Surabaya, IDN Times - Kampanye krisis plastik global terus digaungkan yayasan ekologi dan konservesi lahan basah Ecoton. Terbaru, yayasan yang dirikan Prigi Arisandi ini membuat patung manusia plastik untuk dikelilingkan se-Jatim.
"Dengan patung 5×5 meter ini, Ecoton ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat agar lebih bijak dalam penggunaan plastik sekali pakai untuk wadah makanan dan minuman," ujar Founder sekaligus Koordinator Sains, Komunikasi dan Seni Ecoton, Prigi Arisandi, Minggu (17/11/2024).
Patung raksasa ini, kata Prigi, dibuat dari bahan besi yang diisi plastik bekas seperti tas kresek, botol air minum dalam kemasan, styrofoam, gelas plastik, piring plastik, galon air sekali pakai, sachet makanan dan minuman. Pembuatannya membutuhkan waktu enam minggu.
"Awalnya kita mendesign di komputer kemudian kita bikin replika dari karton dan selanjutnya pengerjaan dengan besi betoneser ukuran 8 dan kawat stainless dikerjakan 4 orang tukang las dan penganyam kawat” terangnya.
"November ini Manusia Plastik akan dioperasi di Malang dan Tulungagung, Kami berkolaborasi dengan komunitas lingkungan kota-kota di Jawa Timur,” imbuh dia.
Prigi menambahkan, patung raksasa ini menyiratkan sejumlah fakta temuan Ecoton. Nah, fakta saat ini bahwa serpihan plastik kecil atau mikroplastik yang ditemukan dalam organ tubuh manusia berasal dari wadah plastik minuman dalam kemasan.
"Patung manusia plastik ini ingin memvisualkan kondisi tubuh manusia saat ini yang telah tercemar mikroplastik, untuk melengkapinya tim kreatif Ecoton juga membuat replika jantung, ginjal dan paru-paru," kata Prigi.
Tak hanya Manusia Plastik, hari ini Tim Operasi Plastik melakukan sosialisasi ancaman mikroplastik dalam tubuh manusia akibat pencemaran perairan pesisir dan tingginya kadar mikroplastik pada seafood, dalam acara Fishery Party yang dilakukan di Universitas Trunojoyo Madura.
“50 persen jenis plastik yang ada dalam darah manusia adalah jenis PET atau Polyethylene Terephthalate adalah jenis plastik yang kuat, ringan, dan transparan. Plastik ini sering digunakan untuk mengemas makanan dan minuman, seperti botol air minum, botol soda, toples selai,” beber Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti.
Alumni Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri Malang ini menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia saat ini menjadi penduduk yang paling banyak mengkonsumsi plastik sebesar 15 gram/bulan.
"Sedangkan pola konsumsi kita masih menggunakan wadah makanan dan minuman yang terbuat dari plastik, sehingga perlu upaya edukasi dan sosialisasi agar bijak menggunakan plastik sekali pakai," pungkasnya.
