Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Plastik di Jatim Melonjak 70 Persen, Disperindag Ungkap Pemicu

Harga Plastik di Jatim Melonjak 70 Persen, Disperindag Ungkap Pemicu
Pedagang merapikan kantong plastik kemasan di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Intinya Sih
  • Harga plastik kemasan di Jawa Timur melonjak hingga 70 persen akibat kenaikan harga minyak mentah global, mahalnya bahan baku biji plastik, dan gangguan rantai pasok.
  • Ketergantungan impor tinggi memperparah kondisi karena 50–60 persen bahan baku plastik masih berasal dari luar negeri, sementara produksi domestik belum mampu memenuhi kebutuhan industri.
  • Disperindag Jatim memantau distribusi dan mendorong diversifikasi impor serta penggunaan kemasan alternatif agar pelaku IKM/UKM bisa beradaptasi menghadapi lonjakan harga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Kenaikan harga plastik kemasan di Jawa Timur (Jatim) kian tak terbendung dan mulai menekan pelaku usaha, terutama sektor industri kecil dan menengah (IKM/UKM). Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim mengungkap lonjakan ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari mahalnya bahan baku hingga gangguan rantai pasok.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian, menyebut harga biji plastik sebagai bahan baku utama kini menembus Rp30 ribu per kilogram atau naik sekitar 50 persen. “Kenaikan ini dipicu lonjakan harga minyak mentah Brent sebagai bahan dasar plastik. Dari sekitar USD 67 per barel, kini sudah di atas USD 98, bahkan sempat menyentuh USD 115 per barel,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Selain itu, harga Polipropilena (PP), salah satu bahan utama plastik kemasan, juga naik sekitar 24 persen. Dampaknya, harga plastik di tingkat pedagang, khususnya di Surabaya, melonjak antara 30 hingga 70 persen, tergantung jenisnya.

Tak hanya mahal, sejumlah jenis plastik juga mulai langka di pasaran. Produk yang terdampak antara lain plastik jenis PP, HD, dan PE, termasuk gelas cup, tutup (lid), tas kresek, hingga berbagai kemasan makanan dan minuman.

Ketergantungan tinggi terhadap impor memperparah kondisi. Disperindag mencatat sekitar 50 hingga 60 persen bahan baku plastik di Indonesia masih berasal dari luar negeri, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru mampu memenuhi maksimal 50 persen kebutuhan.

Data 2025 menunjukkan nilai impor plastik dan produk turunannya di Jatim mencapai USD 1,43 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor yang hanya USD 317 juta. Mayoritas impor berupa biji plastik dari China, negara ASEAN, Amerika Serikat, hingga Arab Saudi. “Sekitar 70 persen bahan baku nafta berasal dari Timur Tengah. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut langsung berdampak pada pasokan dan harga,” jelas Lucky.

Di dalam negeri, tekanan juga datang dari sisi produksi. Salah satu produsen utama, PT Chandra Asri Pacific Tbk, sempat mengalami kondisi force majeure pada Maret lalu akibat ancaman kekurangan bahan baku, sehingga turut memengaruhi pasokan.

Secara keseluruhan, Jatim memiliki 427 industri plastik dan turunannya, dengan 298 di antaranya merupakan IKM/UKM. Kenaikan harga ini pun berpotensi menekan biaya produksi dan margin usaha secara signifikan.

Mengantisipasi dampak lanjutan, Disperindag Jatim melakukan pemantauan ketat terhadap rantai distribusi, mulai dari industri hingga pedagang, guna menjaga stabilitas harga dan mencegah penimbunan.

Selain itu, pemerintah mendorong diversifikasi sumber impor serta efisiensi produksi melalui koordinasi dengan asosiasi industri seperti APINDO, KADIN, dan INAPLAS.

Di sisi lain, pelaku usaha didorong mulai beralih ke kemasan alternatif, seperti karton, bambu, daun pisang, hingga tas kain untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik. “Kami harap semua pihak bisa beradaptasi agar dampaknya terhadap pelaku usaha, khususnya IKM/UKM, bisa diminimalkan,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More