Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gunung Lawu di Magetan Kembali Terbakar, Jalur Pendakian Ditutup

Kab. Magetan
2 min read
Gunung Lawu di Magetan Kembali Terbakar, Jalur Pendakian Ditutup
8 hektare hutan produksi ditanami pinus di Petak 66 RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, hangus terbakar. IDN Times/Riyanto.
  • Kebakaran melanda sekitar 8 hektare hutan produksi pinus di Petak 66, Gunung Lawu wilayah Magetan, pada Rabu siang; penyebabnya masih dikumpulkan petugas.

  • Sebanyak 114 personel gabungan memadamkan api secara manual dan membuat sekat bakar. Api di Magetan terkendali serta padam, tetapi pemantauan bara terus dilakukan.

  • Seluruh jalur pendakian Gunung Lawu ditutup sementara tanpa batas waktu demi keselamatan dan kelancaran penanganan, terutama karena titik api masih ditemukan di wilayah Magetan dan Ngawi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Magetan, IDN Times – Kebakaran kembali melanda kawasan hutan Gunung Lawu di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Rabu (16/9/2026). Sedikitnya 8 hektare hutan produksi yang ditumbuhi tanaman pinus di Petak 66 RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, terdampak kobaran api.

Kebakaran diketahui sekitar pukul 11.30 WIB. Kepulan asap terlihat dari kawasan hutan di daerah Soge oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Getas Anyar yang kemudian melaporkannya kepada petugas kehutanan.

  1. 1. Api membakarpinus hingga tumbuhan bawah

    Riyanto
    8 hektare hutan produksi ditanami pinus di Petak 66 RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, hangus terbakar. IDN Times/Riyanto.

    Mantri Hutan Lawu Selatan, Bara Ariawan, mengatakan laporan tersebut langsung diteruskan kepada KRPH Bedagung. Petugas Perhutani bersama unsur gabungan kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan.

    "Kawasan yang terbakar merupakan hutan produksi. Luas baku Petak 66 sekitar 57 hektare, sedangkan yang terdampak kebakaran sekitar 8 hektare," ujar Bara.

    Vegetasi yang terbakar meliputi tanaman pinus, serasah, hingga tumbuhan bawah. Hingga kini penyebab kebakaran masih dalam tahap pengumpulan informasi.

  2. 2. Ratusan personel dikerahkan

    Riyanto
    8 hektare hutan produksi ditanami pinus di Petak 66 RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, hangus terbakar. IDN Times/Riyanto.

    Penanganan kebakaran melibatkan 114 personel gabungan. Mereka terdiri dari unsur Perhutani, TNI-Polri, BPBD, pemerintah, PGL, CDK, serta masyarakat sekitar.

    Petugas berjibaku memadamkan api secara manual menggunakan alat gepyok. Ilaran atau sekat bakar juga dibuat untuk membatasi pergerakan api agar tidak meluas ke kawasan hutan lainnya.

    "Api sudah bisa dikendalikan dengan pembuatan ilaran dan padam," kata Bara.

    Meski kobaran api telah berhasil dipadamkan, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi. Penyisiran dan pemantauan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang masih menyala.

    Sekat bakar juga diperkuat di sejumlah titik sebagai langkah antisipasi. Kewaspadaan ditingkatkan karena masih ditemukan titik api di kawasan Gunung Lawu wilayah Ngawi.

  3. 3. Semua jalur pendakian Gunung Lawu ditutup

    Riyanto
    Jalur pendakina via Cemorosewu dintutup demi keselamatan. IDN Times/Riyanto.

    Dampak kebakaran tidak hanya menyasar kawasan hutan. Seluruh jalur pendakian Gunung Lawu untuk sementara ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

    Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan KPH Lawu Ds, Mulyadi, mengatakan penutupan dilakukan untuk menjamin keselamatan para pendaki.

    "Untuk keselamatan pendakian, untuk sementara waktu kita tutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan," ujarnya.

    Mulyadi memastikan kondisi api di wilayah Magetan telah padam. Namun, petugas masih mewaspadai kemungkinan munculnya kembali api, terutama dengan adanya titik api di kawasan Lawu wilayah Ngawi.

    Saat ini penanganan difokuskan pada pemantauan titik api di wilayah Ngawi, pengecekan kawasan yang terbakar di Magetan, serta penguatan sekat bakar di sejumlah lokasi strategis di lereng Gunung Lawu.

    Penutupan jalur pendakian ini sekaligus menjadi langkah antisipasi agar aktivitas pendakian tidak mengganggu proses pemantauan dan penanganan kebakaran yang masih berlangsung.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More