Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penjelasan Ahli Gizi Soal Risiko Telur Mentah Bagi Bayi

Kota Surabaya
2 min read
Penjelasan Ahli Gizi Soal Risiko Telur Mentah Bagi Bayi
Ilustrasi bayi (pexels.com/ Pixabay)
  • Bayi A berusia 24 hari dari Sidoarjo meninggal setelah dua hari dirawat intensif di NICU RSUD dr. Soetomo, usai diduga diberi telur mentah saat demam.

  • Ahli Gizi Unair menegaskan bayi di bawah enam bulan hanya memerlukan ASI eksklusif; makanan atau minuman lain, termasuk air putih, tidak memberi manfaat dan berisiko.

  • Telur mentah berpotensi membawa Salmonella, sementara imun dan usus neonatus belum matang, sehingga dapat memicu aspirasi, diare berat, dehidrasi, serta perburukan cepat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Bayi berinsial A berusia 24 hari asal Sidoarjo, Jawa Timur meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit diduga usai dicekoki telur mentah. Ahli Gizi Universitas Airlangga, Unair memberi penjelasan soal bahaya telur mentah terhadap kesehatan bayi.

Dosen Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, S.Gz, M.Si, Ph.D mengatakan, bayi usia di bawah 6 bulan tidak memerlukan makanan atau minuman apa pun selain ASI, bahkan air putih sekalipun. Konsep ini disebut sebagai ASI Ekslusif.

"ASI memenuhi kebutuhan gizinya dan juga memberi perlindungan imun atau antibodi. Pemberian telur, madu, pisang, atau bubur pada usia sekecil atau sedini ini tidak punya manfaat gizi, tetapi justru membawa risikonya berbahaya," ungkap dia.

Telur mentah berisiko membawa bakteri Salmonella, mikroorganisme patogen yang dapat menimbulkan infeksi dan masalah kesehatan. Sementara, usus anak atau neonatus belum siap menghadapinya karena mikrobiota usus belum terbentuk, sistem imun masih belum mature sehingga patogen lebih mudah menembus dan masuk ke aliran darah.

"Akibatnya bisa berupa tersedak atau aspirasi, diare berat, dehidrasi, hingga dan perburukan pada bayi sekecil ini bisa sangat cepat," pungkas dia.

Sebelumnya, kabar mengenai kondisi bayi A sebelumnya sempat viral di media sosial Threads. Sang nenek dikabarkan memberikan telur mentah lantaran percaya bahan makanan tersebut dapat menurunkan suhu tubuh cucunya yang sedang demam.

Bukannya membaik, kondisi kesehatan bayi A justru memburuk hingga harus dilarikan ke beberapa fasilitas kesehatan sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr. Soetomo.

Humas RSUD dr. Soetomo, Adin Niken, membenarkan bahwa pasien bayi A masuk dan mulai ditangani di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) sejak Jumat (9/10/2026).

"Tanggal 9 (masuk RSUD dr. Soetomo), pasien bayi tersebut telah kami layani dan diberikan penanganan medis sesuai kondisi serta kebutuhan medisnya," kata Adin saat dikonfirmasi, Senin (12/10/2026).

Namun, setelah dua hari menjalani perawatan intensif, nyawa bayi A tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (11/10/2026) pukul 07.10 WIB.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More