Ekonomi Jatim Tumbuh 5,83 Persen, Tertinggi se-Pulau Jawa, Tapi...

Ekonomi Jawa Timur tumbuh kumulatif 5,83 persen sepanjang Januari-September 2026, tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan nasional 5,45 persen.
Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar PDRB, sementara akomodasi-makan minum tumbuh tercepat 11,29 persen; konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama ekonomi.
Jumlah penduduk bekerja mencapai 24,36 juta orang dengan TPT 3,60 persen; pemerintah menekankan pemerataan manfaat melalui lapangan kerja, pemasok lokal, UMKM, dan penguatan keterampilan.
Surabaya, IDN Times - Ekonomi Jawa Timur (Jatim) tumbuh 5,83 persen sepanjang Januari-September 2026. Capaian ini menempatkan Jatim di posisi teratas dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa, bahkan melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, di balik angka yang kinclong tersebut, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan benar-benar terasa hingga ke kantong masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, pertumbuhan ekonomi Jatim secara kumulatif atau cumulative-to-cumulative (c-to-c) mencapai 5,83 persen. Angka ini sedikit di atas Jawa Tengah yang tumbuh 5,82 persen, Jawa Barat 5,81 persen, DI Yogyakarta 5,80 persen, DKI Jakarta 5,66 persen, dan Banten 5,62 persen.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional secara kumulatif tercatat sebesar 5,45 persen. Artinya, ekonomi Jatim mampu melaju lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional maupun lima provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi seluruh elemen masyarakat yang ikut menjaga momentum pertumbuhan tersebut. Menurutnya, capaian ekonomi bukan semata hasil kerja pemerintah, melainkan kontribusi dunia usaha, pekerja, petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga masyarakat.
"Alhamdulillah, secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,83 persen, melampaui nasional dan menjadi yang tertinggi se-Pulau Jawa. Capaian ini merupakan hasil kerja bersama para pelaku usaha, pekerja, petani, nelayan, UMKM, serta seluruh masyarakat Jawa Timur," ujarnya.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi tulang punggung perekonomian Jatim dengan kontribusi sebesar 31,26 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Posisi berikutnya ditempati perdagangan sebesar 18,37 persen serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 11,12 persen.
Ketiga sektor tersebut sama-sama tumbuh positif. Industri pengolahan tumbuh 5,95 persen, perdagangan 6,23 persen, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,01 persen. Sektor konstruksi bahkan mencatat pertumbuhan 8,18 persen.
Namun, pertumbuhan paling tinggi justru datang dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencapai 11,29 persen secara kumulatif. Kinerja sektor ini didukung meningkatnya aktivitas masyarakat melalui berbagai kegiatan lokal dan nasional, termasuk aktivitas penyediaan makanan dan minuman dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama ekonomi Jatim dengan kontribusi mencapai 60,60 persen. Komponen ini tumbuh 5,72 persen. Sementara itu, investasi fisik atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh lebih tinggi, yakni 8,37 persen.
Khofifah menilai besarnya kontribusi konsumsi rumah tangga membuat daya beli masyarakat harus terus dijaga. Ketersediaan bahan kebutuhan pokok, kelancaran distribusi, dan pengendalian harga menjadi faktor penting agar aktivitas belanja masyarakat tetap bergerak.
"Daya beli masyarakat harus terus kita jaga. Pada saat yang sama, kita perlu memastikan investasi yang masuk dapat memperkuat kapasitas produksi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat Jawa Timur," katanya.
Kinerja ekonomi tersebut juga diikuti peningkatan jumlah penduduk bekerja. BPS mencatat, jumlah penduduk bekerja di Jatim pada Agustus 2026 mencapai 24,36 juta orang. Angka itu bertambah 559,62 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 3,60 persen.
Meski demikian, Khofifah mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti sebagai angka statistik. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan manfaatnya menjangkau lebih banyak masyarakat melalui peningkatan kesempatan kerja, pengembangan usaha produktif, serta akses pasar bagi pelaku ekonomi lokal.
Ia mendorong agar pertumbuhan industri dan perdagangan turut melibatkan petani, nelayan, serta UMKM dalam rantai pasok. Dengan begitu, pelaku usaha di daerah bisa memperoleh pasar yang lebih luas dan ikut menikmati perputaran ekonomi.
"Industri yang berkembang perlu semakin banyak melibatkan pemasok lokal. Produk petani, nelayan, dan UMKM harus memperoleh akses pasar yang lebih luas, sehingga perputaran ekonomi memberikan manfaat hingga ke desa-desa," ungkapnya.
Secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), ekonomi Jatim pada triwulan III 2026 tumbuh 5,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut melampaui pertumbuhan nasional sebesar 5,47 persen. Adapun secara triwulanan atau quarter-to-quarter (q-to-q), ekonomi Jatim tumbuh 1,80 persen dibandingkan triwulan II 2026.
Khofifah pun mengajak pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun. Penguatan keterampilan tenaga kerja dan kompetensi sumber daya manusia juga dinilai penting agar warga Jatim tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang terus berkembang.




















