Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengeja Film Na Willa bersama Farida dari Krembangan Surabaya

Mengeja Film Na Willa bersama Farida dari Krembangan Surabaya
Potret Jalan Krembangan Bhakti XI Surabaya (IDN Times/Thoriq Achmad D A)
Intinya Sih
  • Film Na Willa membuat Kampung Krembangan Bhakti XI di Surabaya ramai dikunjungi karena menjadi latar kisah masa kecil Reda Gaudiamo dan teman-temannya.
  • Farida atau Umi Ida, sahabat masa kecil Reda, masih tinggal di gang tersebut dan membenarkan banyak adegan film berasal dari kejadian nyata di masa lalu mereka.
  • Viralnya film ini membawa dampak positif bagi warga, hingga Walikota Surabaya dijadwalkan berkunjung untuk membahas potensi wisata tematik dan program Kampung Pancasila.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Setelah naiknya popularitas Film Na Willa, perkampungan di wilayah Krembangan Bhakti XI, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Krembangan, Surabaya, kini mulai sering dikunjungi banyak orang. Na Willa tidak hanya menceritakan masa kecil Na Willa alias Reda Gaudiamo yang jenaka dan lucu. Film tersebut juga menghadirkan cerita yang edukatif sekaligus membuat bernostalgia, karena latar tempatnya ternyata benar-benar ada di Surabaya.

Yang mengejutkan, Farida, teman masa kecil Na Willa, ternyata masih tinggal di Gang Krembangan. Tepatnya di Jalan Krembangan Bhakti XI. IDN Times berkesempatan untuk bertemu dan berbincang secara langsung dengan Farida yang lebih dikenal dengan Umi Ida di kediamannya pada Selasa (14/4/2026).

Nostalgia masa kecil Farida di Gang Krembangan

Sosok Umi Ida, atau Farida, teman masa kecil Na Willa
Sosok Umi Ida, atau Farida, teman masa kecil Na Willa (IDN Times/Thoriq Achmad D A)

Ketika IDN Times tiba di Jalan Krembangan Bhakti XI, Ketua RT, Nanang menyambut hangat dan mengantar bertemu nara sumber kunci yakni Umi Ida (66 tahun) sapaan akrab Farida. Tidak jauh dari rumah Nanang, kediaman Umi Ida berjarak sekitar 100 meter dari pintu masuk gang. Rumahnya juga unik, karena cukup besar dengan bangunan dan sofa yang serba merah muda.

Mengenakan pakaian yang juga serba merah muda, Umi Ida menceritakan momen ketika ia bertemu kembali dengan Reda pada 2023 silam. Cerita tersebut dipenuhi gelagat tawa, karena Umi Ida dan Reda tidak pernah bertemu lagi selama puluhan tahun. Perpisahan yang lumayan lama juga membuat Umi Ida sempat lupa dengan wajah Reda.

"Waktu Linda (nama kecil Reda Gaudiamo) datang ke sini, dia kaget, kok rumah ini masih ada, kok segede ini. Apa Farida masih ada apa nggak?" ujar Umi Ida menceritakan.

Umi Ida juga menjelaskan bahwa cerita-cerita yang ada di film Na Willa itu benar-benar ada. Salah satunya momen ketika Na Willa ikut Farida mengaji dan diam-diam mengambil kain yang dijemur Mbok untuk ikut Salat. Namun, rumah tersebut kini sudah berpindah pemilik, sebagaimana rumah Reda sendiri yang telah dihuni oleh pemilik kesekian sejak ia pindah.

Geng Krembangan yang terdiri dari Na Willa, Dul, Farida, dan Bud, juga sering bermain di halaman rumah Farida yang kini menjadi pelataran tempat kami berbincang dengan Umi Ida. Sebagaimana yang dijelaskan Umi Ida dan Nanang, dulu area ini adalah halaman yang luas, sebelum kemudian dibangun oleh paman dari Umi Ida yang merupakan pemuka agama di Tropodo Sidoarjo.

"Dulu aslinya ini rumah lama, di depannya ada pohon mangga, dan nggak seperti ini. Nah, ini dibangun oleh pamannya dia, namanya Gus Ali,” jelas Nanang.

Adegan ketika Dul yang tertabrak kereta ketika bermain di rel juga dikonfirmasi oleh Umi Ida. Karena kejadian itu, salah satu kaki Dul terpaksa untuk diamputasi. Dul sendiri memiliki nama lengkap Abdul Rasyid dan merupakan teman dekat Nanang sejak kecil.

"Rumahnya di situ,” ujar Nanang menunjukkan lokasinya tidak jauh dari kediamannya sekarang. "Kakinya (yang diamputasi) juga dikuburkan di gang kecil situ."

Ketika menceritakan tentang Dul, Nanang dan Umi Ida menjelaskan bahwa kaki Dul yang harus diamputasi tidak hanya hingga lutut, tetapi juga termasuk bagian paha. Mereka menjelaskan bahwa apa yang diceritakan di film berbeda dengan kisah asli kaki Dul tersebut.

Namun, Umi Ida mengaku ia lupa dengan sosok Bud yang juga turut mewarnai cerita-cerita Geng Krembangan yang jenaka. Meskipun demikian, ia juga menyampaikan barangkali ia akan bisa mengingat sosok Bud ketika melihat secara langsung, sebagaimana ia pertama kali bertemu Reda.

Setelah berbincang-bincang, kami dipandu Nanang untuk melihat-lihat lokasi yang menjadi latar cerita di film Na Willa. Nanang menunjukkan tangga di dekat gang yang langsung terhubung dengan rel kereta api. Ia juga mengajak kami mengunjungi TK Juwita, tempat sekolah Na Willa, dan bekas sekolah Farida di Jalan Krembangan Masigit.

Na Willa yang membawa keberkahan bagi kampung Krembangan Bhakti

TK Juwita, tempat sekolah Na Willa, yang berada di Jalan Masigit, Surabaya
TK Juwita, tempat sekolah Na Willa, yang berada di Jalan Masigit, Surabaya (IDN Times/Thoriq Achmad D A)

Naiknya animo penonton Na Willa dari berbagai penjuru tanah air tidak hanya tampak hingga beberapa hari setelah penayangan hari pertama di bioskop. Beberapa hari sebelum lebaran, film Na Willa bahkan sudah ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Film ini menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu untuk ditonton bersama keluarga pada libur lebaran Maret lalu.

Di sisi lain, Umi Ida mengaku ia tidak tahu-menahu soal film Na Willa ini. Ia juga tidak menyangka film Na Willa yang menceritakan masa kecilnya dengan teman-teman di Gang Krembangan tiba-tiba tayang di bioskop dan menggemparkan jagat sinema tanah air.

"Dengan kehadiran filmnya, saya ikut senang sih, Mbak. Ya, membanggakan di kampung ini, mengharumkan Surabaya dan kampung Krembangan Bhakti,” kesan Umi Ida.

Viralnya Gang Krembangan semenjak film Na Willa tayang membawa dampak tersendiri bagi warga kampung Krembangan Bhakti. Potensi kampung Krembangan Bhakti sebagai destinasi wisata tematik baru di Surabaya juga sudah mulai dibicarakan banyak pihak. Hal ini mulai tampak dari banner bertuliskan “Kampung Na Willa: Bertemunya Kembali Na Willa dengan Farida” yang terpampang di pintu masuk Jalan Krembangan Bhakti XI.

Pada hari Kamis (16/4/2026) besok, Nanang menjelaskan bahwa akan ada kunjungan dari Walikota Kota Surabaya, Eri Cahyadi, ke kampung Krembangan Bhakti. Kunjungan ini disebutkan akan membahas terkait program Kampung Pancasila sekaligus merayakan momentum film Na Willa.

"Tujuannya (kunjungan walikota) itu (membicarakan) Kampung Pancasila sekalian tanya jawab mengenai Na Willa ini,” tutur Nanang.

Meskipun potensi wisata tematik itu mulai dibicarakan, Nanang mengaku belum ada kesempatan untuk membicarakan rencana wisata tematik ini ke depannya. Ia menjelaskan bahwa butuh dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak untuk mewujudkan rencana positif tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More