Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Beras Naik, Bulog Sebut Faktor Psikologis

Beras Naik, Bulog Sebut Faktor Psikologis
Stok beras Bulog. (Dok. Perum Bulog)
Intinya Sih
  • Harga beras di Jawa Timur naik selama Ramadan dan Idul Fitri 2026, dipicu lonjakan permintaan musiman serta faktor psikologis masyarakat meski stok beras dinyatakan aman.
  • Bulog Jatim menyebut kenaikan harga terjadi di tengah stok melimpah dan harga gabah petani justru turun saat masa panen, menciptakan anomali pasar yang masih terkendali.
  • Untuk menjaga stabilitas, Bulog menargetkan penyerapan nasional 4 juta ton setara beras dengan kontribusi Jatim 823 ribu ton serta menggelar Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Harga beras di Jawa Timur (Jatim) mengalami kenaikan selama Ramadan dan Idul Fitri 2026, meski stok dipastikan dalam kondisi aman. Kenaikan ini disebut lebih dipengaruhi lonjakan permintaan musiman dan faktor psikologis masyarakat.

Berdasarkan data per 20 Maret 2026, harga rata-rata beras medium di Jatim mencapai Rp12.914 per kilogram. Harga tertinggi tercatat di Kabupaten Jombang sebesar Rp13.666, sementara terendah di Kabupaten Lumajang Rp11.700.

Sementara itu, harga beras premium rata-rata berada di angka Rp14.862 per kilogram. Harga tertinggi ada di Kota Batu sebesar Rp15.812, sedangkan terendah di Kabupaten Lumajang dan Trenggalek sebesar Rp14.000.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jatim, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan kenaikan harga terjadi di tengah kondisi stok yang justru melimpah. Menurutnya, fenomena ini merupakan anomali pasar.

“Stok banyak, tapi harga naik. Ini lebih karena faktor psikologis dan meningkatnya konsumsi menjelang Lebaran,” ujarnya.

Langgeng menjelaskan, kebutuhan masyarakat cenderung meningkat pada momen hari besar keagamaan. Selain untuk konsumsi rumah tangga, permintaan juga naik untuk keperluan zakat dan stok pangan keluarga.

Di sisi lain, harga gabah di tingkat petani justru mengalami penurunan seiring masuknya masa panen. Harga gabah kering panen (GKP) yang sebelumnya berada di kisaran Rp7.000 per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp6.500 per kilogram.

Meski terjadi kenaikan harga beras, Bulog memastikan kondisi masih terkendali. Harga beras medium disebut masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), sementara beras premium mendekati HET namun tetap stabil.

Dari sisi stok, lanjut Langgeng, Jatim dalam kondisi aman. Bulog terus melakukan penyerapan gabah petani selama puncak panen yang berlangsung pada Maret hingga April.

Untuk tahun 2026, Bulog menargetkan penyerapan nasional sebesar 4 juta ton setara beras, dengan kontribusi Jatim sekitar 823 ribu ton. Hingga pertengahan Maret, serapan di Jawa Timur telah mencapai hampir 300 ribu ton, atau sekitar 32 persen dari capaian nasional.

“Jawa Timur menjadi salah satu lumbung padi nasional dengan kontribusi signifikan terhadap stok beras nasional,” kata Langgeng.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bulog bersama pemerintah daerah terus menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai wilayah. Selain itu, Bulog optimistis, puncak panen yang berlangsung saat periode Lebaran, ketersediaan beras tetap terjaga.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More