Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inovasi Mahasiswa Unair, Daun Kersen Ternyata Bisa untuk Diabetes

Kota Surabaya
2 min read
Inovasi Mahasiswa Unair, Daun Kersen Ternyata Bisa untuk Diabetes
ilustrasi daun kersen (pexels.com/arturo)
  • Lima mahasiswa Farmasi UNAIR mengembangkan GLUCERSEN, film sublingual berbahan ekstrak daun kersen sebagai terapi pendamping diabetes, dan meraih medali perak di Indonesia Inventors Day 2026.

  • Inovasi ini merespons tingginya kasus diabetes serta pill fatigue, dengan memanfaatkan flavonoid daun kersen termasuk quercetin yang berpotensi mendukung pengendalian gula darah.

  • Pengujian awal menunjukkan aktivitas antioksidan dan 90 persen responden menyukai produk, namun efektivitas, keamanan, dosis, serta perizinannya masih memerlukan penelitian lanjutan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Daun pohon kersen yang selama ini tumbuh liar di jalanan, ternyata bermanfaat bagi penderita diabetes. Daun kersen untuk penderita diabetes tersebut merupakan inovasi lima mahasiswa Fakultas Farmasi (FF), Universitas Airlangga (UNAIR)

Mereka mengembangkan GLUCERSEN (Glucose-Regulating and Antioxidant Sublingual Film). GLUCERSEN merupakan sediaan film tipis berbahan ekstrak daun kersen yang dirancang sebagai terapi pendamping diabetes melitus.

Inovasi tersebut berhasil membawa Callysta Tabina Nadine, bersama Callista Angelina Putri Setiawan, Erinna Faizah Rahmadhani, Shakila Geonada Ashar, dan Faradillah Ermyne Sabil meraih medali perak dalam Indonesia Inventors Day (IID). Kegiatan berlangsung di SMESCO Indonesia, Rabu (6/10/2026).

Callysta menjelaskan, inovasi GLUCERSEN berangkat dari tingginya jumlah penderita diabetes di Indonesia dan persoalan pill fatigue, yakni kejenuhan dalam mengonsumsi obat. Tim kemudian melihat potensi daun kersen yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan mengandung senyawa flavonoid, termasuk quercetin, yang berpotensi mendukung pengendalian kadar gula darah.

Berbeda dari sediaan obat konvensional berbentuk tablet, GLUCERSEN dikembangkan dalam bentuk sublingual film, yaitu lapisan tipis yang digunakan di bawah lidah. Sediaan ini memiliki bentuk tipis dan transparan dengan warna hijau alami, serta menggunakan steviol sebagai pemanis. 

“Bentuknya yang ringkas dapat menawarkan pengalaman penggunaan yang lebih praktis dan menjadi alternatif terapi diabetes,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).

Tim berharap inovasi tersebut dapat mendukung pengembangan sediaan yang lebih nyaman digunakan. Terutama bagi pasien yang mengalami kejenuhan dalam mengonsumsi obat. Meski demikian, GLUCERSEN masih memerlukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas, keamanan, dan dosis penggunaannya sebelum dapat diterapkan sebagai produk kesehatan.

Proses pembuatan GLUCERSEN dimulai dari pengumpulan dan penyortiran daun kersen, pencucian, pengeringan, penghalusan, dan ekstraksi hingga membentuk lapisan tipis. Sediaan tersebut selanjutnya dipotong dengan ukuran 2 × 2 cm agar sesuai dengan area penggunaan.

Hasil pengujian awal menunjukkan aktivitas antioksidan GLUCERSEN melalui uji DPPH. “Sebanyak 90 persen responden menyukai GLUCERSEN, tetapi kami masih perlu melakukan pengujian lanjutan untuk memastikan efektivitasnya dalam membantu mengontrol kadar gula darah,” ujar Callysta.

Selain meraih medali perak, tim juga mendapatkan kesempatan mempresentasikan potensi bisnis dan rencana pengembangan produknya pada INOTEK Foundation. Ke depannya, tim berencana melanjutkan pengujian dan memproses perizinan. 

“Kami berharap GLUCERSEN dapat dikembangkan menjadi produk yang aman dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More