Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gen Z - Alpha Wajib Tahu: AI Bantu Hidup, Tapi Bisa Bikin Mager Mikir
Guru Besar Ilmu Sains Data Universitas Ciputra Surabaya, Prof Trianggoro Wiradinata. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Penggunaan AI makin masif di kalangan Gen Z dan Alpha, membantu tugas hingga pekerjaan kreatif, namun berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis jika digunakan tanpa kendali.
  • Prof Trianggoro Wiradinata menegaskan AI hanyalah alat bantu; ketergantungan berlebihan bisa memunculkan fenomena cognitive offloading dan 'ahli dadakan' yang mengabaikan proses belajar mendalam.
  • Ia mendorong literasi AI sejak dini serta penerapan konsep 'symbiotic workforce', agar manusia tetap menjadi pusat kendali dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian masif di kalangan Generasi Z dan Alpha. Teknologi ini dinilai mampu membantu berbagai aktivitas, mulai dari tugas sekolah hingga pekerjaan kreatif. Namun di balik kemudahannya, muncul ancaman serius jika pengguna tidak mampu mengendalikan cara memanfaatkannya.

Guru Besar Ilmu Sains Data Universitas Ciputra Surabaya, Prof Trianggoro Wiradinata, mengingatkan bahwa AI sejatinya hanyalah alat bantu, bukan pengganti manusia. Ia mengibaratkan AI seperti kendaraan yang harus tetap dikendalikan oleh penggunanya.

“AI itu mesin yang membantu. Tapi jangan sampai mesin itu menggantikan kita. Kita yang harus pegang kendali, bukan sebaliknya,” ujarnya saat ditemui acara pengukuhan guru besar, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, penggunaan AI yang tidak bijak berisiko memunculkan fenomena cognitive offloading, yakni kecenderungan menyerahkan proses berpikir kepada teknologi. Jika dibiarkan, hal ini dapat menurunkan kemampuan analisis dan berpikir kritis, terutama di kalangan pelajar.

Selain itu, muncul pula fenomena “ahli dadakan”, di mana seseorang merasa menguasai suatu bidang hanya bermodalkan bantuan AI tanpa proses belajar yang mendalam. Padahal, kata dia, kompetensi tidak bisa diperoleh secara instan.

“Jangan sampai ide dan cara berpikir kita justru hilang karena terlalu bergantung pada AI,” tegasnya.

Risiko lain yang turut disorot adalah penyalahgunaan teknologi seperti deepfake, yang berpotensi merusak integritas informasi di ruang digital. Kondisi ini menjadi tantangan serius di tengah tingginya adopsi AI di Indonesia.

Trianggoro mengungkapkan, sekitar 92 persen individu di Indonesia telah menggunakan AI. Namun, adopsi di tingkat organisasi baru mencapai 47 persen. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara penggunaan teknologi dan kesiapan dalam mengelolanya.

Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat kendali. Pengguna, khususnya Gen Z dan Alpha, didorong untuk tetap menyusun kerangka berpikir secara mandiri, mulai dari ide, analisis, hingga pengambilan keputusan.

AI, lanjutnya, sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat pendukung, seperti mencari referensi, mengolah data, atau membantu penyusunan bahasa. Sementara proses berpikir kritis harus tetap berasal dari manusia.

Ia juga memperkenalkan konsep “symbiotic workforce”, yaitu kolaborasi antara manusia dan AI yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan. “AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” katanya.

Ke depan, ia mendorong penguatan literasi AI sejak dini agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memahami, mengontrol, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Editorial Team