"Orang dari luar Kampung Nelayan Sukolilo Baru mungkin lebih dahulu mengenal tempat ini dari bau ikan yang menyebar di sepanjang gang.
Bagi sebagian orang, baunya terasa menyengat. Bagi saya, itulah aroma rumah. Bau ikan bercampur garam dan angin laut sudah menemani kehidupan saya sejak kecil."
Dari Bau Ikan ke Buku, Suara Anak Nelayan Memotret Pesisir Surabaya

Buku "Laut Bukan Tanah Kosong" memotret kehidupan warga Kampung Nelayan Sukolilo Baru, Surabaya, melalui cerita yang ditulis anak-anak pesisir setempat.
Buku ini digagas Yayasan Avicena bersama jurnalis Muhammad Nur Fatoni lewat pelatihan menulis, meski para penulis awalnya belum memiliki pengalaman.
Kisah-kisahnya merekam perjuangan keluarga nelayan, kerja perempuan, tradisi kuliner, mimpi anak-anak, serta laut sebagai sumber rezeki sekaligus ruang penuh perubahan.
Surabaya, IDN Times - Itulah paragraf pembuka bab pertama sebuah buku berjudul "Laut Bukan Tanah Kosong". Buku itu ditulis anak-anak pesisir kampung nelayan Kelurahan Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya.
Buku ini memotret kehidupan tempat mereka tinggal, sebuah rumah di ujung timur Kota Surabaya yang berbatasan langsung dengan laut. Ada soal cerita orang tua mereka sebagai nelayan, tradisi kampung, keresahan kondisi laut yang tercemar hingga mimpi-mimpi.
Buku ini digagas oleh pendir8 Taman Baca Masyarakat Yayasan Avicena, Kampung Nelayan Pesisir Pantai Kenjeran, Tri Eko Sulistiowati bekerjasama dengan jurnalis senior Muhammad Nur Fatoni lewat pelatihan menulis.
Bagi Tri, Laut Bukan Tanah Kosong berangkat dari sebuah kesadaran sederhana, kehidupan masyarakat pesisir terlalu berharga jika hanya lewat sebagai keseharian tanpa pernah dicatat. Di balik suara mesin perahu, ada perjuangan seorang ayah. Di balik ikan yang dijemur, ada tangan-tangan perempuan yang bekerja. Di balik semangkuk keloan bola udang, ada resep, tradisi, dan ingatan keluarga. Di balik anak-anak yang bermain di kampung, ada mimpi tentang masa depan.
Laut yang selama bertahun-tahun menjadi halaman kehidupan masyarakat Sukolilo Baru. Laut yang memberi rezeki, tetapi juga mengajarkan kesabaran. Laut yang dapat bersahabat, tetapi sewaktu-waktu dapat menghadirkan kecemasan. Laut yang hari ini masih menjadi sumber kehidupan, tetapi juga menghadapi berbagai perubahan yang tidak dapat kita abaikan.
"Laut Bukan Tanah Kosong ini kumpulan cerita anak-anak nelayan yang selama ini banyak menjalani kehidupan di keluarga masing-masing yang berbeda-beda," ujar Tri, Selasa (4/11/2026).
Anak-anak yang menulis Laut Bukan Tanah Kosong tidak memiliki latar belakang dan pengalaman menulis. Tapi mereka diajari dengan telaten agar bisa menulis cerita mereka sendiri.
"Mereka dari zero, benar-benar menjadi buku, ini membuat mereka punya keyakinan diri yang lebih bahwa ternyata saya bisa," kata dia.
Lewat buku ini, Tri berharap semua orang bisa mengenal tempat yang barangkali bagi orang lain terasa asing. Karena menurutnya, setiap kampung punya cerita, setiap keluarga memiliki perjuangan, setiap anak memiliki mimpi dan setiap suara, sekecil apa pun, layak untuk didengar dan tidak seharusnya hilang.




















