Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jangan Simpan Payung Dulu, Hujan Siap Mengguyur Jatim Sepekan Ini
ilustrasi hujan deras sebagai bagian dari kondisi cuaca harian (pexels.com/Md Nadim Mahmud)
  • BMKG Juanda memprakirakan hujan disertai petir masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur sepanjang 22–28 Juni 2026 akibat dinamika atmosfer lokal yang aktif.
  • Pola konvergensi angin dan penguapan tinggi di Selat Madura menjadi pemicu utama pembentukan awan hujan lokal, sementara fenomena global seperti ENSO, IOD, dan MJO berada pada fase netral.
  • BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak serta menjaga kesehatan dan penggunaan air bersih selama musim kemarau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Meski telah memasuki musim kemarau, cuaca di Jawa Timur (Jatim) belum sepenuhnya stabil. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda memprakirakan hujan disertai petir masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah sepanjang 22–28 Juni 2026 akibat dinamika atmosfer lokal yang masih aktif.

Berdasarkan prospek cuaca mingguan BMKG, hujan ringan diprakirakan terjadi pada Senin, Kamis, dan Minggu. Sementara hujan yang disertai petir berpotensi mengguyur Jatim pada Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu.

Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendy Irawadi mengatakan, potensi hujan tersebut dipicu oleh pola konvergensi atau pertemuan angin yang terbentuk di atas wilayah Jatim. Kondisi itu diperkuat tingginya penguapan di kawasan Selat Madura sehingga meningkatkan pembentukan awan hujan secara lokal.

"Ada pola pertemuan angin di atas Jawa Timur secara lokal dan penguapan yang tinggi di Selat Madura yang mengakibatkan peningkatan potensi hujan lokal," ujarnya, Selasa (23/6/2026).

BMKG menjelaskan, sejumlah fenomena iklim global saat ini tidak menjadi pemicu utama cuaca di Jatim. Kondisi ENSO atau El Niño Southern Oscillation tercatat memiliki indeks +0,92, namun belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan awan konvektif.

Begitu pula dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada indeks -0,13 atau mendekati netral sehingga tidak meningkatkan aktivitas konvektif di Indonesia bagian barat. Sementara Madden-Julian Oscillation (MJO) juga diprakirakan berada pada fase netral dan tidak memberikan dukungan signifikan terhadap pembentukan awan hujan.

Selain itu, prediksi Outgoing Longwave Radiation (OLR) menunjukkan kondisi atmosfer cenderung netral hingga positif. BMKG juga tidak mendeteksi adanya gangguan atmosfer berskala besar yang melintasi Jatim hingga 2 Juli 2026.

Meski demikian, suhu muka laut di sekitar Jatim masih relatif hangat dengan anomali berkisar antara -0,5 hingga 1,5 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan suplai uap air ke atmosfer, terutama dari kawasan Selat Madura, sehingga hujan lokal masih berpotensi terjadi.

Analisis angin lapisan 3.000 kaki juga menunjukkan angin bertiup dominan dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan maksimum sekitar 18 knot. Pola tersebut membentuk konvergensi yang menjadi pemicu utama hujan pada musim kemarau tahun ini.

BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Di sisi lain, karena Jatim telah memasuki musim kemarau, masyarakat juga diminta tetap mengantisipasi risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan dengan tidak melakukan pembakaran terbuka serta menggunakan air bersih secara bijak.

Rendy juga mengingatkan masyarakat menjaga kondisi tubuh selama musim kemarau dengan memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung kulit dan tabir surya saat beraktivitas di bawah sinar matahari, serta rutin memantau informasi prakiraan cuaca terbaru yang dikeluarkan BMKG sebelum beraktivitas.

Editorial Team

Related Article