Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kecelakaan di Jatim, Jasa Raharja Bilang Naik, Polda Ngomong Turun
ilustrasi kecelakaan (pexels.com/Valentin Sarte)
  • Jasa Raharja Jatim mencatat santunan kecelakaan mencapai Rp449 miliar sepanjang 2026, naik 25 persen, didorong klaim korban luka-luka, meninggal dunia, dan meningkatnya kejadian.
  • Sepeda motor menyumbang sekitar 70-80 persen kecelakaan, dengan korban didominasi usia produktif, termasuk pelajar dan mahasiswa; faktor manusia masih menjadi pemicu utama.
  • Ditlantas Polda Jatim melaporkan kecelakaan selama Operasi Ketupat 2026 turun 37,46 persen; perbedaan data terjadi karena indikator dan periode pengukuran kedua lembaga berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Data kecelakaan lalu lintas di Jawa Timur menunjukkan dua wajah berbeda. Di satu sisi, PT Jasa Raharja Jawa Timur (Jatim) mencatat lonjakan nilai santunan hingga Rp449 miliar sepanjang 2026 atau naik 25 persen dibanding periode sebelumnya. Di sisi lain, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jatim justru melaporkan tren kecelakaan menurun selama Operasi Ketupat 2026.

Kepala PT Jasa Raharja Jatim, Dwi Sasono mengatakan, kenaikan santunan tersebut mencerminkan meningkatnya jumlah korban kecelakaan sekaligus tingginya tingkat fatalitas di lapangan.

"Nilai santunan mencapai Rp449 miliar. Kenaikan ini didorong meningkatnya klaim korban luka-luka, korban meninggal dunia, dan kejadian kecelakaan lalu lintas," ujarnya, Kamis (6/8/2026).

Dwi membeberkan, kelompok korban luka-luka menjadi penyerap santunan terbesar sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa insiden di jalan raya tidak hanya bertambah dari sisi frekuensi, tetapi juga menimbulkan cedera yang semakin serius.

"Kondisi ini mengindikasikan bahwa frekuensi insiden lalu lintas di jalan raya tidak hanya bertambah secara kuantitas, namun juga menghasilkan dampak fatalitas cedera fisik yang semakin membesar," katanya.

Jasa Raharja juga mencatat sepeda motor masih mendominasi penyebab kecelakaan dengan kontribusi sekitar 70-80 persen. Korban didominasi usia produktif, termasuk pelajar dan mahasiswa.

"Kondisi ini sangat memprihatinkan karena kecelakaan didominasi kelompok usia produktif. Mereka yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi justru terdampak," tambah Dwi.

Namun, data tersebut berbeda dengan catatan Ditlantas Polda Jatim selama Operasi Ketupat 2026. Dalam periode arus mudik dan balik Lebaran, kepolisian mencatat angka kecelakaan justru turun 37,46 persen dibanding sebelum operasi. Korban meninggal dunia turun 56,52 persen, sedangkan korban luka berat menurun 4,55 persen.

Perbedaan angka tersebut dinilai tidak serta-merta saling bertentangan. Sebab, kedua institusi menggunakan indikator dan periode pengukuran yang berbeda. Data Polda Jatim menggambarkan kondisi selama Operasi Ketupat yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu, sedangkan Jasa Raharja menghitung akumulasi nilai santunan korban sepanjang tahun berjalan.

Dwi menegaskan, pihaknya bersama kepolisian akan memperkuat analisis penyebab meningkatnya klaim kecelakaan agar langkah pencegahan lebih tepat sasaran. Berdasarkan evaluasi sementara, sebagian besar kecelakaan masih dipicu oleh faktor manusia atau human error.

"Meski kualitas infrastruktur jalan berpotensi memberikan andil, faktor utama kecelakaan tetap bertumpu pada human error atau ketidakhati-hatian pengendara di jalan raya," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article