Gelombang Atmosfer Picu Hujan Lebat dan Angin Kencang di Jatim Sepekan

- BMKG memprakirakan hujan lebat dan angin kencang di Jatim selama sepekan, terhitung 26 Januari hingga 1 Februari 2026.
- Gelombang atmosfer Kelvin diprakirakan melintasi Jawa Timur dan memicu peningkatan potensi hujan dalam beberapa hari.
- Kondisi ENSO berada pada fase anomali negatif dengan indeks NINO3.4 sebesar -0,95, turut mendukung pertumbuhan awan konvektif di wilayah Jawa Timur.
Surabaya, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Timur berpotensi diguyur hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang sesaat selama sepekan, terhitung 26 Januari hingga 1 Februari 2026.
Berdasarkan Peringatan Dini Mingguan BMKG Juanda, potensi cuaca ekstrem terjadi hampir merata di berbagai kabupaten/kota pada awal hingga pertengahan pekan. Pada Senin (26/1/2026), hujan berpotensi terjadi di Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Kediri, Kota Kediri, Lamongan, Mojokerto, dan Nganjuk. Wilayah terdampak meluas pada Selasa hingga Rabu, mencakup Surabaya, Malang Raya, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Situbondo, hingga Banyuwangi.
BMKG mencatat potensi hujan masih berlanjut pada Kamis dan Jumat di sejumlah wilayah tapal kuda dan Mataraman, sementara pada Sabtu (31/1/2026) tidak terpantau potensi signifikan. Namun, hujan kembali berpeluang terjadi di Banyuwangi dan Malang pada Minggu (1/2/2026).
Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendi Irawadi, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang aktif di wilayah Jawa Timur. Dalam sepekan ini, gelombang atmosfer Kelvin diprakirakan melintasi Jawa Timur dan memicu peningkatan potensi hujan dalam beberapa hari.
“Gelombang atmosfer Kelvin akan melintasi wilayah Jawa Timur dan berdampak pada peningkatan pembentukan awan hujan,” ujar Rendi kepada IDN Times, Senin (26/1/2026).
Selain itu, kondisi ENSO berada pada fase anomali negatif dengan indeks NINO3.4 sebesar -0,95. Kondisi ini turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif di wilayah Jawa Timur. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada indeks +0,18 dan dinilai tidak berpengaruh signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat.
BMKG juga mencatat prediksi Outgoing Longwave Radiation (OLR) menunjukkan nilai negatif hingga netral di Jawa Timur, yang menandakan aktivitas konvektif masih cukup aktif. Meski Madden Julian Oscillation (MJO) diprakirakan berada di fase 6 atau wilayah Pasifik Barat dan kontribusinya terhadap pembentukan awan hujan di Jawa Timur relatif kecil, faktor lain tetap mendukung cuaca basah.
Dari sisi oseanografi, anomali suhu muka laut berkisar antara -1,0 hingga +0,5 derajat Celsius dan berpengaruh terhadap penambahan massa uap air di Selat Madura. Analisis angin lapisan 3.000 kaki juga menunjukkan dominasi angin dari barat daya hingga barat dengan potensi konvergensi dan belokan angin di Jawa Timur, yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, terutama di wilayah rawan. Masyarakat juga diminta menghindari daerah rawan bencana saat hujan lebat, menyiapkan perlengkapan darurat, serta memperhatikan kondisi drainase dan saluran air.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini melalui aplikasi Info BMKG, media sosial resmi BMKG, layanan pesan singkat, serta Call Center 196.


















