109 Mahasiswa Unhan Bedah Ketahanan Jatim, dari Pangan hingga Bencana

- Sebanyak 109 mahasiswa FKN Unhan menjalani studi lapangan di Jawa Timur untuk membandingkan teori keamanan nasional dengan praktik ketahanan daerah.
- Jatim menyoroti ketahanan pangan melalui produksi padi tertinggi nasional, target swasembada gula konsumsi, serta pengembangan sapi potong menuju swasembada daging.
- Mitigasi bencana menjadi fokus karena 92–97 persen bencana Jatim pada 2022–2025 bersifat hidrometeorologi; mahasiswa diharapkan memberi masukan bagi penguatan ketahanan daerah.
Surabaya, IDN Times - Sebanyak 109 mahasiswa Fakultas Keamanan Nasional (FKN) Universitas Pertahanan (Unhan) datang ke Jawa Timur (Jatim) bukan sekadar untuk belajar teori. Mereka langsung mendapat gambaran bagaimana ketahanan daerah dibangun dari sektor pangan hingga mitigasi bencana.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kedatangan mahasiswa Unhan ke Jatim menjadi momentum untuk mempertemukan teori keamanan nasional dengan praktik ketahanan daerah. Ia menyoroti ketahanan pangan sebagai salah satu fondasi penting keamanan nasional. Terlebih, Jatim kini tidak hanya mengejar ketahanan pangan, tetapi mulai bergerak menuju kedaulatan pangan.
Jatim konsisten menjadi daerah dengan produksi padi dan beras tertinggi secara nasional sejak 2020 hingga semester I 2026. Bahkan, berdasarkan potensi produksi Januari-Oktober 2026, produksi padi Jatim diperkirakan mencapai 9,86 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka itu meningkat 5,13 persen dibandingkan periode yang sama 2025 dan setara sekitar 5,69 juta ton beras.
Khofifah juga membawa target lain. Setelah Indonesia disebutnya berhasil mencapai swasembada beras, Jatim kini didorong ikut memperkuat swasembada gula konsumsi. “Tahun lalu Indonesia sesungguhnya sudah swasembada beras. Jika kita sama-sama punya tekad yang kuat, tahun ini insyaallah kita bisa mencapai swasembada gula untuk konsumsi tanpa melakukan impor gula konsumsi,” katanya.
Khofifah melanjutkan, target tersebut didukung program bongkar ratoon secara masif dan revitalisasi sejumlah pabrik gula. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas pabrik hingga di atas 80 persen sekaligus mendongkrak rendemen.
Tak berhenti pada pangan nabati, Khofifah juga menyoroti sektor peternakan sebagai bagian dari kedaulatan pangan berbasis protein hewani. Jatim saat ini memiliki populasi sapi potong sekitar 3,5 juta ekor, yang disebut sebagai populasi tertinggi di Indonesia.
Khofifah bahkan memasang target swasembada daging dalam tiga tahun melalui pengembangan peternakan sapi potong secara masif. “Ada BBIB Singosari milik Kementerian Pertanian yang berlokasi di Malang. Fasilitas ini menjadi pusat pembelajaran inseminator dan pengawas kebuntingan, sekaligus wadah pengembangan teknologi reproduksi ternak unggul,” jelasnya.
“Kami memproyeksikan, dalam tiga tahun jika kita melakukan pengembangan peternakan sapi potong secara masif kita bisa swasembada daging,” imbuhnya.
Bagi Khofifah, ketahanan pangan dan protein hewani tidak bisa dipisahkan dari keamanan nasional. Apalagi sekarang ini dunia menghadapi ketidakpastian pasokan pangan. “Pada akhirnya ketika dunia tengah galau akan suplai pangan, Indonesia nyatanya termasuk yang paling aman,” katanya.
Selain pangan, mahasiswa FKN Unhan juga mendapat paparan mengenai ancaman bencana. Khofifah mengingatkan posisi Indonesia, termasuk Jatim yang berada di kawasan ring of fire membuat mitigasi bencana menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan daerah.
BPBD Jatim mencatat sekitar 92-97 persen kejadian bencana di Jatim sepanjang 2022-2025 merupakan bencana hidrometeorologi. Hingga 25 Maret 2026, tercatat 115 kejadian bencana. Kondisi tersebut, kata Khofifah, menuntut pemerintah memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Dekan FKN Unhan Mayjen TNI Dr. Nefra Firdaus mengatakan Jawa Timur dipilih sebagai lokasi praktik lapangan karena dinilai memiliki pengalaman dalam membangun ketahanan daerah.
Para mahasiswa nantinya akan mencocokkan teori yang dipelajari di kampus dengan kondisi nyata di lapangan. Hasil pembelajaran tersebut diharapkan dapat melahirkan masukan bagi Pemprov Jatim dalam memperkuat ketahanan daerah dan nasional.
“Sehingga mereka mau lihat dengan teori yang mereka pelajari dengan fakta di lapangan yang ada. Itu yang mereka nanti membuat masukan kepada Provinsi Jawa Timur dalam rangka ketahanan Indonesia,” kata Nefra.
Khofifah pun meminta para mahasiswa tidak sekadar datang, tetapi menggali berbagai praktik dan persoalan di Jatim selama studi lapangan. “Silakan dieksplor, setelah itu mohon diberikan masukan kepada kami sehingga bisa berbenah dan melakukan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.
















