Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

HP Bisa Disadap Tanpa Klik Apa Pun, Pegasus Bikin Waswas

Kota Surabaya
3 min read
HP Bisa Disadap Tanpa Klik Apa Pun, Pegasus Bikin Waswas
ilustrasi password, kata sandi, data personal, cyber crime, kejahatan siber, hack (pexels.com/indra projects)
  • Isu penyadapan tokoh publik memicu sorotan pada Pegasus, spyware yang dapat menginfeksi ponsel Android maupun iOS lalu mengakses serta mengirim data pengguna.

  • Pegasus dapat memanfaatkan celah keamanan melalui serangan zero-click tanpa klik pengguna, juga berpotensi masuk lewat phishing, tautan berbahaya, pesan singkat, atau WiFi gratis.

  • Pengguna disarankan rutin memasang pembaruan keamanan, me-restart ponsel, dan menghindari tautan mencurigakan; baterai boros, ponsel panas, pop-up, atau data meningkat bukan tanda mutlak Pegasus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Penyadapan terhadap Presiden, pejabat istana, pimpinan partai politik, media, hingga aktivis yang dikaitkan dengan bekas Kepala Staf Kepresidenan sekaligus, mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo bersama sejumlah jenderal polisi, memunculkan kekhawatiran soal keamanan komunikasi digital.

Nah, salah satu perangkat lunak yang menjadi sorotan dalam isu penyadapan adalah Pegasus, spyware yang mampu menyusup ke ponsel dan mengambil data penggunanya.

Ketua Program Studi Teknik Elektro Universitas Kristen Petra (UK Petra), Petrus Santoso menjelaskan, Pegasus merupakan perangkat lunak mata-mata atau spyware yang dirancang untuk menginfeksi perangkat telepon pintar. Setelah masuk ke ponsel, perangkat lunak tersebut dapat mengakses informasi di dalamnya dan mengirimkan data ke pihak tertentu.

Salah satu hal yang membuat Pegasus berbahaya adalah kemampuannya memanfaatkan celah keamanan pada sistem operasi ponsel. Dalam kondisi tertentu, spyware bahkan dapat masuk tanpa pengguna harus mengeklik tautan atau mengunduh aplikasi terlebih dahulu. Teknik ini dikenal sebagai zero-click attack.

“Jadi ada lubang keamanan yang belum diperbaiki, itu bisa dimanfaatkan. Istilahnya zero-click attack. Spyware bisa terinstal karena dikirim dari tempat lain, kemudian diterima smartphone yang kebetulan memiliki celah keamanan,” jelas Petrus kepada IDN Times, Rabu (4/11/2026).

Menurut dia, Pegasus dapat bekerja pada perangkat berbasis Android maupun iOS. Selain memanfaatkan celah keamanan, spyware juga berpotensi masuk melalui teknik phishing, yakni dengan mengelabui pengguna agar mengeklik tautan atau membuka konten tertentu.

Salah satu contoh yang perlu diwaspadai adalah tautan undangan yang dikirim melalui pesan. Pengguna bisa saja mengira tautan tersebut berisi informasi biasa, padahal justru mengarah ke situs atau proses yang berbahaya.

“Kalau kita tidak sengaja mengeklik, kemudian menginstal software-nya, akhirnya smartphone kita bisa terinfeksi,” ujarnya.

Petrus menambahkan, penyebaran tautan berbahaya juga bisa terjadi melalui pesan singkat atau mekanisme tertentu ketika pengguna mengakses jaringan WiFi gratis. Dalam kondisi tertentu, tautan dapat disisipkan melalui teknik injection dan dikirim ke perangkat pengguna.

Ketika spyware berhasil masuk, data yang tersimpan di ponsel berpotensi diakses dan dikirimkan ke pihak lain. Kondisi tersebut membuat aktivitas pengguna seolah-olah dipantau atau disadap, meskipun secara teknis juga dapat dikategorikan sebagai pencurian data.

“Spyware ini bisa melihat data yang ada di smartphone kita, kemudian dikirim ke tempat tertentu. Jadi seolah-olah disadap, tetapi sebetulnya juga merupakan pencurian data yang dimanfaatkan untuk menyadap,” ungkapnya.

Untuk mencegah serangan semacam itu, Petrus menyarankan pengguna rutin memasang pembaruan keamanan atau security update pada sistem operasi ponsel. Pembaruan ini penting untuk menutup celah keamanan yang berpotensi dimanfaatkan peretas.

Pengguna juga disarankan melakukan restart ponsel secara berkala. Langkah ini dapat menginterupsi proses tertentu yang sedang berjalan, termasuk proses mencurigakan yang belum selesai. Meski demikian, restart bukan jaminan bahwa perangkat yang sudah terinfeksi spyware akan kembali aman.

Selain itu, masyarakat diminta tidak sembarangan membuka tautan dari nomor atau sumber yang tidak dikenal. Jika menerima tautan yang diragukan keamanannya, sebaiknya jangan langsung mengekliknya.

Petrus menyebut pengguna juga perlu mencermati perubahan perilaku ponsel. Baterai yang mendadak lebih cepat habis, perangkat terasa panas, muncul banyak jendela pop-up, hingga penggunaan data seluler yang meningkat tanpa sebab jelas bisa menjadi tanda adanya aktivitas mencurigakan.

Namun, gejala tersebut bukan indikator mutlak infeksi Pegasus. Kondisi serupa dapat disebabkan masalah lain pada perangkat, termasuk usia baterai atau aplikasi yang berjalan di latar belakang.

“Kalau baterai tiba-tiba cepat habis, HP menjadi panas, banyak pop-up, atau penggunaan data seluler boros, itu bisa menjadi indikasi. Tetapi belum tentu Pegasus, bisa juga spyware yang lain,” pungkasnya.

    Related Articles

    See More