Bupati Banyuwangi: Negara Ini Butuh Sentuhan Pemimpin Perempuan

- Ipuk Fiestiandani, Bupati Banyuwangi, menegaskan pentingnya sentuhan pemimpin perempuan karena memiliki empati, kesabaran, dan kemampuan mendengar yang kuat dalam memimpin masyarakat.
- Ia mengutamakan kedekatan dengan warga melalui program Bunga Desa, di mana bupati bekerja langsung di desa untuk memahami kebutuhan masyarakat secara nyata.
- Ipuk menolak pandangan kompetitif antar gender dan mendorong perempuan Banyuwangi untuk tampil serta menunjukkan talenta mereka demi kemajuan daerah.
- Ipuk Fiestiandani, Bupati Banyuwangi, menegaskan pentingnya sentuhan pemimpin perempuan karena memiliki empati, kesabaran, dan kemampuan mendengar yang kuat dalam memimpin masyarakat.
- Ia mengutamakan kedekatan dengan warga melalui program Bunga Desa, di mana bupati bekerja langsung di desa untuk membangun hubungan dan memahami kebutuhan masyarakat secara nyata.
- Ipuk menolak pandangan kompetitif antar gender, menilai kemampuan lebih penting daripada jenis kelamin, serta mendorong munculnya talenta perempuan Banyuwangi agar berani tampil dan berkontribusi.
Banyuwangi, IDN Times - Ipuk Fiestiandani menjadi bupati perempuan kedua di Banyuwangi setelah Ratna Ani Lestari yang menjabat pada periode 2005–2010. Menurut Ipuk, negara membutuhkan sentuhan pemimpin perempuan.
Dalam wawancara program Real Talk with Uni Lubis by IDN Times di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Jumat (17/7/2026), Ipuk mengatakan selama ini sosok pemimpin masih identik dengan laki-laki. Padahal, menurutnya, negara juga membutuhkan sentuhan kepemimpinan perempuan.
"Betul kita setara. Jadi, yang pertama memang perempuan itu sesungguhnya secara emosi dia tidak ingin bersaing dengan laki-laki," ujar Ipuk.
Menurutnya, perempuan menyadari bahwa mereka bukan saingan laki-laki, melainkan mitra yang saling mendukung satu sama lain.
"Dan perempuan itu punya sifat yang sabar, yang luwes seperti itu," ungkapnya.
Ipuk menilai perempuan lebih mampu mengayomi dan mendengarkan berbagai keluhan masyarakat. Hal itu karena perempuan cenderung memiliki kesabaran dan kemampuan menjadi pendengar yang baik.
"Ini yang dibutuhkan pemimpin sekarang. Jadi pemimpin bukan hanya pandai membuat program, bukan hanya hebat dalam retorika, tetapi bagaimana pemimpin itu hadir, ya itu ada di pemimpin perempuan," tuturnya.
Ia mencontohkan pengalamannya saat pertama kali menjabat sebagai Bupati Banyuwangi. Saat itu, ia menyadari lebih senang turun langsung menemui masyarakat daripada berlama-lama mengikuti rapat di kantor.
"Ketika saya menjadi pemimpin, menyadari oh ternyata daripada saya banyak rapat di kantor saya lebih senang bertemu dengan masyarakat. Menyapa masyarakat, mendengar masyarakat," terangnya.
Bahkan, pada hari pertama menjabat sebagai bupati, Ipuk langsung menginap di rumah warga. Ia juga menggagas program Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa) agar pemerintah lebih dekat dengan masyarakat.
"Ketika masyarakat bertemu dengan kami, ada bonding antara pemimpin dan masyarakatnya. Dan masyarakat saya rasa sangat tidak bertele-tele," ungkapnya.
"Ketika pemimpinnya mendengar yang diungkapkan mereka lalu kita sebagai pemimpin langsung memerintahkan kepada tim dan itu secara cepat diselesaikan, masyarakat merasa bahwa pemerintah hadir. Dan saya rasa itu ciri khas dari perempuan, pemimpin perempuan," imbuhnya.
Ipuk juga menegaskan dirinya tidak pernah menganggap sesama perempuan sebagai saingan. Dalam bekerja, ia pun tidak membedakan laki-laki maupun perempuan.
"Jadi tidak melulu kalau misalkan saya turun ke lapangan saya harus didampingi SKPD perempuan, tapi bagaimana saya didampingi oleh SKPD yang laki-laki pun saya harus merasa nyaman," tuturnya.
Baginya, kemampuan lebih penting daripada gender. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama.
"Jadi ketika saya turun ke lapangan dan itu SKPD-nya laki-laki, ya saya libatkan laki-laki. Tapi ketika saya bertemu dengan masyarakat itu SKPD perempuan, tetap profesional untuk mengakomodir ide-ide dari teman tim saya perempuan," sebutnya.
Ipuk mengatakan dirinya selalu mendorong lahirnya lebih banyak perempuan hebat. Menurutnya, Banyuwangi membutuhkan talenta-talenta perempuan.
"Bagi saya, tidak ada menjegal sesama perempuan. Bahkan saya juga mengajak perempuan-perempuan, ayo muncul, ayo tunjukkan talenta perempuan Banyuwangi karena Banyuwangi butuh perempuan-perempuan," pungkasnya.
















