Dari Ruang Kelas di Jatim Menuju Kursi Pemimpin Papua

- Sebanyak 127 siswa Papua lulusan Program ADEM Jatim dilepas setelah tiga tahun menempuh pendidikan dan beradaptasi dengan budaya serta lingkungan baru di berbagai SMA dan SMK Jawa Timur.
- Kisah Yazinta Kaipman menggambarkan perubahan dari rasa takut menjadi syukur, menemukan penerimaan hangat masyarakat Pasuruan, serta membuktikan semangat persaudaraan antara Jawa dan Papua.
- Pemprov Jatim berharap para lulusan ADEM Papua menjadi generasi berani yang kelak memimpin daerahnya, bahkan Indonesia, membawa pengalaman dan nilai keberagaman dari masa belajar di Jatim.
Surabaya, IDN Times - Deru tepuk tangan memenuhi aula Dinas Pendidikan Jawa Timur (Jatim). Ratusan pasang mata tertuju pada sekelompok anak muda yang berdiri mengenakan jaket kebanggaan Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Papua.
Di tangan mereka berkibar bendera Merah Putih. Sebagian tersenyum lebar, sebagian lain berusaha menyembunyikan haru. Hari itu bukan sekadar seremoni pelepasan siswa. Bagi 127 pelajar asal Papua, itu adalah penutup perjalanan panjang yang dimulai tiga tahun lalu saat mereka meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan zona nyaman demi mengejar pendidikan di Jatim.
Di tengah riuh kibaran bendera, kisah-kisah perjuangan itu kembali teringat. Ada yang datang ke Jawa dengan rasa takut. Ada yang belum pernah berpisah jauh dari orang tua. Ada pula yang harus belajar beradaptasi dengan budaya, bahasa, dan lingkungan baru yang sama sekali berbeda dari tanah kelahirannya.
Namun tiga tahun kemudian, mereka berdiri dengan wajah berbeda. Lebih percaya diri, lebih matang, dan membawa mimpi yang lebih besar.
Salah satunya Yazinta Kaipman, siswi SMAN 1 Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Saat diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesan di hadapan para pejabat, guru, dan teman-temannya, suara Yazinta sempat bergetar. Ia mengingat kembali hari pertama meninggalkan Papua.
"Sebenarnya kami takut untuk ke sini, merantau jauh dari orang tua," katanya. Namun ketakutan itu perlahan berubah menjadi rasa syukur.
Di Pasuruan, ia menemukan rumah kedua. Ia bercerita bagaimana masyarakat menerima mereka dengan tangan terbuka. Di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal, para siswa Papua tidak pernah merasa menjadi orang asing.
"Di Pasuruan sangat welcome untuk kita. Jadi kami sebagai anak Papua tidak merasa sendirian di sini. Selalu ada yang menemani dan membantu," ungkapya. Kalimat berikutnya membuat suasana aula mendadak hening. Yazinta mengutip lirik lagu dari sekolahnya di Papua. "Yang Jawa menyambut indah, Papua datang bahagia."
Ketika lirik itu ia dengar untuk pertama kali, Yazinta mengaku belum benar-benar memahaminya. Namun setelah tiga tahun hidup di Jatim, kalimat itu menjadi nyata. "Ketika datang ke sini ternyata kami disambut dengan sangat bahagia," tuturnya.
Bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, kisah Yazinta hanyalah satu dari ratusan cerita yang lahir dari Program ADEM Papua. Tahun ini, sebanyak 135 siswa ADEM Papua dinyatakan lulus.
Dari jumlah itu, 127 siswa dipulangkan ke daerah asal masing-masing dengan pendampingan 10 pembimbing. Delapan siswa lainnya telah lebih dulu kembali karena mengikuti seleksi TNI-Polri maupun pendidikan kedinasan.
Mereka berasal dari berbagai wilayah di Tanah Papua, mulai Jayapura, Biak, Nabire, Timika, Merauke, Wamena, Manokwari hingga Sorong.
Selama tiga tahun terakhir mereka menempuh pendidikan di berbagai SMA dan SMK di Jawa Timur, hidup berdampingan dengan siswa-siswa dari beragam latar belakang budaya.
Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Dinas Pendidikan Jatim, Murdianto, menyebut program ini terus berkembang. Saat ini terdapat 440 siswa ADEM Papua yang masih menempuh pendidikan di Jatim.
Namun di balik angka-angka tersebut, tersimpan harapan yang jauh lebih besar. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekdaprov Jatim, Imam Hidayat, menyebut para siswa Papua yang dilepas hari itu bukan sekadar lulusan SMA.
Mereka adalah generasi yang kelak diharapkan menjadi pemimpin. Ia menyampaikan salam dan pesan khusus dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa kepada para siswa yang akan kembali ke tanah kelahiran mereka.
"Harapannya satu, mereka akan kembali dan menjadi pemimpin-pemimpin di Papua nantinya. Bahkan kami berharap suatu saat mereka menjadi pemimpin di Indonesia," katanya.
Anak-anak Papua memiliki satu karakter yang selalu membuat Imam kagum. Keberanian. Keberanian untuk menyampaikan pendapat. Keberanian untuk beradaptasi. Keberanian meninggalkan kampung halaman demi mengejar masa depan.
Ia bahkan mengaku sering menemukan anak-anak Papua yang mampu beradaptasi lebih cepat dibanding dirinya sendiri ketika berada di lingkungan baru. "Mereka ini hebat beradaptasi. Saya percaya nanti mereka yang akan memimpin Papua, bahkan mungkin memimpin Indonesia ke depan," ungkapnya.
Pesan itu seolah menjadi penutup sempurna bagi perjalanan tiga tahun para siswa ADEM Papua di Jatim. Sebentar lagi mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Kembali ke pegunungan Wamena, pesisir Biak, Sorong, Merauke, Jayapura, dan berbagai sudut Tanah Papua lainnya.
Mereka pulang bukan lagi sebagai anak-anak yang dulu berangkat dengan rasa takut. Mereka pulang membawa pengalaman, ilmu, jejaring pertemanan lintas daerah, dan keyakinan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari mana saja.


















