Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Aksi diwarnai pertunjukan seni di Taman Apsari depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Ratusan massa Aliansi Surabaya Bergerak dan Srikandi Surabaya menggelar aksi damai di Taman Apsari, menyampaikan aspirasi melalui poster, puisi, musik, dan pertunjukan seni.

  • Demonstran membagikan pembalut kepada Polwan, sementara polisi memasang spanduk sambutan dan menawarkan bunga yang ditolak massa.

  • Juru bicara aksi menuntut pendataan terbuka dampak kesehatan karhutla, pemantauan jangka panjang bagi anak-anak terdampak, serta penguatan puskesmas dan layanan kesehatan berkelanjutan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
8 November 2026

Aliansi Surabaya Bergerak dan Srikandi Surabaya menggelar aksi damai di Taman Apsari, depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Demonstran membagikan pembalut kepada Polwan dan menolak bunga dari polisi, sambil menuntut perhatian pemerintah terhadap dampak kesehatan karhutla serta kebijakan layanan kesehatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Aliansi Surabaya Bergerak dan Srikandi Surabaya menggelar demonstrasi damai, membagikan pembalut kepada Polwan, menolak bunga dari polisi, serta menyuarakan dampak kesehatan karhutla dan kebijakan layanan kesehatan.
  • Who?
    Ratusan massa Aliansi Surabaya Bergerak dan Srikandi Surabaya, juru bicara aksi Putri Bunga, Polisi Wanita, serta aparat kepolisian terlibat dalam kegiatan tersebut.
  • Where?
    Aksi berlangsung di Taman Apsari dan depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur.
  • When?
    Demonstrasi berlangsung pada Minggu, 8 November 2026.
  • Why?
    Massa menuntut perhatian pemerintah terhadap dampak kesehatan bencana dan karhutla, termasuk data gangguan pernapasan, ISPA, korban meninggal, pemantauan anak terdampak, serta penguatan fasilitas layanan kesehatan.
  • How?
    Massa membentangkan poster dan spanduk, membacakan puisi, bernyanyi, serta menggelar pertunjukan seni. Demonstran menghampiri Polwan untuk membagikan pembalut, sementara polisi memasang spanduk dan menawarkan bunga yang ditolak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ratusan orang berkumpul di Taman Apsari, Surabaya. Mereka membagi pembalut kepada polisi perempuan. Polisi memberi bunga, tapi bunga tidak diterima. Mereka bernyanyi dan membaca puisi dengan damai. Putri Bunga meminta pemerintah menjaga anak-anak dari asap kebakaran hutan dan mencatat orang yang sakit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Aksi di Surabaya memperlihatkan ruang demokrasi yang damai dan kreatif, ketika ratusan peserta menyampaikan aspirasi melalui seni, puisi, dan dialog simbolis dengan aparat. Keterlibatan dokter muda juga memberi perhatian khusus pada pentingnya pendataan terbuka, pemantauan kesehatan, serta akses layanan bagi warga dan anak-anak terdampak karhutla.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Aksi demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (8/11/2026), berlangsung dengan cara yang tak biasa. Di tengah penjagaan polisi, sejumlah demonstran justru menghampiri barisan Polisi Wanita (Polwan) untuk membagikan pembalut.

Polwan yang berjaga menyambut kedatangan mereka. Sebagai balasan, polisi membentangkan spanduk bertuliskan "Selamat Datang Pejuang Aspirasi". Mereka juga sempat menawarkan bunga kepada demonstran. Namun, pemberian bunga itu ditolak.

Momen tersebut menjadi salah satu potret aksi Aliansi Surabaya Bergerak bersama Srikandi Surabaya di Taman Apsari. Ratusan massa berkumpul untuk menyampaikan aspirasi dengan beragam cara, mulai dari membentangkan poster dan spanduk, membacakan puisi, bernyanyi, hingga menggelar pertunjukan seni.

Aksi berlangsung damai. Massa berfokus menyuarakan tuntutan di kawasan taman, sementara aparat kepolisian berjaga di depan Gedung Negara Grahadi.

Di balik suasana aksi yang diwarnai pertunjukan seni dan interaksi dengan polisi, ada persoalan serius yang ingin disorot para demonstran. Salah satunya adalah dampak kesehatan akibat bencana alam dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Juru Bicara Aksi, Putri Bunga mengatakan, dirinya turun sebagai mahasiswa profesi dokter atau dokter muda. Ia menilai dampak kesehatan karhutla terhadap masyarakat, terutama anak-anak, perlu mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah.

Putri menyoroti belum jelasnya data mengenai jumlah warga yang mengalami gangguan pernapasan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga korban meninggal yang berkaitan dengan bencana dan karhutla. Menurutnya, data tersebut harus diperbarui dan ditelusuri secara terbuka.

"Harusnya pemerintah kalau melihat ada angka dari luar, mereka kaji. Benar enggak kira-kira yang meninggal itu? Kalau benar, ada berapa, di mana, penyebabnya apa," ujarnya.

Ia menilai pendataan tidak boleh berhenti pada angka korban saat bencana berlangsung. Pemerintah juga perlu memantau kondisi kesehatan warga setelah terpapar asap karhutla, termasuk dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.

Menurut Putri, anak-anak yang terdampak membutuhkan langkah pencegahan dan penanganan yang jelas. Ia mempertanyakan program lanjutan pemerintah untuk memastikan kesehatan mereka tetap terjaga.

"Harusnya pemerintah juga mengeluarkan, oke, yang anak-anak terkena dampak karhutla, untuk pertumbuhannya supaya tumbuh kembangnya bagus itu dikasih pencegahannya bagaimana, menanggulanginya bagaimana?" katanya.

Putri juga mengkritik kondisi tersebut karena dinilai bertolak belakang dengan cita-cita pemerintah membangun generasi emas dan menekan angka stunting. Menurutnya, anak-anak yang terpapar polusi asap justru berisiko menghadapi persoalan kesehatan yang dapat memengaruhi masa depan mereka.

Selain dampak karhutla, Putri menyinggung kebijakan layanan kesehatan yang menurutnya perlu dikaji lebih matang. Ia mempertanyakan rencana penguatan layanan klinik yang disebutnya berpotensi mengurangi peran dokter dan lebih banyak mengandalkan bidan serta perawat.

Ia juga mempertanyakan mengapa pemerintah tidak lebih dahulu memperkuat fasilitas kesehatan yang sudah tersedia, seperti puskesmas, sebelum membuat berbagai program baru.

"Kenapa enggak dibagusin aja? Kenapa mereka selalu membuat gebrakan baru yang sebenarnya seolah-olah Indonesia baru merdeka? Yang sudah bagus dibikin lebih bagus lagi, yang kurang dibikin lebih bagus lagi, yang belum ada ya dibuat," ungkapnya.

Putri menambahkan, persoalan kesehatan masyarakat seharusnya ditangani melalui kebijakan yang berkelanjutan, mulai dari pendataan korban, pemantauan kondisi pasien, hingga memastikan layanan kesehatan dapat diakses masyarakat yang terdampak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article