dari jam 1 siang, lumayan (gampang), seneng membuat kemoceng dari pada keset,” ujar Wiwik.
Jiwanya terkadang memang tidak stabil, tapi di balik itu semua ia ingin sekali seperti kebanyakan orang, bekerja dan hidup tenang. “Pengin kerja di pabrik, terserah bagian apa pokoknya kerja di pabrik,” ungkap dia.
Beberapa jengkal dari Wiwik duduk, ada Siti Hajar (48) yang sibuk menyulam kain percah sampai menjadi sebuah keset. Ia tak banyak bicara, matanya hanya fokus pada pekerjaan itu. “Lagi buat keset, enggak kesulitan, seneng buat begini,” kata Siti.
Bagi sebagian orang, membuat keset dan kemoceng adalah hal biasa. Tapi yang dilakukan Wiwik, Siti dan 8 orang lainnya di pendopo itu adalah terapi. Ini cara mereka mencari hidup di tengah kesunyian jiwa.
Di Kecamatan Tanggulangin, kesehatan jiwa adalah persoalan serius. Sampai saat ini orang-orang seperti Wiwik jumlahnya mencapai 246 orang.
Lewat rangkulan tangan Abu Amar, Ketua Kader Kesehatan Jiwa (Keswa) Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo dibantu PT Pertamina Gas (Pertagas) Operation East Java Area (OEJA) melalui program Simfoni Kidung Tanggulangin, orang-orang seperti Wiwik digandeng. Program yang ditujukan untuk menciptakan lingkungan sosial yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas mental itu mereka diberdayakan, diajak untuk kembali pulih.
“Untuk mengurangi melamun, kita ada kegiatan kayak gini, kader kita latih, kader bisa, baru pasien yang kita bina,” ungkap Umar. Posyandu Kesehatan Jiwa dan Kader Keswa dibentuk 2019 lalu, dan mulai efektif 2022.
Kegiatan yang bisa diikuti mulai dari membuat kemoceng, keset, menanam, hingga membuat minuman herbal. Hasilnya akan dijual ke masyarakat umum. “Ada yang kambuh, kita berhentikan dulu, kalau sudah stabil kita laksanakan, kadang kita laksanakan di rumah masing-masing,” ucapnya.
Community Development Officer PT Pertagas OEJA, Al Rasyid Anggi Satrya mengatakan, Simfoni Kidung Tanggulangin berawal dari program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Pertagas OEJA dengan nama Kidung Tanggulangin atau Kegiatan Melindungi mayarakat rentan dan pelestarian lingkungan di Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin. Awalnya kegiatan ini berupa pengelolaan limbah rumah tangga mulai minyak jelantah, sampah organik hingga organik.
Hasil pengelolaan kegiatan tersebut kemudian dikumpulkan menghasilkan dana sosial. Dana itu diberikan kepada kelompok rentan seperti pasien keswa, janda hingga orang miskin.
Seiring waktu, perusahaan menilai bahwa selain dana sosial, para keswa juga butuh bantuan non-materil agar mereka lekas pulih. Kemudian, terbesit ide untuk memberi meraka kegiatan sebagai bagian dari proses terapi mental. Program pun bertransformasi menjadi Simfoni Kidung Tanggulangin.
“Awalnya teman-teman pasien keswa ini menjadi objek penerimaan dana sosial. Tapi lebih dari itu ternyata mereka juga bisa melakukan kegiatan perlindungan lingkungan untuk menyalurkan energi mereka sendiri dan juga membuat manfaat kepada lingkungan sekitar,” sebutnya.
Dari 18 Desa di Kecamatan Tanggulangi, Desa Ganggangpanjang adalah wilayah dengan jumlah penyandang masalah mental terbanyak, yakni 27 orang. Tingkat keparahannya pun beragam. Dari situlah, Desa Ganggangpanjang dipilih menjadi pusat kegiatan Simfoni Kidung Tanggulangin. “Kita libatkan 10 dari Desa Ganggangajang dan Desa Randegan melakukan terapi lingkungan di Pendopo Sehati,” sebutnya.
Di samping itu, PT Pertagas juga turut membantu pengadaan alat produksi, mulai dari alat untuk pembuatan teh bunga telang, kompos dan lain sebagainya. “Terus juga di tahun 2025 kemarin kami ada konseling, kerja sama dengan akademisi lebih tepatnya Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya). Jadi kita datangkan psikolog untuk memonitoring secara psikologi klinis bagaimana perkembangan teman-teman keswa ini,” tuturnya.
Pelan-pelan kegiatan yang awalnya untuk mengatasi masalah sosial di Desa Ganggangpanjang berkembang menjadi pemberdayaan pengelolaan lingkungan dan pangan bernama Cita Sembada. Sebuah program pemberdayaan swasembada pangan desa agar mandiri dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani mengapresiasi langka Abu Amar dan PT Pertagas OEJA untuk mengentaskan masalah kesehatan mental di masyarakat. Persoalan kesehatan jiwa tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah saja. Pemerintah memiliki kewajiban dan tanggung jawab pelayanan, tetapi keberhasilan rehabilitasi dan reintegrasi sosial sangat dipengaruhi oleh keluarga, masyarakat, dunia usaha, lembaga sosial dan seluruh ekosistem sosial.
“Namun demikian, keterlibatan pihak lain harus tetap memenuhi beberapa prinsip tidak melakukan tindakan diskriminatif atau kekerasan, penghormati martabat dan hak ODGJ, dan tidak menjadikan ODGJ sebagai objek eksploitasi,” ujarnya.
Novi memaparkan bahwa, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Jawa Timur memiliki estimasi 50.588 orang yang berada dalam rumah tangga dengan anggota rumah tangga yang mengalami gangguan jiwa psikosis atau skizofrenia berdasarkan gejala dan diagnosis. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada 2025 persentase penyandang gangguan jiwa yang memperoleh layanan di fasilitas kesehatan di Jawa Timur tercatat 54 persen berdasarkan Simkeswa per 31 Desember 2025.
“Hal ini menunjukkan bahwa penanganan kesehatan jiwa memang membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor,” ungkap dia.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi membantu para penyandang masalah mental, mulai dari melakukan asesmen, intervensi kebutuhan, melakukan rehabilitasi, pemberdayaan hingga memberikan fasilitas kesehatan.
Saat ini terdapat 1.025 ODGJ yang berada dalam layanan unit pelaksana teknis (UPT) milik Pemprov Jatim. Dari jumlah tersebut, 690 jiwa berada di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Laras (RSBL) Dinsos Jatim dan 335 jiwa ada di Balai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
Untuk itu, pemerintah sangat terbuka dan mendorong keterlibatan dunia usaha melalui CSR, sepanjang pelaksanaannya sesuai ketentuan, kebutuhan layanan, prinsip perlindungan dan kepentingan terbaik bagi penerima manfaat. Prinsipnya, CSR bukan menggantikan kewajiban pemerintah, tetapi menjadi sumber daya tambahan untuk memperluas kualitas dan jangkauan pelayanan.
“Bentuk kolaborasinya dapat berupa, dukungan sarana dan prasarana rehabilitasi, bantuan kebutuhan dasar, dukungan alat bantu dan perlengkapan, pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, kegiatan produktif bagi ODGJ yang telah stabil, pengurangan stigma dan dukungan terhadap kegiatan rehabilitasi dan reintegrasi sosial,” pungkas dia.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)










![[OPINI] Makna di Balik Pertemuan Prabowo dan Megawati](https://image.idntimes.com/post/20250603/img-20250603-wa0033-copy-3053x2239-31cec6e8cf59367b783d262865bca253.jpg)








