Banjir Jatim Capai 2.253 Kejadian, Bengawan Solo 393 Kasus

Jawa Timur mencatat 2.253 kejadian banjir dari total 18.119 bencana sepanjang 2016–2025, menegaskan ancaman berulang menjelang musim hujan.
Sebanyak 393 banjir terjadi di DAS Bengawan Solo yang melintasi Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik, sehingga perlu kesiapsiagaan lintas daerah.
BPBD Jatim dan SIAP SIAGA Jawa Timur menggelar simulasi rencana kontingensi untuk memperjelas peran pemangku kepentingan serta mempercepat respons peringatan dini.
Surabaya, IDN Times - Jelang memasuki musim hujan, Jawa Timur (Jatim) menghadapi ancaman banjir yang berulang. Dalam kurun waktu 10 tahun, tercatat 2.253 kejadian banjir di provinsi ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 393 kejadian terjadi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo yang melintasi lima kabupaten.
Data periode 2016–2025 tersebut menunjukkan besarnya ancaman banjir di Jatim. Bahkan, Bengawan Solo menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius karena kejadian banjirnya tercatat mencapai ratusan kali dalam satu dekade.
Lima kabupaten yang dilintasi kawasan DAS Bengawan Solo di Jatim meliputi Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Kondisi ini membutuhkan kesiapsiagaan lintas daerah untuk mengantisipasi potensi banjir sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
Menghadapi ancaman tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim bersama SIAP SIAGA Jawa Timur menggelar Tactical Floor Game (TFG) Rencana Kontingensi Banjir Bengawan Solo Terintegrasi Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD).
Ketua Tim Kerja Pencegahan Bidang PK BPBD Jatim, Dadang Iqwandy mengatakan, simulasi tersebut bertujuan memastikan setiap pemangku kepentingan memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing ketika banjir terjadi.
“Melalui kegiatan Tactical Floor Game ini, kita ingin memastikan seluruh pemangku kepentingan memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menghadapi ancaman banjir Bengawan Solo. Kesiapsiagaan, koordinasi, dan kecepatan merespons peringatan dini menjadi kunci agar penanganan bencana dapat dilakukan secara terpadu, tepat, dan efektif,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Jatim mencatat 18.119 kejadian bencana selama periode 2016–2025. Sebanyak 2.253 di antaranya merupakan bencana banjir.












![[OPINI] Ketika Angka Pertumbuhan Ekonomi Tidak Lagi Cukup](https://image.idntimes.com/post/20261031/img-20261031-wa0005_5aa40adf-80da-4615-a1a4-f8244c3d14eb.jpg)







