Petir Mengintai saat Musim Hujan, Kenali Jenis dan Bahaya

Awal musim hujan meningkatkan risiko cuaca ekstrem dan petir, yang dapat menyebabkan cedera serius, kebakaran, kematian, serta kerusakan bangunan dan perangkat elektronik.
BMKG membagi petir menjadi cloud-to-ground, intra-cloud, dan cloud-to-cloud; jenis cloud-to-ground paling berbahaya karena dapat menyambar manusia maupun objek di permukaan bumi.
Saat guntur terdengar, segera berlindung di bangunan atau kendaraan tertutup, hindari air dan area terbuka, lalu tunggu 30 menit setelah guntur terakhir sebelum beraktivitas kembali.
Surabaya, IDN Times - Memasuki awal musim hujan, masyarakat perlu mewaspadai cuaca ekstrem yang kerap menyertai turunnya hujan, mulai dari angin kencang hingga petir. Ancaman petir tidak bisa dianggap sepele karena sambaran listrik dari atmosfer ini dapat menyebabkan cedera serius, kebakaran, bahkan kematian.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso menjelaskan, petir merupakan fenomena alam berupa pelepasan muatan listrik di atmosfer. Peristiwa ini terjadi akibat perbedaan muatan listrik di dalam awan maupun antara awan dan permukaan bumi.
Pelepasan energi listrik tersebut menghasilkan kilatan cahaya yang sangat terang, disertai suara gemuruh yang dikenal sebagai guntur. "Petir dapat menyambar objek di permukaan bumi dan menimbulkan risiko cedera, kebakaran, hingga kerusakan peralatan elektronik," ujarnya kepada IDN Times, Rabu (4/11/2026).
BMKG menjelaskan terdapat tiga jenis petir berdasarkan lokasi terjadinya pelepasan muatan listrik. Ketiganya adalah Cloud-to-Ground (CG), Intra-Cloud (IC), dan Cloud-to-Cloud (CC).
Jenis pertama sekaligus yang perlu diwaspadai masyarakat adalah cloud-to-ground atau petir dari awan ke permukaan bumi. Sambaran ini terjadi ketika muatan listrik antara awan dan tanah mengalami pelepasan energi. Petir jenis CG berbahaya karena dapat menyambar manusia, bangunan, pohon, maupun berbagai objek lain di permukaan bumi. Dampaknya bisa berupa cedera hingga kerusakan bangunan dan peralatan.
Berikutnya adalah intra-cloud (IC), yakni petir yang terjadi di dalam satu awan. Fenomena ini muncul akibat pelepasan muatan listrik antara bagian-bagian awan yang memiliki muatan berbeda.
Sementara itu, cloud-to-cloud (CC) merupakan petir yang terjadi antara dua awan atau lebih akibat perbedaan muatan listrik. Meski tidak langsung menyambar permukaan bumi, kilatan petir jenis ini tetap menjadi bagian dari aktivitas badai petir yang perlu diwaspadai.
Ricko menjelaskan, bahaya petir tidak hanya terbatas pada sambaran langsung ke tubuh manusia. Pelepasan energi listrik juga dapat menimbulkan dampak melalui lingkungan sekitar maupun instalasi listrik.
Sambaran petir dapat menyebabkan luka bakar, gangguan jantung, hingga kerusakan sistem saraf. Selain itu, energi petir berpotensi memicu kebakaran pada bangunan maupun vegetasi.
Dampak lainnya adalah kerusakan perangkat elektronik akibat lonjakan tegangan pada instalasi listrik. Aktivitas luar ruangan seperti olahraga, pekerjaan lapangan, hingga kegiatan di perairan juga berisiko ketika terjadi badai petir.
Masyarakat diminta segera mencari tempat berlindung ketika mendengar suara guntur. Jangan menunggu hujan turun atau kilatan petir terlihat semakin dekat untuk mengamankan diri.
Saat berada di dalam ruangan, masyarakat sebaiknya menjauhi pintu, jendela, balkon, dan teras terbuka. Hindari pula menggunakan perangkat elektronik yang terhubung langsung dengan stopkontak serta telepon kabel selama badai petir berlangsung.
Aktivitas yang berhubungan dengan air, seperti mandi, mencuci piring, atau menggunakan keran, juga perlu dihentikan sementara. Masyarakat disarankan tidak bersandar pada dinding beton maupun berbaring di lantai beton selama badai petir.
Lantas, bagaimana jika petir datang ketika seseorang sedang berada di luar ruangan dan tidak menemukan tempat berlindung?
BMKG mengimbau masyarakat segera menjauh dari tempat tinggi seperti bukit dan punggung gunung. Hindari pula berlindung di bawah pohon tunggal, berada dekat tiang atau pagar kawat, serta berdiri di sekitar genangan air.
Jika benar-benar terjebak dan tidak ada bangunan atau kendaraan tertutup untuk berlindung, masyarakat disarankan mengambil posisi jongkok serendah mungkin, merapatkan kedua kaki, serta meminimalkan kontak tubuh dengan permukaan tanah. Jangan berbaring telentang di tanah.
Setelah badai petir mereda, masyarakat juga tidak boleh langsung kembali beraktivitas di luar ruangan. Tunggu setidaknya 30 menit setelah suara guntur terakhir terdengar sebelum melanjutkan kegiatan.
Selama masa tunggu tersebut, masyarakat dianjurkan tetap berada di dalam bangunan atau kendaraan tertutup sembari memantau informasi cuaca resmi.
BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang sendiri melakukan pemantauan aktivitas petir di wilayah Malang dan sekitarnya selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Layanan informasi kejadian petir juga disediakan untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
"Masyarakat diimbau selalu memperhatikan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas luar ruangan. Jika terdengar guntur, segera cari tempat aman. Sebab, petir dapat menyambar dengan cepat dan tidak selalu memberikan banyak waktu bagi seseorang untuk menyelamatkan diri," imbau Ricko.





















