Perkiraan Awal Musim Hujan di Seluruh Jatim, Ini Rinciannya

BMKG memprakirakan musim hujan Jawa Timur 2026 dimulai bertahap pada dasarian ketiga November di sejumlah wilayah, termasuk Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Kediri, Madiun, Ngawi, dan Ponorogo.
Desember menjadi periode dominan awal musim hujan, mencakup 68 zona musim atau sekitar 90,6 persen daratan Jatim, termasuk Surabaya, Malang, Jember, Gresik, dan Tulungagung.
Situbondo diprediksi paling akhir memasuki musim hujan pada Januari 2027. BMKG menetapkan musim hujan bila curah hujan melampaui 50 milimeter per dasarian dan berlanjut pada periode berikutnya.
Surabaya, IDN Times - Musim hujan mulai menyambangi sejumlah wilayah Jawa Timur (Jatim) pada November 2026. Namun, masyarakat di sebagian besar daerah masih harus menunggu hingga Desember sebelum wilayahnya resmi memasuki musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan tahun ini berlangsung secara bertahap dan tidak serentak.
Kepala BMKG Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan menyebut, sejumlah daerah yang diprakirakan lebih dulu memasuki musim hujan pada November meliputi Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Kediri, Kota Kediri, Kota Madiun, Madiun, Magetan, sebagian kecil Nganjuk, Ngawi, dan Ponorogo.
Wilayah-wilayah tersebut diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian ketiga November atau sekitar 20–30 November 2026. Sementara itu, sebagian besar wilayah Jatim diprediksi baru menyusul pada Desember.
Berdasarkan prakiraan BMKG, awal musim hujan pada Desember menjadi periode paling dominan, dengan cakupan 68 zona musim (ZOM) atau sekitar 90,6 persen luas daratan Jatim.
Daerah yang diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada Desember antara lain Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Kota Batu, Kota Blitar, Kota Madiun, Kota Malang, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kota Surabaya, Lamongan, Lumajang, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
Sejumlah daerah lainnya juga diprediksi memasuki musim hujan pada bulan yang sama, tetapi waktunya berbeda-beda di setiap wilayah. Daerah tersebut meliputi sebagian besar Bangkalan, Banyuwangi, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, dan Pasuruan.
Sementara sebagian kecil Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Magetan, Malang, dan Madiun juga diprakirakan mulai memasuki musim hujan.
Adapun wilayah Situbondo menjadi salah satu daerah yang diprediksi paling akhir memasuki musim hujan. Sejumlah kecamatan, yakni Bungatan, Kapongan, Kendit, Mangaran, Panarukan, Panji, dan Situbondo, diprakirakan baru mengalami awal musim hujan pada Januari 2027.
Taufiq menjelaskan, hujan yang turun selama beberapa hari belum otomatis menandakan suatu wilayah telah memasuki musim hujan. BMKG menggunakan kriteria klimatologis berdasarkan jumlah curah hujan yang terukur dan keberlanjutannya pada periode berikutnya.
“Menurut klimatologi, dikatakan musim hujan jika hujan yang tertakar dalam suatu zona musim itu di atas 50 milimeter, diikuti dasarian-dasarian berikutnya,” ujarnya kepada IDN Times.
Dasarian merupakan periode waktu selama 10 hari. Dengan demikian, hujan yang turun dalam satu atau dua hari belum cukup untuk menetapkan suatu daerah memasuki musim hujan. Curah hujan pada dasarian berikutnya juga harus memenuhi kriteria yang ditetapkan BMKG.
“Kalau dalam satu dasarian 50 milimeter, tetapi dasarian berikutnya belum mencapai 50 milimeter, belum dikatakan musim hujan,” terangnya.
Taufiq menambahkan, Jatim memiliki 74 zona musim. Pembagian zona tersebut tidak selalu mengikuti batas administrasi kabupaten atau kota. Satu zona musim dapat mencakup wilayah lintas kecamatan hingga desa yang memiliki karakteristik curah hujan serupa.
Masyarakat perlu memperhatikan informasi prakiraan cuaca dan perkembangan musim di wilayah masing-masing. Hujan yang mulai turun di suatu daerah tidak serta-merta menjadi penanda bahwa seluruh wilayah di sekitarnya telah memasuki musim hujan.



















