Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tokoh Perempuan Raih Fatima Al-Fihriya Award 2026, Termasuk Khofifah

Kota Surabaya
4 min read
5 Tokoh Perempuan Raih Fatima Al-Fihriya Award 2026, Termasuk Khofifah
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama anggota Wantimpres, Sinta Nuriyah Wahid. Dok. Pemprov Jatim.
  • Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima Fatima Al-Fihriya Award 2026 di Surabaya atas kepemimpinan perempuan dan pemberdayaan sosial, bersama empat tokoh perempuan dari Indonesia, Singapura, Maroko, dan Tunisia.

  • Khofifah mendedikasikan penghargaan bagi perempuan, kader organisasi, dan relawan sosial; ia menekankan kepemimpinan yang mendengar kebutuhan warga serta membuka akses belajar, mandiri, dan pengambilan keputusan.

  • Ia menegaskan pemberdayaan harus melampaui seremoni dan laporan program, dengan pelibatan perempuan sejak perencanaan, pengecekan layanan langsung, serta jangkauan bagi penyandang disabilitas dan warga wilayah terpencil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Penghargaan internasional untuk kepemimpinan perempuan diterima Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Namun, di tengah penganugerahan Fatima Al-Fihriya Award 2026 tersebut, Khofifah mengingatkan bahwa pemberdayaan perempuan tak cukup berhenti pada seremoni maupun laporan program. Akses pendidikan, kemandirian ekonomi, hingga keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan harus benar-benar dirasakan masyarakat.

Khofifah menerima penghargaan tersebut di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Penghargaan diberikan atas kiprahnya dalam kepemimpinan perempuan dan pemberdayaan sosial. Fatima Al-Fihriya Award edisi keenam ini tidak hanya diberikan kepada Khofifah. Empat tokoh perempuan lainnya juga menerima penghargaan, yakni Ibu Negara RI periode 1999–2001 sekaligus anggota Wantimpres, Sinta Nuriyah Wahid; mantan Presiden Singapura, Halimah Yacob; Bassima Hakkaoui dari Maroko; serta Neziha Labidi dari Tunisia.

Penganugerahan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Asosiasi Profesor Muslimat NU, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Programme MED 21, Association de Soutien au Programme MED 21, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Penghargaan tersebut ditujukan kepada perempuan yang dinilai memiliki kontribusi di bidang pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Usai menerima penghargaan, Khofifah menyampaikan bahwa kehormatan tersebut ia dedikasikan kepada perempuan, kader organisasi, dan relawan sosial yang selama ini bekerja mendampingi masyarakat.

“Saya bersyukur dan merasa terhormat atas penghargaan yang dianugerahkan kepada saya. Kehormatan ini saya dedikasikan kepada para perempuan Jawa Timur dan Indonesia, kader Muslimat NU, kader organisasi wanita lainnya juga para relawan sosial,” kata Khofifah.

Ia juga menyinggung keteladanan Fatima al-Fihriya, perempuan yang menurut riwayat mewakafkan hartanya untuk mendirikan Masjid al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, lebih dari seribu tahun lalu. Tempat tersebut kemudian berkembang menjadi pusat keilmuan dan salah satu universitas tertua di dunia.

Bagi Khofifah, kisah tersebut memperlihatkan bagaimana kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata bisa memberikan manfaat lintas generasi. Ia mengaitkannya dengan makna kepemimpinan perempuan, yakni membuka kesempatan agar perempuan lain dapat belajar, mandiri, dan ikut menentukan keputusan yang memengaruhi kehidupannya.

Pengalaman Khofifah bersama Muslimat NU, menurutnya, juga mengajarkan pentingnya kepemimpinan yang dekat dengan persoalan warga. Para kader di tingkat akar rumput dinilai memahami keluarga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan, anak-anak yang terancam putus sekolah, hingga warga yang membutuhkan dukungan ekonomi.

“Kepercayaan warga tumbuh karena para kader hadir dan mendengarkan. Dari merekalah saya belajar bahwa mendengar dengan sungguh-sungguh merupakan bagian penting dari memimpin,” ujarnya.

Di Jawa Timur, salah satu program pemberdayaan perempuan yang dijalankan adalah Kewirausahaan Inklusif Produktif Perempuan Tangguh Mandiri Jawa Timur Sejahtera (KIP Putri Jawara). Program ini memberikan bantuan modal usaha bagi perempuan yang menghadapi keterbatasan ekonomi, termasuk mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.

Meski demikian, Khofifah menekankan bahwa perempuan perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan program. Sebab, pengalaman dan kebutuhan mereka harus menjadi pertimbangan dalam menyusun kebijakan, bukan sekadar menjadi sasaran penerima bantuan.

“Kesertaan perempuan menjadi pengambil keputusan itu menunjukkan bahwa perempuan punya kekuatan bargaining position di banyak lini,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pemerintah agar tidak hanya mengandalkan laporan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menilai keberhasilan program. Pemeriksaan langsung diperlukan untuk memastikan layanan benar-benar menjangkau masyarakat dan memberikan manfaat.

“Tidak cukup hanya mengandalkan laporan perangkat daerah (OPD), apakah program sudah berjalan dan jangkauan layanan kita sudah dirasakan masyarakat atau belum,” katanya.

Khofifah menegaskan, prinsip No One Left Behind harus diterapkan dengan menjangkau kelompok perempuan yang menghadapi hambatan lebih besar, termasuk penyandang disabilitas dan mereka yang tinggal di wilayah terpencil. Keberhasilan pemberdayaan, menurutnya, tidak hanya diukur dari jumlah program, tetapi juga terbukanya akses pendidikan, pekerjaan, kemandirian ekonomi, dan ruang pengambilan keputusan.

Sementara itu, perwakilan lembaga pemberi penghargaan dari Forum Azzahra for Moroccan Women sekaligus Ketua Asosiasi Program Mediterania 21 dari Tunisia, Muhammad Al Arabi bin Athiyyah, mengapresiasi dukungan Khofifah dalam penyelenggaraan The Sixth Fatima Al-Fihriya Awards 2026 di Indonesia.

Ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi penyemangat bagi perempuan di berbagai negara untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam pendidikan serta kemanusiaan. Adapun Sinta Nuriyah Wahid menerima penghargaan atas dedikasinya dalam advokasi kemanusiaan dan kesetaraan gender. Halimah Yacob mendapat penghargaan atas kiprahnya dalam kepemimpinan perempuan, keadilan sosial, dan tata kelola.

Bassima Hakkaoui dianugerahi penghargaan atas kontribusinya dalam pemberdayaan perempuan dan kebijakan sosial. Sementara Neziha Labidi mendapat penghargaan atas pengabdiannya dalam hak perempuan dan anak serta pembangunan keluarga.

Penganugerahan tersebut turut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta, Ketua Asosiasi Profesor Muslimat NU Amany Lubis, jajaran Forkopimda Jawa Timur, serta kepala perangkat daerah Pemprov Jatim.

    Related Articles

    See More