Awal Februari, Cuaca Ekstrem Berpotensi Melanda Jatim, Ini Daerahnya

- BMKG Juanda memperingatkan potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur pada 1–10 Februari 2026, termasuk hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.
- Wilayah yang perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem meliputi Kabupaten Pacitan hingga Sumenep serta wilayah perkotaan seperti Kota Kediri dan Surabaya.
- Peningkatan cuaca ekstrem dipengaruhi oleh faktor atmosfer seperti aktifnya Monsun Asia dan gangguan gelombang atmosfer skala besar di Jawa Timur.
Surabaya, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Timur pada periode 1–10 Februari 2026. Kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendi Irwandi, mengatakan seluruh wilayah Jawa Timur saat ini telah memasuki musim hujan, bahkan sebagian daerah masih berada pada fase puncak musim hujan. Dalam 10 hari ke depan, potensi cuaca ekstrem diprakirakan meningkat dan berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat.
"Diprakirakan dalam periode 1 sampai 10 Februari 2026 akan terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem yang dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi,” ujar Rendi.
BMKG Juanda mencatat wilayah yang perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem meliputi Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Selain itu, potensi serupa juga mengancam wilayah perkotaan, yakni Kota Kediri, Kota Blitar, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Surabaya, dan Kota Batu.
Rendi menjelaskan, peningkatan cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer. Di antaranya aktifnya Monsun Asia, gangguan gelombang atmosfer skala besar seperti Low Frequency, Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin yang melintasi wilayah Jawa Timur.
"Ditambah suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan serta kondisi atmosfer lokal yang labil. Faktor-faktor ini mendukung pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang,” jelasnya.
BMKG Juanda mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara mendadak. Wilayah dengan topografi curam, pegunungan, dan tebing diminta lebih waspada terhadap potensi banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, hingga berkurangnya jarak pandang.
"Masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca terkini, termasuk melalui citra radar cuaca WOFI BMKG Juanda, agar dapat melakukan langkah antisipasi lebih dini,” pungkas Rendi.


















