Cerita Sinta Tiap Hujan Kedatangan Tamu, Namanya Banjir

Surabaya, IDN Times - Awan mendung pekat mulai terlihat di Surabaya, Selasa (27/2/2024). Sinta (33) pun beriap-siap menata barang-barang di rumahnya yang terletak di Dukuh Kupang agar selamat dari air hujan yang masuk ke rumahnya. Kegiatan itu rutin dilakukan saat tanda-tanda hujan lebat akan datang. Ketika air hujan mulai memenuhi jalanan, warga akan memukul kentongan di pos kamling. Hal itu sebagai tanda agar warga segera bersiap-siap mengantispasi banjir.
Selama bertahun-tahun Sinta dan masyarakat di kampung tersebut seakan sudah bersahabat dengan banjir. Mereka bergelut dengan air keruh setiap saat ketika hujan lebat turun. “Jadi di dalam rumah ada kayak tempat buat naruh barang, kalau sudah terlanjur basah ya dibiarin, besoknya dijemur. Yang kena banjir biasanya baju-baju,” kata Sinta.
Sinta bilang, banjir di kampungnya itu semakin hari semakin tinggi. Dulu, banjir hanya sekitar 30 sentimeter. Kini air sudah sedadanya, atau lebih dari 50 sentimeter. “Waktu zaman saya kecil dulu hujannya lama baru banjir, sekarang hujan sebentar sudah langsung banjir,” terangnya.
Berbagai cara dilakukan warga agar air tak masuk ke dalam rumah. Seperti meninggikan rumah, membuat penahan di depan pintu dan lain sebagainya. Tapi tetap saja, air bisa masuk ke dalam rumah. Dia beranggapan, semakin tingginya banjir di kawasan rumahnya itu karena lahan kosong yang kini berubah menjadi bangunan. Air yang seharusnya memenuhi lahan kosong tersebut, justru beralih ke tempat tinggalnya.
Air yang menggenangi rumah Sinta memang tak lama, maksimal tiga jam sudah surut. Meski begitu, kondisi tersebut cukup merepotkan. Sebab, dirinya harus membersihkan rumah dari sisa-sisa air banjir yang kotor, serta membereskan barang-barang yang sebelumnya dia letakkan di tempat yang lebih tinggi.
“Cukup menganggu boyok (pinggang) ya, karena kan harus beres-beres rumah,” ujar dia.
Banjir yang hanya sebentar itu cukup menganggu keluarganya. Bagaimana tidak, Sinta harus mengondisikan anaknya agar tidak turun dan bermain dengan air banjir. Sebab, anaknya yang kini telah berusia 10 tahun tersebut pernah terkena diare saat berumur 2 tahun akibat bermain air banjir. “Waktu umur dua tahun pernah diare karena kena banjir,” tutur Sinta. Belum lagi, risiko arus banjir yang dapat membuat anak-anak hanyut. “Ada kemarin anak dua kenter (hanyut) kena air banjir, ditolongi dan untungnya selamat,” sebutnya. Sinta pun berharap agar pemerintah Kota Surabaya segera menangani permasalahan ini.
Titik banjir di Kota Surabaya sendiri tak cuma ada Dukuh Kupang. Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya mencatat saat ini ada sekitar 245 titik. Dari 245 titik tersebut yang paling parah terjadi di Dukuh Kupang, wilayah Pondok Benowo Indah (PBI), Jalan Tengger, dan Pakal Madya.
Dosen Teknik Sipil Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Muhammad Hafiz mengatakan, ada berbagai macam faktor terjadinya banjir di Surabaya. Faktor pertama karena adanya limpahan air dari daerah lain. Seperti yang terjadi di Surabaya Barat, banjir terjadi karena limpahan dari wilayah Gresik yang memiliki topografi lebih tinggi dari Surabaya .
“Faktornya banyak, kalau di Surabaya Barat itu adanya limpahan dari sisi selatan artinya berbatasan Gresik ada wilayah kolam yang itu masuk ke saluran Benowo kita,” ujar dia.
Faktor kedua adalah saluran. Kapasitas saluran di Kota Surabaya, kata dia, sebenarnya hanya didesain untuk lima tahun, tak boleh lebih.
“Dalam perhitangan curah hujan itu ada distribusi lima tahunan, frekuensi hujan ada distribusi 10 tahunan ada 25 tahunan. Korelasinya semakin besar distribusi hujan maka dibutuhkan saluran yang semakin besar. Di Surabaya itu salurannya didesain terhadap 5 tahunan tetapi punya pompa itu untuk narik kapasistas kalau terjadi 10 tahunan,” jelasnya.
Selain karena desain saluran, penyempitan saluran karena bangunan dan sedimentasi serta sampah juga menjadi sebab terjadinya banjir. Sebab, saluran yang harusnya terisi air malah tersumbat oleh sedimentasi dan sampah. Hal ini lah yang terjadi di wilayah Dukuh Kupang Surabaya. Di wilayah tersebut, saluran semakin menyempit karena bangunan di sekitarnya.
“Bisa jadi saluran itu yang harusnya isinya air di ada sedimentasi, dia ada sampah maka kapasitasnya berkurang, atau pompanya terlambat menyalakan. Variabel-variabel ini yang kemarin manjadi banyak,” jelas dia.
Tak cuma itu, saluran yang belum terkoneksi juga menjadi faktor terjadinya banjir. Seperti yang terjadi di Surabaya Barat, antara saluran satu dengan saluran lain belum terkoneksi. Sehingga air yang harusnya masuk ke saluran dan menuju ke laut akhirnya naik ke permukaan.

“Di Surabaya saluran belum terkoneksi karena pembangunan perumahan, jalan di sana belum sepenuhnya ada. Beda dengan wilah kota ataupun timur, ada jalan kanan dan kiri ada saluran. Sekalipun air melimpah tapi minimal air itu ada tempatnya,” terangnya.
Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dilakukan Pemerintah Surabaya untuk Surabaya Barat adalah membangun spot kolam atau bozem sampai menunggu salurannya jadi. “Kalau salurannya jadi, rumahnya, jalannya terbangun semua maka insyaallah lebih mudah dihitungnya,”katanya.
Faktor berikutnya adalah, wilayah pesisir Surabaya Barat memang mengalami penurunan muka air tanah. Tren penurunan muka air tanah di wilayah tersebut sampai tahun 2021 adalah 4 sentimeter.
“Untuk di pesisirnya Surabaya barat secara penelitian itu memang sudah terjadi penurunan sampai tahun 2021 kemarin itu 4 sentimeter. Faktor variabel itu yang mempengaruhi kalau dulunya ada air kenapa kok sekarang menggenang ya karena memang penurunan karena memang beban, beban itu karena air tanah, apakah karena pembangunan yang pasti secara penelitan ada ponurunan muka tanah di bebrapa titik surabaya sampai 4 sentimeter,” pungkas dia.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengklaim, titik lokasi banjir di Kota Pahlawan terus berkurang. Ia menyebut, sejak ia pertama menjabat wali kota hingga sekarang, telah berkurang dari 451 menjadi 250 titik banjir. Jika dihitung, maka selama dua tahun terakhir, titik banjir telah berkurang 201 lokasi.
"Sewaktu saya menjabat pertama kali, titik banjir ada 451 titik, hari ini dua tahun menjabat menjadi 250 titik. 250 titik ini tinggal yang posisi saluran-saluran primer dan sekunder, sehingga membutuhkan biaya besar," kata Wali Kota Eri Cahyadi,
Eri menargetkan ratusan titik banjir tersebut ke depan bisa terus berkurang dalam tiap tahunnya. Dan di tahun 2026 mendatang, ia menargetkan tidak ada lagi titik banjir di Kota Surabaya.
"Selama ini orang tidak tahu, kok banjir, saya sampaikan banjir itu kalau sampai satu hari. Tapi kalau 15-20 menit hilang, itu tidak banjir tapi genangan. Nah, itu terjadi karena ada saluran yang tidak terpenuhi," ujar dia. Berbagai hal telah dilakukan Pemkot Surabaya untuk mengatasi banjir. Tak tanggung, khusus untuk Banjir, Pemkot telah manggarkan Rp750 miliar.
Kepala DSDABM Kota Surabaya, Syamsul Hariadi juga menjelaskan pengendalian banjir secara umum di Kota Surabaya dilakukan dari hulu ke hilir. Di hulu air ditahan, kemudian di tengah dilakukan manajemen, dan di hilirnya dilakukan percepatan pengalirannya. Nah, dalam rangka mempercepat pengaliran air itu, Pemkot Surabaya menggunakan pompa air.
“Saat ini, Pemkot Surabaya mempunya pompa air berkapasitas antara 1 meter kubik perdetik sampai yang paling besar 5 meter kubik perdetik,” kata dia.
Ia juga memastikan bahwa jumlah total rumah pompa di Surabaya sebanyak 72 rumah pompa, dan masing-masing rumah pompa itu ada yang memiliki 2 pompa, 3 pompa dan bahkan ada yang 7 pompa. Sedangkan total semua pompa se Surabaya sebanyak 315 unit.
“Kalau 315 unit pompa dikalikan dengan titiknya masing-masing yang bermacam-macam itu, maka total kita bisa menghabiskan air 513 meter kubik perdetik. Itulah sebabnya kalau ada genangan di Surabaya cepat surut,” jelas dia.
Khusus di wilayah Dukuh Kupang, dalam waktu dekat DSDABM Surabaya segera membuat tanggul di kawasan Dukuh Kupang. Aliran airnya, akan diarahkan menuju ke saluran di sekitar makam Jarak. “Kemarin waktu survei itu ada makam di bawah. Nah makam ini nanti saya bilang ke teman-teman untuk segera dibangun tanggul untuk sementara. Kalau hujan biar airnya lari ke makam itu dahulu,” kata dia.
Sementara untuk mengatasi banjir di Surabaya Barat, pihaknya akan membangun dinding penahanan di perbatasan Gresik untuk menahan air agar tidak mengalir ke Surabaya. "Yang dari Gresik ini kita tahan, jadi dia bisa terukur di tempat kita sehingga tidak menimbulkan genangan, (ditahan) dengan dinding penahan nanti," terang Syamsul.
Selain membangun dinding penahan di perbatasan Gresik, pihaknya juga berencana membangun rumah pompa di Kawasan Sememi, saluran air atau box culvert dan peninggian Jembatan Tengger. "Untuk Surabaya Barat kita anggarkan sekitar Rp350 miliar," pungkas Syamsul.
Segala upaya yang dilakukan Pemerintah Surabaya ini, menjadi secercah harapan bagi Sinta dan seluruh warga Surabaya yang rumahnya terdampak banjir.


















