Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Isi Lengkap Pidato Pimpinan Gontor KH Hasan di Depan Prabowo

Kab. Ponorogo
9 min read
Isi Lengkap Pidato Pimpinan Gontor KH Hasan di Depan Prabowo
Pimpinan Ponpes Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal saat sambutan dalam perayaan 100 tahun Gontor, Sabtu (26/9/2026). Tangkapan Layar Gontor TV
  • KH Hasan Abdullah Sahal menegaskan Gontor tetap menjadikan pendidikan sebagai jalur utama membina umat dan bangsa, meski alumninya berkiprah di berbagai lembaga negara.
  • Pada peringatan 100 tahun, Gontor merefleksikan transformasinya sejak 1926, warisan wakaf pendiri, serta pembangunan fasilitas yang diresmikan Presiden Prabowo.
  • Kiai Hasan menekankan kesederhanaan pimpinan yang terbuka dikritik, persatuan lintas organisasi Islam, dan nilai pendidikan berupa sabar, ikhlas, serta ridha.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ponorogo, IDN Times - Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidato penuh refleksi saat menyambut Presiden Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9/2026).

Di hadapan Presiden Prabowo, ribuan santri, alumni, serta para tamu undangan, Kiai Hasan tidak hanya bercerita tentang perjalanan satu abad Gontor. Ia juga menegaskan pilihan lembaga pendidikan yang dipimpinnya untuk tetap berada di jalur pendidikan, membina umat dan bangsa melalui kader-kader yang tersebar di berbagai bidang.

“Kami tetap memilih pendidikan, Bapak Presiden,” ujar Kiai Hasan dalam pidatonya.

Kiai Hasan mengatakan, pilihan tersebut bukan berarti Gontor tidak memiliki alumni yang berkiprah di pemerintahan. Menurut dia, alumni Gontor telah tersebar di berbagai bidang, termasuk eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga-lembaga lainnya.

Namun, kata dia, Gontor tetap menempatkan pendidikan sebagai jalan pengabdian utama. “Kami tetap sama-sama membina umat, membina bangsa kita ini sesuai dengan cita-cita Republik Indonesia,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Hasan juga menyampaikan apresiasi atas kedatangan Presiden Prabowo ke Gontor. Ia menyebut kunjungan tersebut sangat tepat karena berlangsung pada momentum satu abad perjalanan pondok.

“Saya berdiri ini benar-benar rasanya nyaman. Ada kenyamanan karena apa? Yang ada di depan saya ini Bapak Presiden Republik Indonesia,” tuturnya.

Kiai Hasan mengungkapkan bahwa pertemuannya dengan Prabowo bukan kali pertama. Ia menyebut telah beberapa kali berbincang dengan Presiden.n“Sudah satu kali, dua kali, tiga kali, sekarang yang keempat kali,” katanya.

Dari pertemuan-pertemuan tersebut, Kiai Hasan menyampaikan pesan tentang pentingnya sikap saling percaya. “Maka saya insyaallah, selama Pak Presiden khusnudzon kepada saya dengan Gontor, insyaallah Gontor khusnudzon kepada Bapak Presiden,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian penting pidato Kiai Hasan yang menempatkan hubungan Gontor dan pemerintah dalam kerangka saling menghormati dan membangun bangsa.

Dari “Nggon Kotor” Menjadi “Nggon Inspirator”

Memasuki pembahasan sejarah, Kiai Hasan mengajak hadirin melihat perjalanan Gontor sejak awal berdiri hingga memasuki usia satu abad. Ia mengingatkan bahwa Gontor bermula pada 1926 dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang sebelum berkembang menjadi lembaga pendidikan seperti sekarang.

Dengan gaya khasnya, Kiai Hasan menyebut istilah “Ngon Kotor” sebagai asal-usul sebutan Gontor. “Gontor singkatan dari ngon-kotor karena banyak syirik, banyak kufur, banyak maksiat,” katanya.

Namun, ia kemudian menggambarkan perubahan besar yang terjadi. “Gontor sekarang menjadi ngon inspirator,” ucapnya.

Kiai Hasan juga mengenang keputusan para pendiri Gontor, KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi, yang mewakafkan Gontor kepada umat Islam. Menurut dia, yang diwariskan para pendiri bukan semata sebuah lembaga, tetapi juga gagasan, nilai, sistem, dan kecintaan terhadap pendidikan.

“Dengan keikhlasan para pendiri, Kiai Haji Ahmad Sahal, Kiai Haji Zainuddin Fanani, Kiai Haji Imam Zarkasy, dengan ikhlas mewakafkan ide, mewakafkan nilai, mewakafkan sistem, mewakafkan lembaga, mewakafkan cinta kepada pondok ini,” katanya.

Ia pun berharap Gontor dan bangsa Indonesia dapat terus membangun hubungan yang dilandasi kecintaan dan pengabdian. “Kita tidak menerima keuntungan, kita menerima nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Gontor dan Pesan Pendidikan untuk Bangsa

Kiai Hasan kemudian menyinggung perjalanan fisik Gontor yang menurutnya bermula dari kawasan yang jauh lebih kecil. Ia mengatakan, ketika proses wakaf berlangsung, kompleks pondok masih sekitar 1,2 hektare. Kini, setelah satu abad, Gontor telah berkembang dengan berbagai fasilitas pendidikan.

Kiai Hasan menyebut perkembangan tersebut sebagai buah dari perjalanan panjang, termasuk dukungan berbagai pihak. Ia juga menyinggung gedung Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) yang menjadi lokasi acara.

Menurutnya, bangunan tersebut dahulu bermula dari konstruksi sederhana, kemudian berkembang menjadi fasilitas yang mampu menampung ribuan santri.

Kunjungan Presiden Prabowo pada momentum satu abad Gontor juga bertepatan dengan peresmian sejumlah fasilitas. Pemerintah mencatat Prabowo menandatangani prasasti peresmian renovasi Aula BPPM dan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Kiai Hasan menekankan bahwa pembangunan fisik tersebut tetap harus bermuara pada pembangunan manusia. Ia kembali menegaskan:

“Kami tetap memilih pendidikan, Bapak Presiden.”

Bergurulah pada Sejarah, Jangan Menyerah pada Sejarah

Dalam pidatonya, Kiai Hasan juga mengutip pesan tentang pentingnya belajar dari sejarah.

Ia mengingatkan ungkapan Presiden pertama RI Soekarno tentang pentingnya tidak melupakan sejarah.

Namun, bagi Kiai Hasan, belajar sejarah tidak cukup hanya untuk mengenang masa lalu. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya membaca buku, bergurulah pada sejarah,” katanya.

Tetapi, ia melanjutkan, Gontor tidak ingin berhenti pada sikap belajar dari sejarah. “Gontor tidak puas. Apa? Gontor cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah. Tidak menyerah pada sejarah,” tegasnya.

Dengan kalimat itu, Kiai Hasan menggambarkan pendidikan sebagai jalan untuk membentuk generasi yang tidak sekadar menjadi penonton sejarah, tetapi ikut membangun peradaban.

Sindiran “Cari Muka” di Depan Prabowo

Suasana pidato sempat mencair ketika Kiai Hasan mengungkapkan kegelisahannya sebelum Prabowo datang ke Gontor. Ia mengatakan dirinya sempat berpikir bagaimana jika Presiden tidak hadir.

“Saya sudah mengelu-elukan Pak Prabowo. Ngomong sama saya September. Otak saya Pak Prabowo. Andai kata Pak Prabowo hari ini enggak datang, nah ini muka saya saya taruh di mana?” ujarnya.

Ia berseloroh bahwa dirinya akhirnya harus “cari muka”. Pernyataan itu kemudian ia tarik ke fenomena yang lebih luas. “Sekarang banyak orang yang cari muka,” katanya.

Menurut Kiai Hasan, orang yang tidak punya ijazah mencari ijazah, yang tidak punya nama mencari nama, yang tidak punya uang mencari uang, yang tidak punya jabatan mencari jabatan. “Orang tidak punya muka cari muka,” ujarnya, disambut suasana riuh hadirin.

Kiai Hasan bahkan sempat menegur tepuk tangan yang muncul ketika menurutnya belum waktunya bertepuk tangan. “Ini tepuk tangan tidak pada waktunya. Sorry,” katanya sambil mencairkan suasana.

Muhammadiyah dan NU Bersatu di Gontor

Kiai Hasan juga menegaskan bahwa Gontor sejak awal tidak dibangun untuk menjadi milik satu kelompok organisasi Islam tertentu.

Ia memberikan contoh hubungan Gontor dengan warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

“Anak Muhammadiyah masuk Gontor, keluar Muhammadiyah lagi. Pimpinan Nahdlatul Ulama menjadi santri Gontor dan memimpin Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Ia juga menyebut adanya hubungan keluarga antara warga dari kedua organisasi tersebut.

Bahkan, dengan gaya bercanda, Kiai Hasan menyebut dirinya pernah dianggap memiliki kecenderungan tertentu.

“Saya ini orang bebas. Orang bilang itu Muhammadiyah, agak Wahabi sedikit gitu, Pak. Tapi menantu saya NU,” katanya. Ia kemudian melontarkan istilah humoris untuk menggambarkan pertemuan berbagai latar belakang tersebut.

*Kalau Allah Sudah Membuka, Tidak Ada yang Bisa Menutup

Pidato Kiai Hasan kemudian bergerak ke wilayah spiritual. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa perjalanan Gontor selama satu abad tidak terlepas dari pertolongan Allah.

“Kalau Allah sudah membuka, tidak ada yang bisa menutup,” katanya.

Ia juga berbicara mengenai kemuliaan seseorang yang menurutnya tidak ditentukan semata oleh pandangan manusia, melainkan oleh kecintaan Allah. “Kalau Allah sudah mencintai seseorang, tidak ada orang yang akan membencinya,” ujarnya.

Kiai Hasan kemudian mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya hanya berada di antara langit dan tanah. “Di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah,” katanya.

Pesan Paling Tegas: Pimpinan Gontor Boleh Dikritik dan Didemo

Salah satu bagian paling tegas dalam pidato Kiai Hasan muncul ketika ia menyampaikan prinsip mengenai kesederhanaan dan kehidupan pimpinan pondok. Di depan Presiden Prabowo, ia bahkan membuka ruang kritik terhadap dirinya dan pimpinan Gontor.

“Saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden, boleh disaksikan. Kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya, apa lagi, melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh,” tegasnya.

Ia kemudian mengulang pernyataan tersebut agar pesannya lebih jelas. “Kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan lebih daripada santri, boleh diprotes, boleh dikritik, boleh didemo,” katanya.

“Inilah Gontor,” lanjutnya.

Bagi Kiai Hasan, prinsip tersebut merupakan bagian dari semangat yang telah diwariskan para pendiri ketika mewakafkan Gontor kepada umat. Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik internal terhadap kemungkinan adanya jarak kehidupan antara pimpinan lembaga pendidikan dan para santri.

100 Tahun Bukan Sekadar Perayaan

Kiai Hasan juga mengingatkan bahwa momentum satu abad Gontor tidak dimaksudkan sekadar sebagai pesta perayaan. “Ini peringatan, bukan perayaan,” katanya.

Menurut dia, peringatan satu abad harus menjadi kesempatan untuk mengingat kembali nikmat Allah dan meningkatkan rasa syukur. Dalam doanya, ia berharap Gontor mendapatkan kekuatan untuk terus mengingat, bersyukur, dan beribadah lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk ingat, untuk bersyukur, untuk beribadah lebih daripada sebelumnya,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa selama 100 tahun Gontor tidak pernah sepi dari kesulitan maupun persoalan. Namun, menurut dia, perjalanan tersebut justru menjadi bagian dari proses pendewasaan.

“Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masalahnya. Setiap masa dan tokoh ada masalahnya. Setiap masalah harus ada solusinya,” kata Kiai Hasan.

“Setir” Gontor: Sabar, Ikhlas, Ridha

Kiai Hasan kemudian menggunakan analogi setir untuk menggambarkan cara Gontor mendidik. Ia menyinggung kebiasaan Presiden Prabowo yang mengemudi kendaraan sendiri.

“Pak Prabowo suka nyupir, pakai setir di sini,” ujarnya.

Menurut Kiai Hasan, setir juga dapat dimaknai sebagai simbol cara menjalani kehidupan. “Cara mendidik kami pakai setir. Setir itu sabar, ikhlas, ridha,” katanya.

Ia menekankan pentingnya memahami waktu dan tidak memaksakan keadaan. “Jangan waktu cepat kamu lambat, jangan waktu lambat kamu cepat,” tegasnya.

Buku “Gontor untuk Indonesia” dan Mushaf Gontor untuk Prabowo

Menjelang akhir pidato, Kiai Hasan menyampaikan bahwa Gontor tidak mungkin menceritakan seluruh sejarah dan kiprah alumninya hanya dalam waktu singkat.

Karena itu, Gontor menyerahkan buku “Gontor untuk Indonesia” kepada Presiden Prabowo.

Buku tersebut mendokumentasikan perjalanan dan kiprah alumni Gontor dalam berbagai bidang pengabdian kepada bangsa dan negara. Sekretariat Negara juga mengonfirmasi penyerahan buku tersebut oleh KH Hasan Abdullah Sahal kepada Prabowo.

Selain buku tersebut, Gontor juga menyerahkan Mushaf Gontor. Kiai Hasan menjelaskan bahwa mushaf tersebut melibatkan santri Gontor dalam proses penulisan dan diterbitkan melalui percetakan Gontor.

“Dicetak santri Gontor, diterbitkan di percetakan Gontor, dibagikan kepada anak-anak Gontor, dihadiahkan kepada Bapak dan kepada umat Islam,” katanya.

Mushaf Al-Qur'an Gontor ditulis oleh santri dan ustaz Gontor serta dicetak secara mandiri setelah melalui proses tashih.

Kiai Hasan Singgung Penghargaan Perpajakan

Pada bagian akhir, Kiai Hasan juga menyinggung penghargaan yang diterima Gontor terkait kepatuhan perpajakan. Ia menyebut Gontor mendapatkan penghargaan karena dinilai disiplin dalam perpajakan.

“Saya tidur tapi saya yang bayar,” ujarnya dengan gaya khasnya.

Ia mengatakan hal tersebut sebagai bagian dari gambaran Gontor yang berusaha menjalankan kewajibannya sebagai lembaga sekaligus berkontribusi kepada bangsa. Pidato yang semula dijadwalkan sekitar 15 menit itu akhirnya berlangsung lebih dari 20 menit. Kiai Hasan kemudian meminta maaf kepada para tamu karena merasa terlalu lama berbicara.

Namun, di sepanjang pidatonya, ia telah menyampaikan sejumlah pesan sekaligus, tentang satu abad sejarah Gontor, pilihan pendidikan, hubungan dengan pemerintah, keterbukaan terhadap berbagai kelompok Islam, pentingnya belajar dari sejarah, kritik terhadap pencarian muka, kesederhanaan pimpinan, hingga komitmen Gontor untuk terus membina umat dan bangsa.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More