Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Energi Nuklir Dinilai Solusi Swasembada Energi Nasional

IMG-20260201-0058.jpg
3 akademisi/pakar membahas swasembada energi nasional. IDN Times/Ardiansyah.
Intinya sih...
  • Energi nuklir dianggap solusi swasembada energi nasional oleh pakar dan peneliti dari Surabaya.
  • PLTN unggul dalam densitas energi, bersih dari emisi karbon, dan dapat membantu fiskal serta stabilitas ekonomi.
  • Pembahasan energi nuklir mulai relevan untuk Indonesia dalam konteks transisi energi dan komitmen pengurangan emisi karbon.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Swasembada energi terus digaungkan dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah langkah pun dilakukan. Mulai dari pembentukan Dewan Energi Nasional hingga rencana penggunaan energi nuklir.

Hal tersebut pun mendapatkan respons dari pakar dan peneliti dari Surabaya. Ialah Peneliti dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra yang membeberkan keunggulan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

“PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” ujar Ary dalam diskusi bertema “Swasembada Energi di Era Prabowo: Antara Agenda Strategis dan Tantangan Implementasi” di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (1/2/2026).

Menurut Ary, dari sisi emisi, PLTN termasuk sumber energi bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. Hal ini membuat nuklir relevan dengan target penurunan emisi nasional. “Secara proses, nuklir itu bersih. Tidak ada emisi karbon, yang ada hanya panas untuk memutar turbin,” katanya.

Ary menambahkan, tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia bukan pada teknologinya, melainkan pada penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, dan integrasi dengan kawasan industri. Oleh karena itu Ary menyayangkan jika sampai saat ini masih ada isu negatif di masyarakat soal energi nuklir yang dinilai berbahaya bagi lingkungan.

“Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistemnya makin otomatis, kontrolnya ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil," tegasnya.

"Dengan teknologi terbaru, risiko itu bisa ditekan sangat rendah. Nuklir sering diserang lewat isu lingkungan, padahal kalau dibandingkan, pembangkit fosil justru jauh lebih mencemari,” imbuh Ary.

Dari persepktif ekonomi makro, ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Hendry Cahyono menilai energi nuklir akan sangat membantu fiskal dan stabilitas ekonomi. Selama ini, ketergantungan impor energi menjadi salah satu beban besar terhadap APBN dan neraca perdagangan.

“Dalam prinsip ekonomi, jika input energi lebih murah, output juga bisa lebih murah. Jika listrik dari PLTN lebih efisien, masyarakat tentu akan memilih karena lebih terjangkau," katanya.

"Bagi masyarakat, indikator kesejahteraan paling sederhana adalah harga. Kalau listrik murah, itu terasa langsung,” tambah Hendry.

Hendry pun optimistis dengan adanya energi nuklir yang dinilainya efisien, maka target utama elektrifikasi 100 persen di dalam negeri akan terpenuhi, terutama di wilayah Indonesia timur yang masih gelap jika dilihat dari citra satelit.

“Namun jika kebutuhan domestik sudah terpenuhi dan kapasitas berlebih, peluang ekspor ke negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura terbuka. Itu bisa menjadi peran strategis Indonesia di kawasan,” ungkapnya.

Sementara itu Dosen dan Peneliti Kebijakan Publik Unesa, Ahmad Nizar Hilmi menilai pembahasan energi nuklir mulai relevan untuk Indonesia, terutama dalam konteks transisi energi dan komitmen pengurangan emisi karbon.

Apalagi, kata dia, Indonesia punya cadangan uranium cukup besar di Kalimantan Barat yang dapat menjadi sumber daya utama PLTN. Meski begitu, ia mengingatkan agar pemerintah harus menekankan faktor keamanan dari pembangunan proyek ini.

Nizar juga menilai pemerintah perlu melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak perlu takut terhadap keamanan pengembangan PLTN. "Ada dua jenis mitigasi bencana, struktural dan non-struktural," katanya.

"Indonesia selama ini lebih fokus ke mitigasi struktural, padahal edukasi publik atau mitigasi non-struktural sangat penting," pungkas dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More

Energi Nuklir Dinilai Solusi Swasembada Energi Nasional

01 Feb 2026, 17:45 WIBNews