Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Sekadar Spot Foto, Desa Wisata Jatim Didorong Jadi Mesin Cuan
Para pengrajin cor kuningan di Kampung Majapahit Desa Bejijong. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Pemprov Jatim mengalihkan pembinaan desa wisata ke kategori berkembang, maju, dan mandiri agar pengelolaannya lebih kuat, aman, legal, serta menggerakkan ekonomi warga.

  • Jumlah desa wisata Jatim naik dari 693 pada 2024 menjadi 734 pada 2025, dengan desa rintisan berkurang sementara kategori berkembang, maju, dan mandiri bertambah.

  • Pendampingan mencakup sampah, keselamatan, perizinan, homestay warga, serta katalog tematik untuk edukasi sekolah; Kajoetangan dan Sumberringin menunjukkan dampak ekonomi lokal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2024

Jatim memiliki 693 desa wisata: 550 rintisan, 81 berkembang, 55 maju, dan tujuh mandiri.

2025

Jumlah desa wisata naik menjadi 734. Desa rintisan turun menjadi 466, sementara desa berkembang menjadi 189, maju 70, dan mandiri sembilan.

Minggu (4/10/2026)

Disbudpar Jatim menyatakan pembinaan provinsi difokuskan pada desa wisata berkembang, maju, dan mandiri. Desa rintisan didorong untuk dikembangkan pemerintah kabupaten dan kota.

kini

Pendampingan diperluas ke tata kelola sampah, keselamatan wisata, legalitas, perizinan, serta homestay warga lokal untuk memperkuat ekonomi desa wisata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemprov Jawa Timur mengubah pola pembinaan desa wisata agar berfokus pada peningkatan kualitas tata kelola, keselamatan, legalitas, pengelolaan sampah, dan dampak ekonomi warga.
  • Who?
    Disbudpar Jawa Timur, pemerintah kabupaten/kota, Kementerian Pariwisata, Perhutani, BBWS, serta pengelola dan warga desa wisata terlibat dalam pengembangan tersebut.
  • Where?
    Pembinaan diterapkan di desa-desa wisata Jawa Timur, termasuk Kampoeng Heritage Kajoetangan di Kota Malang dan Desa Wisata Sumberringin di Bondowoso.
  • When?
    Kebijakan disampaikan Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disbudpar Jatim Radix Mulya Mahardika pada Minggu, 4 Oktober 2026. Data perkembangan desa wisata mencakup 2024 hingga 2025.
  • Why?
    Jumlah desa wisata meningkat, sementara anggaran pembinaan terbatas. Pemprov Jatim memprioritaskan desa berstatus berkembang, maju, dan mandiri agar kualitas pengelolaan serta ekonomi lokal meningkat.
  • How?
    Disbudpar mendampingi desa melalui penguatan pengelolaan, perizinan, keselamatan, homestay warga, dan kerja sama dengan Perhutani serta BBWS. Katalog tematik desa unggulan juga disiapkan untuk program edukasi sekolah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemerintah Jawa Timur membantu desa wisata supaya bukan cuma tempat foto. Desa yang sudah maju akan diajari mengelola sampah, menjaga keselamatan, dan mengurus izin. Warga juga didorong membuka homestay agar dapat uang. Kampoeng Kajoetangan di Malang sudah membantu warga. Desa Sumberringin di Bondowoso juga ramai karena punya jalur Gunung Raung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Peralihan pembinaan menuju kualitas menunjukkan desa wisata Jawa Timur semakin diposisikan sebagai ruang ekonomi warga yang dikelola lebih tertib dan berkelanjutan. Kenaikan jumlah desa berkembang, maju, dan mandiri, dukungan homestay lokal, serta contoh manfaat bagi warga di Kajoetangan memperlihatkan potensi wisata yang melampaui sekadar kunjungan singkat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Desa wisata kini gak cukup cuma punya pemandangan cantik atau spot foto yang Instagramable. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mulai mengubah pola pembinaan agar desa wisata tak sekadar ramai dikunjungi, tetapi juga punya tata kelola yang kuat, aman, legal, dan mampu menggerakkan ekonomi warga.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim kini memfokuskan pendampingan pada desa wisata yang sudah berstatus berkembang, maju, hingga mandiri. Sementara desa yang masih berstatus rintisan lebih banyak dikembalikan pengembangannya kepada pemerintah kabupaten dan kota.

Kepala Bidang (Kabid) Destinasi Pariwisata Disbudpar Jatim, Radix Mulya Mahardika mengatakan, perubahan pola tersebut dilakukan karena jumlah desa wisata di Jatim sudah cukup banyak. Dengan anggaran pembinaan yang terbatas, pemerintah memilih fokus meningkatkan kualitas desa yang sudah memiliki fondasi pengelolaan.

"Dengan banyaknya desa wisata di Jawa Timur, kami sepakat dengan Kementerian Pariwisata bahwa provinsi fokus pada desa yang maju, mandiri, dan berkembang. Sedangkan yang rintisan pengembangannya fokus dilakukan oleh pemerintah daerah masing-masing," ujarnya, Minggu (4/10/2026).

Data Disbudpar Jatim menunjukkan jumlah desa wisata meningkat dari 693 pada 2024 menjadi 734 desa pada 2025. Menariknya, pertumbuhan tersebut diikuti perubahan komposisi status.

Pada 2024, terdapat 550 desa wisata rintisan, 81 berkembang, 55 maju, dan tujuh mandiri.

Setahun kemudian, jumlah desa rintisan turun menjadi 466. Sebaliknya, desa berkembang melonjak menjadi 189, desa maju menjadi 70, dan desa mandiri bertambah menjadi sembilan. "Pendekatan baru ini menekankan pada peningkatan kelas dan kualitas pengelolaan, ketimbang mengejar angka kuantitas pembentukan desa baru," katanya.

Artinya, desa wisata di Jatim mulai didorong untuk naik level. Pembinaannya pun gak lagi sebatas urusan membentuk kelembagaan atau menyusun paket wisata. Disbudpar Jatim kini memperluas materi pendampingan ke persoalan yang lebih dekat dengan keberlanjutan destinasi, seperti tata kelola sampah, standar keselamatan wisata, hingga legalitas perizinan.

Untuk urusan perizinan serta pemanfaatan lahan dan sumber air, Disbudpar menggandeng instansi terkait, termasuk Perhutani dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Tujuannya agar desa wisata tidak hanya punya daya tarik, tetapi juga memiliki pengelolaan yang lebih tertib.

Soal tempat menginap, Pemprov Jatim juga mendorong penggunaan homestay milik warga lokal. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang, foto-foto, lalu pulang. Aktivitas mereka diharapkan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Salah satu contoh desa wisata mandiri yang dinilai berhasil adalah Kampoeng Heritage Kajoetangan di Kota Malang. Destinasi berbasis cagar budaya tersebut disebut telah memberikan dampak ekonomi langsung kepada warga.

"Destinasi berbasis cagar budaya di tengah kota itu mencatatkan dampak ekonomi nyata bagi warga lokal. Mulai dari penyaluran dana manfaat bulanan bagi lansia hingga pemberian beasiswa pendidikan bagi anak-anak sekitar," katanya.

Cerita berbeda datang dari Desa Wisata Sumberringin di Bondowoso. Ketika aktivitas wisata di kawasan Gunung Ijen terganggu akibat bencana seperti kebakaran hutan, wisatawan mulai mencari destinasi alternatif di sekitarnya.

Sumberringin menjadi salah satu yang ikut menangkap peluang tersebut. Desa ini mengelola jalur pendakian Gunung Raung dan mengalami peningkatan kunjungan wisatawan. Kondisi itu menunjukkan desa wisata punya peluang menjadi alternatif destinasi sekaligus penggerak ekonomi lokal. Syaratnya, desa harus memiliki produk wisata yang jelas dan mampu mengelola kunjungan secara berkelanjutan.

Ke depan, Disbudpar Jatim juga menyiapkan katalog tematik desa wisata unggulan. Katalog tersebut nantinya akan diintegrasikan dengan program Dinas Pendidikan Jatim untuk mendorong kegiatan edukasi dan studi lapangan sekolah ke berbagai desa wisata lokal.

"Katalog ini nantinya akan diintegrasikan dengan program Dinas Pendidikan Jawa Timur guna mengarahkan kegiatan edukasi dan studi lapangan sekolah ke desa-desa wisata lokal," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article