Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Cabai Nampol! Inflasi Jatim Tembus 2,12 Persen

Kota Surabaya
2 min read
Harga Cabai Nampol! Inflasi Jatim Tembus 2,12 Persen
ilustrasi tanaman cabai (pexels.com/Prathyusha Mettupalle)
  • Inflasi tahunan Jawa Timur pada Oktober 2026 mencapai 2,12 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar sebesar 5,09 persen.

  • Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, tomat, labu siam, ikan bandeng, bensin, beras, daging sapi, angkutan udara, dan minyak goreng turut menekan inflasi.

  • Inflasi bulanan Jatim tercatat 0,07 persen, lebih rendah dari nasional 0,22 persen; Jember tertinggi 0,27 persen, sedangkan Kota Kediri terendah 0,01 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Harga sejumlah kebutuhan sehari-hari masih menjadi tantangan bagi warga Jawa Timur (Jatim). Cabai merah, cabai rawit, tomat, hingga ikan bandeng menjadi komoditas yang ikut mendorong kenaikan harga. Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada Oktober 2026 mencapai 2,12 persen.

Plt Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 5,09 persen.

Sejumlah komoditas yang memicu kenaikan harga di antaranya cabai merah, cabai rawit, tomat, labu siam, dan ikan bandeng. Artinya, kenaikan harga bahan pangan masih menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena berkaitan langsung dengan kebutuhan belanja masyarakat.

"Penyumbang utama inflasi Oktober 2026 secara y-on-y adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok transportasi," ujarnya, Selasa (3/11/2026).

Selain bahan pangan, sektor transportasi juga ikut menyumbang tekanan inflasi. Komoditas yang memberikan andil antara lain bensin, disusul beras, daging sapi, angkutan udara, dan minyak goreng.

Meski sejumlah harga mengalami kenaikan, inflasi bulanan Jatim pada Oktober 2026 tercatat relatif rendah, yakni 0,07 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,22 persen.

Secara tahun kalender atau year to date (y-to-d), inflasi Jatim tercatat sebesar 2,14 persen. Angka tersebut menunjukkan akumulasi perubahan harga sejak awal tahun hingga Oktober 2026.

BPS juga mencatat perbedaan tekanan inflasi antardaerah. Jember menjadi wilayah dengan inflasi bulanan tertinggi, yakni 0,27 persen. Sementara itu, Kota Kediri mencatat inflasi terendah sebesar 0,01 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi pendorong utama inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,07 persen. Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, tomat, labu siam, ikan bawal, dan ikan kembung menjadi sejumlah pemicunya.

Namun, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga daging ayam ras, telur ayam ras, dan semangka justru menjadi penahan inflasi. Penurunan harga angkutan udara dan emas perhiasan juga turut meredam tekanan kenaikan harga.

Herum menegaskan BPS akan terus memantau perkembangan harga, terutama pada komoditas pangan dan transportasi. Data tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan mengantisipasi gejolak inflasi.

    Related Articles

    See More