Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kebutuhan Darah di Jatim 908 Ribu Kantong, Bisakah Donor Merata?
Ketua PMI Jatim, Imam Utomo usai acara di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Kebutuhan darah Jawa Timur mencapai sekitar 908 ribu kantong per tahun, dengan Surabaya membutuhkan 400–500 kantong per hari atau sekitar 12 ribu kantong per bulan.

  • PMI dan Pemprov Jatim menyoroti kesenjangan donor sukarela antara kota dan kabupaten, serta mendorong optimalisasi fasilitas pengambilan darah sesuai kebutuhan rumah sakit.

  • Khofifah mendorong kolaborasi PMR dan Pramuka untuk memperluas budaya donor sejak sekolah, sementara konsistensi pendonor dinilai penting menjaga pasokan darah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kebutuhan darah di Jawa Timur mencapai sekitar 908 ribu kantong per tahun, sementara pemerataan donor darah sukarela di kabupaten dan kota menjadi perhatian PMI Jawa Timur serta pemerintah provinsi.
  • Who?
    PMI Jawa Timur, Ketua PMI Jatim Imam Utomo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Dinas Kesehatan Jawa Timur, pendonor sukarela, dan Joko Rustryanto terlibat dalam upaya pemenuhan pasokan darah.
  • Where?
    Kebutuhan dan pemerataan donor berlangsung di seluruh Jawa Timur, termasuk Surabaya, Kota dan Kabupaten Mojokerto, Kota dan Kabupaten Probolinggo, serta Kota dan Kabupaten Malang.
  • When?
    Data kebutuhan 908 ribu kantong darah disampaikan Imam Utomo usai acara di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Kamis, 1 Oktober 2026.
  • Why?
    Kebutuhan darah dipengaruhi permintaan rumah sakit di tiap daerah. Partisipasi donor sukarela di sejumlah wilayah kabupaten tercatat lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan.
  • How?
    PMI mengoptimalkan fasilitas pengambilan darah sesuai sebaran layanan kesehatan. Pemerintah mendorong peningkatan donor di kabupaten serta kolaborasi PMR dan Pramuka di sekolah untuk memperluas calon pendonor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jawa Timur butuh sekitar 908 ribu kantong darah setiap tahun. PMI ingin lebih banyak orang di kota dan kabupaten mau donor darah. Bu Khofifah juga ingin anak sekolah mengenal donor lewat PMR dan Pramuka. Pak Joko dari Surabaya sudah donor 75 kali. Sekarang ia mau terus donor sampai 100 kali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perhatian bersama dari PMI Jatim, pemerintah daerah, sekolah, hingga pendonor rutin menunjukkan adanya fondasi kuat untuk menjaga ketersediaan darah. Potensi kabupaten yang luas, optimalisasi fasilitas yang telah ada, serta kolaborasi PMR dan Pramuka membuka ruang partisipasi lebih merata. Konsistensi pendonor seperti Joko juga mencerminkan tumbuhnya kepedulian kemanusiaan yang berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Kebutuhan darah di Jawa Timur (Jatim) mencapai sekitar 908 ribu kantong dalam setahun. Tingginya kebutuhan tersebut membuat pemerataan partisipasi donor darah sukarela di seluruh kabupaten/kota menjadi salah satu tantangan yang perlu diperkuat Palang Merah Indonesia (PMI) Jatim.

Ketua PMI Jatim, Imam Utomo mengatakan, kebutuhan darah tersebut tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah. Namun, aktivitas pengambilan dan distribusi darah sangat berkaitan dengan kebutuhan rumah sakit di masing-masing daerah.

“908 ribu kantong,” ujarnya usai acara di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (1/10/2026).

Imam juga membeberkan, kebutuhan darah di Surabaya saja berada di kisaran 400-500 kantong per hari. Jika dihitung dalam sebulan, kebutuhan darah di Kota Pahlawan mencapai sekitar 12 ribu kantong.

“Sebetulnya di Surabaya itu setiap hari 400 sampai 500 kantong. Satu bulan itu 12 ribu,” katanyaa.

Imam pun menjelaskan, kondisi kebutuhan darah antardaerah di Jatim tidak bisa hanya dilihat dari jumlah pendonor. Kebutuhan tersebut juga dipengaruhi keberadaan dan karakteristik rumah sakit yang menjadi pengguna darah.

“Ini tergantung rumah sakitnya,” katanya.

Maka, pemerataan ketersediaan darah tidak semata-mata dilakukan dengan menambah unit transfusi darah (UTD). Menurut Imam, fasilitas pengambilan darah yang ada saat ini dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan dan sebaran layanan kesehatan.

Persoalan pemerataan donor sukarela juga menjadi perhatian Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Ia menyoroti adanya kesenjangan partisipasi pendonor sukarela antara wilayah perkotaan dan kabupaten.

Khofifah mencontohkan Kota Mojokerto yang hanya memiliki tiga kecamatan, tetapi partisipasi pendonor sukarelanya tercatat lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Mojokerto yang memiliki 31 kecamatan. Fenomena serupa juga terlihat di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo serta Kota dan Kabupaten Malang.

“Kadinkes dr. Erwin dipandu oleh Pak Imam Utomo supaya area-area yang masuk wilayah kabupaten ini juga keikutsertaannya bisa ditingkatkan,” kata Khofifah.

Menurut Khofifah, wilayah kabupaten memiliki potensi besar untuk memperluas basis pendonor sukarela. Sebab, secara geografis wilayah kabupaten mengelilingi sejumlah pusat kota di Jawa Timur.

“Kalau mereka bisa dimaksimalkan sebagai pendonor darah sukarela saya rasa ini sesuatu yang memiliki kemungkinan besar untuk bisa diluaskan,” imbuhnya.

Selain pemerataan pendonor, Khofifah mendorong penguatan ekosistem donor darah sejak lingkungan sekolah. Salah satunya melalui sinergi Palang Merah Remaja (PMR) dengan gerakan Pramuka.

Kolaborasi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kegiatan sosial dan kemanusiaan kepada pelajar sekaligus membangun kebiasaan donor darah ketika mereka telah memenuhi syarat.

“Kalau itu bisa memberseiringi antara Pramuka dengan PMR, ini skalanya bisa sangat masif. Karena pada dasarnya Pramuka di setiap sekolah dari mulai SD,” kata Khofifah.

Di tengah kebutuhan darah yang besar, konsistensi pendonor menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan. Salah satunya ditunjukkan Joko Rustryanto, warga Surabaya berusia 35 tahun yang telah 75 kali mendonorkan darah.

Joko mengaku mulai rutin donor sejak berusia sekitar 20 tahun. Kebiasaan itu berawal ketika dirinya masih kuliah dan mengikuti program yang mendorong mahasiswa melakukan donor darah.

Seiring waktu, donor darah menjadi kebiasaan yang terus dijalankannya. Ia bahkan dapat melakukan donor hingga dua kali dalam sebulan melalui metode apheresis.

“Awalnya waktu kuliah ada suatu program yang mengharuskan kita donor. Terus akhirnya saya menerima manfaatnya. Merasakan manfaatnya seperti lebih segar, lebih sehat lagi dan bisa tahu keadaan kondisi kita,” ujar Joko.

Menurut Joko, sebelum melakukan donor, pendonor harus melalui proses seleksi sehingga kondisi tubuhnya diperiksa terlebih dahulu. Ia mengaku pernah berhenti sementara mendonor ketika pandemi COVID-19 karena fokus pada kondisi saat itu.

Kini, ia ingin melanjutkan konsistensinya hingga mencapai 100 kali donor dan memperoleh penghargaan dari Presiden. “Saya ingin penghargaan ke-100 kali dari Presiden. Konsistensi saya yang penting,” katanya.

Joko masih membutuhkan sekitar 25 kali donor lagi untuk mencapai target tersebut. Ia pun mengajak masyarakat tidak takut mendonorkan darah. Menurutnya, donor darah bukan hanya membantu orang lain yang membutuhkan, tetapi juga menjadi bagian dari kepedulian terhadap sesama.

“Jangan takut donor darah karena donor darah banyak manfaatnya, baik bagi kita maupun bagi penerima,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article