Duka Keluarga Korban Longsor Lumajang, Khofifah Datang Menguatkan

Imron Rosadi dan putrinya, Hilya, meninggal setelah tertimbun longsor yang menerjang rumah mereka di Desa Tamanayu, Pronojiwo, Lumajang.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertakziah, menyerahkan santunan dan sembako, serta menyalurkan material bangunan untuk perbaikan rumah warga terdampak longsor.
Khofifah meminta kewaspadaan berlapis menghadapi peralihan musim dan potensi bencana hidrometeorologi, melalui koordinasi pemerintah, relawan, serta masyarakat hingga tingkat RT/RW.
Lumajang, IDN Times - Suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga Imron Rosadi (40) di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Kehilangan datang begitu cepat. Imron dan putrinya, Hilya (9), meninggal dunia setelah tertimbun material longsor yang menerjang rumah mereka.
Di tengah kesedihan itu, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa datang langsung untuk menyampaikan belasungkawa, Senin (2/11/2026). Khofifah bertakziah sekaligus menemui keluarga korban. Ia memberikan dukungan moril bagi keluarga yang harus menghadapi kehilangan dua orang tercinta sekaligus.
Dengan penuh keprihatinan, Khofifah menyampaikan doa agar Imron dan Hilya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Ia juga berharap keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan melewati masa sulit tersebut.
"Innalilahi wa innailaihi rajiun. Mudah-mudahan almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Seluruh khilafnya diampuni dan diterima seluruh amal baik serta dipanggil dalam keadaan husnul khotimah," ungkap Khofifah.
Tak hanya menyampaikan doa, Khofifah juga menyerahkan santunan kepada keluarga korban dan bantuan sembako bagi masyarakat sekitar. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim turut menyalurkan bantuan material bangunan untuk mendukung perbaikan rumah warga yang rusak akibat longsor.
Bantuan tersebut meliputi 75 sak semen Portland, 5.000 bata merah, 1.500 genteng, dan 60 batang kayu balok. Bantuan ini diharapkan dapat membantu warga memulihkan tempat tinggal mereka setelah bencana.
Di balik duka yang dirasakan keluarga korban, peristiwa ini juga menjadi pengingat tentang ancaman bencana saat musim mulai berganti. Khofifah meminta masyarakat Jatim meningkatkan kewaspadaan menghadapi peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Terlebih, kondisi cuaca di Jawa Timur saat ini belum sepenuhnya seragam. Sejumlah wilayah masih menghadapi persoalan kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih, sementara daerah lain mulai diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
"Di beberapa tempat kita masih menemukan kelangkaan air bersih. Dropping air bersih masih dilakukan dengan pelibatan BPBD Provinsi Jawa Timur. Sebetulnya prediksi BMKG setelah direvisi, semula puncak kekeringan di bulan September, kemudian direvisi puncak kekeringan di bulan November untuk Jawa Timur," jelasnya.
Khofifah menyebut hujan diprediksi mulai berlangsung pada Desember hingga Februari mendatang. Ia bersyukur hujan mulai turun di sejumlah wilayah setelah berbagai elemen masyarakat melakukan ikhtiar, termasuk melalui doa bersama dan salat istisqa di masjid maupun pesantren.
"Tentu harapan kita adalah hujan yang membawa rahmat dan manfaat," harapnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa hujan yang dinantikan masyarakat juga perlu diantisipasi dampaknya. Apalagi jika hujannya berintensitas tinggi, yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, termasuk tanah longsor di kawasan perbukitan dan lereng.
Khofifah menyebut sejumlah daerah di Jatim telah mengalami kejadian longsor, di antaranya Trenggalek, wilayah Tirtoyudo di Kabupaten Malang, serta Lumajang. Karena itu, ia meminta upaya mitigasi tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi.
Kesiapsiagaan, menurutnya, harus dibangun secara berlapis. Pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa perlu memperkuat koordinasi bersama masyarakat. Bahkan, kewaspadaan harus tumbuh sampai lingkungan terkecil seperti RT dan RW.
"Bagaimana secara komunitas, apakah RT, RW, desa, sama-sama membangun kewaspadaan dari desa setempat. Jangan sampai kemudian ada bencana alam yang berdampak pada hilangnya saudara-saudara kita dan akhirnya mereka meninggal dunia," tegasnya.
Khofifah juga mengingatkan bahwa Indonesia, termasuk Jatim, berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Kondisi geografis tersebut membuat kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu menjadi kebiasaan bersama, bukan sekadar respons ketika musibah datang.
"Karena kita berada di Ring of Fire, maka kewaspadaan itu harus dilakukan berlapis. Pada saat musim kemarau belum semuanya selesai, kita sudah harus melakukan antisipasi menghadapi musim hujan yang memang sudah terjadi di beberapa daerah," katanya.
Ia mengajak pemerintah daerah, aparat, relawan kebencanaan, dan masyarakat memperkuat koordinasi serta memastikan langkah mitigasi berjalan hingga tingkat lingkungan. Dengan kesiapsiagaan yang lebih baik, risiko dan dampak bencana, terutama jatuhnya korban jiwa, diharapkan dapat ditekan.
"Kewaspadaan berganda itu harus dilakukan oleh semua pihak, semua lini," tegasnya.
Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar menyampaikan terima kasih atas perhatian Khofifah yang datang langsung ke rumah duka dan menemui keluarga korban. Menurutnya, kehadiran Gubernur Jatim menjadi dukungan tersendiri bagi keluarga yang sedang berduka.
"Kami atas nama Pemkab Lumajang menyampaikan rasa terima kasih kepada Ibu Gubernur atas seluruh perhatian bagi warga kami di Lumajang," pungkasnya.



















