Sebuah manuskrip menyimpan petunjuk tentang hubungan keilmuan Syekh Yusuf Al-Makassari dengan seorang ulama dari Karanggayam, Mojokerto. Jejak yang belum banyak terungkap ini membuka potensi adanya mata rantai intelektual antara ulama dari Makassar dan tradisi Islam di Jawa Timur.
Menelusuri Potongan Sejarah Ulama Syekh Yusuf di Bumi Majapahit

Manuskrip menyebut ulama Karanggayam, Mojokerto, memiliki sanad Tarekat Syattariyah kepada Syekh Yusuf Al-Makassari, tetapi identitas tokoh dan susunan jalurnya masih perlu ditelusuri.
Syekh Yusuf, ulama sufi asal Gowa, membangun jaringan keilmuan lintas Nusantara dan dunia pada abad ke-17, serta melawan kolonialisme Belanda hingga diasingkan ke Afrika Selatan.
Penelitian manuskrip, digitalisasi, dan kolaborasi berbagai pihak diperlukan untuk mengungkap hubungan Mojokerto dengan jaringan Syekh Yusuf serta mendokumentasikan warisan intelektual lokal.
Mojokerto, IDN Times - Sejarah terkadang menyimpan cerita besar dalam potongan yang sangat kecil. Bukan selalu berupa bangunan tua, prasasti, atau makam yang ramai diziarahi. Ada kalanya, jejak masa lalu justru bersembunyi di antara baris-baris tulisan dalam sebuah manuskrip yang telah berusia ratusan tahun.
Salah satu petunjuk itu mengarah ke Karanggayam, Mojokerto, Jawa Timur. Di tempat ini, seorang ulama lokal disebut memiliki hubungan keilmuan dengan Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama sufi asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang pengaruhnya menjangkau berbagai kawasan dunia.
Hubungan itu bukan berupa catatan perjalanan fisik Syekh Yusuf ke Mojokerto, melainkan jejak sanad Tarekat Syattariyah yang menghubungkan seorang ulama Karanggayam dengan dirinya. Informasi itu disampaikan Peneliti Ulama Nusantara, KH Ahmad Kholili Kholil. Menurutnya, dalam salah satu manuskrip terdapat keterangan bahwa seorang ulama dari Karanggayam merupakan pengikut Tarekat Syattariyah yang memiliki sanad kepada Syekh Yusuf Al-Makassari.
Sekilas, keterangan tersebut mungkin hanya tampak sebagai catatan kecil dalam sejarah panjang perkembangan Islam di Nusantara. Namun, di baliknya tersimpan pertanyaan yang menarik untuk ditelusuri.
Siapa ulama Karanggayam itu? Bagaimana jalur keilmuannya terhubung dengan Syekh Yusuf? Melalui siapa ajaran tersebut sampai ke Mojokerto? Apakah warisan keilmuannya masih dapat ditemukan dalam tradisi masyarakat setempat?
Jawaban atas pertanyaan itu belum sepenuhnya terungkap. Identitas ulama, keberadaan manuskrip, serta susunan sanadnya masih membutuhkan penelusuran lebih jauh. Namun, petunjuk yang ada setidaknya membuka jendela untuk melihat kemungkinan lain dalam sejarah Mojokerto. Bahwa wilayah ini pernah terhubung dengan jaringan intelektual Islam yang melintasi pulau dan negara.
Dari Gowa, pengetahuan menyeberangi samudra
Nama Syekh Yusuf Al-Makassari tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah Islam Nusantara. Lahir di Gowa pada 3 Juli 1626, ia dikenal sebagai ulama, ahli tasawuf, pengamal tarekat, sekaligus tokoh perjuangan yang pengaruhnya melampaui tanah kelahirannya.
Nama lengkapnya Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari. Sepanjang hidupnya, ia melakukan pengembaraan intelektual ke sejumlah pusat keilmuan Islam. Perjalanannya mencakup Makassar, Aceh, Surat, Zabid, Makkah, Jeddah, Madinah, Damaskus, Aleppo, Yerusalem, hingga Lahore.
Rute tersebut menggambarkan luasnya ruang perjumpaan seorang ulama Nusantara pada abad ke-17. Syekh Yusuf mendatangi berbagai wilayah untuk berguru, memperdalam pengetahuan agama, dan membangun hubungan dengan ulama dari latar belakang berbeda.
Ia bukan sekadar pengelana yang berpindah dari satu negeri ke negeri lain. Perjalanannya merupakan perjalanan pengetahuan. Ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai bekal pribadi, tetapi kemudian diajarkan dan diteruskan kepada murid-muridnya.
Peneliti Ulama Nusantara, KH Ahmad Kholili Kholil menyebut, jaringan intelektual Syekh Yusuf terbentang luas, mulai dari Damaskus, Cape Town, Makkah, Madinah, Teheran, hingga berbagai wilayah Nusantara. Bahkan, jejak pemikirannya dapat ditemukan dalam koleksi manuskrip yang tersimpan di sejumlah lembaga dan perpustakaan dunia.
Kholili bilang, Syekh Yusuf memiliki banyak murid, tidak hanya dari Nusantara, tetapi juga dari Timur Tengah. Dua di antaranya adalah Abdul Qadir As-Sofuri dan Hasan bin Rajab dari Damaskus.
“Syekh Yusuf adalah pribadi yang sangat berintegritas. Beliau adalah orang yang berprinsip. Bagaimana beliau menjadikan ketokohannya sebagai wadah perjuangan agama, lalu kemudian membangun jaringan yang sangat kosmopolitan,” kata Kholili di sela acara diskusi temu narasi 400 tahun Syekh Yusuf Al Makassari di Trowulan, Mojokerto, Jumat 16 September 2026 lalu.
Kata kosmopolitan menjadi penting untuk memahami perjalanan Syekh Yusuf. Ia menunjukkan bahwa seorang ulama yang lahir di Nusantara dapat menjadi bagian dari percakapan intelektual dunia. Ia belajar dari berbagai tradisi keilmuan, menjalin hubungan lintas wilayah, dan meninggalkan pengaruh yang diteruskan oleh generasi setelahnya.
Di sinilah petunjuk dari Karanggayam memperoleh maknanya. Jika hubungan sanad dapat dibuktikan, maka Mojokerto bukan sekadar tempat yang kebetulan disebut dalam sebuah catatan. Wilayah ini berpeluang menjadi salah satu simpul dalam jaringan transmisi keilmuan yang pernah dibangun atau dipengaruhi Syekh Yusuf.
Jarak antara Gowa dan Mojokerto memang tidak dekat. Pada abad ke-17, perjalanan antarpulau dan antarnegara bukan perkara sederhana. Kapal, jalur perdagangan, perjalanan ibadah, dan hubungan antarpesantren menjadi bagian dari ruang perjumpaan masyarakat.
Namun, pengetahuan tidak selalu bergerak bersama kehadiran fisik gurunya. Sebuah ajaran dapat diteruskan oleh murid, kemudian dipelajari kembali oleh murid dari generasi berikutnya. Dari mata rantai itulah hubungan keilmuan dapat menjangkau wilayah yang sangat jauh.
Karena itu, sanad menjadi kunci untuk memahami petunjuk sejarah dari Karanggayam.
Membaca jejak melalui sanad
Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad merupakan mata rantai transmisi pengetahuan dari seorang guru kepada muridnya. Melalui sanad, seseorang dapat mengetahui dari siapa seorang ulama memperoleh ilmu dan bagaimana pengetahuan tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dalam tradisi tarekat, sanad juga memiliki kedudukan penting karena berkaitan dengan kesinambungan bimbingan spiritual. Seorang murid menerima ajaran dan tuntunan dari gurunya, kemudian meneruskannya kepada orang lain.
Tarekat Syattariyah sendiri merupakan salah satu tradisi tarekat dalam dunia Islam. Keberadaannya di Nusantara menjadi bagian dari perkembangan tasawuf yang tumbuh melalui hubungan ulama, perjalanan keilmuan, serta pengajaran di berbagai wilayah.
Apabila seorang ulama Karanggayam memiliki sanad Syattariyah yang terhubung dengan Syekh Yusuf, hubungan itu dapat menjadi petunjuk penting mengenai persebaran tradisi keilmuan tersebut di Mojokerto.
Tasawuf yang menolak kezaliman
Perjalanan Syekh Yusuf tidak hanya berkaitan dengan pengembaraan ilmu dan pengembangan tarekat. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme.
Setelah kembali ke Nusantara, Syekh Yusuf memiliki hubungan dengan lingkungan Kesultanan Banten. Ia kemudian terlibat dalam perjuangan melawan kekuasaan kolonial Belanda. Perlawanan tersebut membuatnya ditangkap dan menjalani pengasingan hingga ke wilayah yang kini dikenal sebagai Afrika Selatan. Ia wafat di Cape Town pada 1699.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa tasawuf yang diajarkan Syekh Yusuf bukan semata-mata jalan spiritual yang menjauhkan manusia dari persoalan kehidupan. Spiritualitas justru dapat menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi ketidakadilan.
Kholili mengingatkan agar perlawanan Syekh Yusuf terhadap kolonialisme tidak dipahami secara sempit sebagai kebencian terhadap bangsa atau agama tertentu. “Bertasawuf itu anti kezaliman, bukan spesifik anti orang asing atau nonmuslim,” tegasnya.
Tasawuf, kata Kholili, mengajarkan manusia untuk menolak kezaliman. Prinsip tersebut dapat menjadi dasar perjuangan melawan penindasan, tanpa menjadikan perbedaan bangsa atau agama sebagai alasan untuk membenci pihak lain.
Ia mencontohkan tokoh sufi lain yang juga terlibat dalam perlawanan terhadap kolonialisme, yakni Abdul Qadir Al-Jazairi yang memimpin perlawanan terhadap kolonialisme Prancis di Aljazair.
Sehingga, tasawuf tidak seharusnya dipahami sebagai ajaran yang membuat seseorang pasif terhadap keadaan. Penyucian diri dan kedekatan kepada Tuhan dapat berjalan beriringan dengan keberanian membela keadilan.
Nilai itu membuat pemikiran Syekh Yusuf tetap relevan dibicarakan empat abad setelah kelahirannya. Integritas, keteguhan prinsip, dan keberanian menolak ketidakadilan merupakan nilai yang tidak kehilangan makna meskipun zaman terus berubah.

Manuskrip yang tersebar di berbagai negara
Salah satu tantangan dalam menggali warisan Syekh Yusuf adalah keberadaan manuskrip yang tersebar di berbagai negara. Kholili memperkirakan Syekh Yusuf meninggalkan sekitar 20 hingga 30 jilid karya autentik. Jumlah tersebut belum termasuk berbagai salinan yang dibuat pada masa berikutnya.
“Yang 30 itu murni dari Syekh Yusuf. Kalau yang salinan masih belum kita hitung,” ujarnya.
Karya-karya tersebut memuat pemikiran dan ajaran keagamaan Syekh Yusuf, terutama yang berkaitan dengan tasawuf. Selain itu, berbagai fragmen manuskrip dapat digunakan untuk merekonstruksi perjalanan intelektualnya.
Manuskrip Syekh Yusuf yang kini tersimpan di luar negeri tidak harus seluruhnya dibawa kembali ke Indonesia. Ia berpandangan bahwa pemeliharaan naskah fisik di tempat penyimpanan yang memiliki fasilitas konservasi dapat menjadi pilihan, sementara peneliti Indonesia dapat memanfaatkan salinan digitalnya.
“Kalau saya pribadi sebagai pengamat naskah, saya kira jangan, tidak perlu, karena lebih terjaga di sana. Kalau mau mengkaji, cukup dicek versi digitalnya saja,” katanya.
Digitalisasi dapat menjadi jalan untuk memperluas akses terhadap manuskrip sekaligus menjaga keberadaan naskah fisiknya. Melalui salinan digital, peneliti dapat mempelajari isi naskah tanpa harus memindahkan benda aslinya.
Gagasan ini juga relevan bagi upaya menelusuri sejarah ulama Karanggayam. Jika manuskrip yang memuat keterangan tentang sanad tersebut masih dapat ditemukan, digitalisasi dan kajian filologis dapat membantu mengungkap informasi yang selama ini tersembunyi.
Satu nama dapat ditemukan. Satu silsilah dapat diperiksa. Satu hubungan keilmuan dapat disusun kembali.
Pekerjaan semacam itu membutuhkan kolaborasi antara peneliti manuskrip, sejarawan, ahli tarekat, pesantren, dan masyarakat yang mungkin masih menyimpan peninggalan keluarga ulama terdahulu.
Warisan yang tidak berhenti pada masa lalu
Selain jaringan keilmuan dan perjuangannya, Syekh Yusuf juga meninggalkan pemikiran tentang perjalanan manusia menuju kesempurnaan rohani.
Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Ahmad Ginanjar Sya’ban menyoroti konsep Insan Kamil sebagai salah satu ajaran yang penting untuk dikaji kembali.
Dalam perspektif tasawuf, Insan Kamil berkaitan dengan proses manusia menuju kesempurnaan rohani dan kebahagiaan sejati. Proses tersebut menuntut penyucian diri dari berbagai penyakit hati, seperti keserakahan, iri, dengki, kesombongan, hingga kebutuhan berlebihan terhadap validasi.
“Intinya ajaran yang bagaimana menghantarkan seorang manusia pada tingkat kesempurnaan rohaninya, sehingga dia bisa mencapai kebahagiaan yang sejati, bukan kebahagiaan yang semu,” jelas Ginanjar.
Pemikiran tersebut terasa dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini. Di tengah dunia yang semakin ramai oleh informasi dan tuntutan untuk selalu terlihat berhasil, manusia kerap terjebak dalam perlombaan mencari pengakuan.
Kebahagiaan seolah dapat diukur melalui kekayaan, kedudukan, atau perhatian orang lain. Padahal, dalam pandangan tasawuf, ketenangan batin tidak selalu datang dari hal-hal yang tampak di luar diri.
Penyucian hati mengajarkan manusia untuk mengenali batas dirinya, mengendalikan keinginan, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama.
Warisan pemikiran Syekh Yusuf karena itu tidak semestinya berhenti sebagai bahan kajian sejarah. Nilai-nilainya dapat dibaca kembali sebagai bekal membangun kehidupan yang lebih adil, rendah hati, dan manusiawi.
Bagi Mojokerto, penelusuran hubungan keilmuan dengan Syekh Yusuf juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kembali tradisi intelektual lokal. Jika benar ada ulama Karanggayam yang terhubung dengan jaringan Syattariyah Syekh Yusuf, kisahnya merupakan bagian dari sejarah masyarakat setempat yang layak didokumentasikan. Pencarian dapat dimulai dari petunjuk yang telah muncul.

Menjahit kembali potongan sejarah
Empat abad setelah Syekh Yusuf lahir di Gowa, perjalanan hidupnya masih menyimpan banyak ruang untuk penelitian. Kholili menyebut masih banyak warisan intelektual Syekh Yusuf yang belum tercatat secara utuh.
Momentum 400 tahun kelahirannya, menurut dia, merupakan kesempatan untuk menggali kembali karya, pemikiran, dan jaringan keilmuan sang ulama.
Pekerjaan tersebut tentu tidak selesai melalui satu peringatan atau forum diskusi. Ia membutuhkan penelitian panjang, pembacaan manuskrip, penelusuran silsilah, serta keterlibatan masyarakat yang masih menyimpan ingatan tentang masa lalu.
Di Mojokerto, pencarian itu dapat dimulai dari satu nama yang disebut dalam manuskrip. Seorang ulama dari Karanggayam. Siapa dia, bagaimana perjalanan ilmunya, dan sejauh mana ajaran yang diterimanya diteruskan, masih menjadi pertanyaan terbuka. Tetapi pertanyaan itu sudah cukup untuk menggerakkan langkah pertama.
Kelak, dari lembaran naskah yang mulai rapuh, akan ditemukan nama yang selama ini terlupakan. Mungkin dari catatan silsilah akan tersusun kembali jalur guru dan murid yang pernah menghubungkan Makassar dengan Mojokerto. Atau mungkin penelusuran itu justru mengantarkan pada temuan lain tentang sejarah perkembangan Islam di Jawa Timur.
Apa pun hasilnya, satu hal patut dijaga. Jangan sampai potongan sejarah itu hilang sebelum sempat dibaca. Sebab, warisan seorang ulama tidak hanya terletak pada makam yang diziarahi atau namanya yang diabadikan. Ia juga hidup dalam ilmu yang dipelajari, nilai yang diamalkan, dan mata rantai pengetahuan yang terus disambungkan.
Empat abad setelah Syekh Yusuf lahir di Gowa, sebuah petunjuk dari Karanggayam mengingatkan bahwa perjalanan intelektualnya masih menyimpan banyak cerita. Dari Mojokerto masih banyak kesempatan untuk menemukan dan menjahit kembali salah satu potongan cerita itu.



















