Ngawi, IDN Times – Industri keripik tempe di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, tengah menghadapi tekanan berat. Kenaikan harga berbagai bahan baku produksi membuat para perajin semakin kesulitan mempertahankan usahanya. Bahkan, sebagian memilih menghentikan produksi karena khawatir terus merugi.
Kondisi tersebut dialami puluhan perajin di sentra industri keripik tempe Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi. Kenaikan harga yang terjadi secara beruntun membuat biaya produksi semakin membengkak, sementara kemampuan konsumen untuk membeli produk dengan harga lebih tinggi juga menjadi pertimbangan.
Salah satu bahan baku yang mengalami lonjakan cukup tinggi adalah tepung. Harganya kini mencapai Rp190 ribu per karton, dari sebelumnya Rp150 ribu. Kenaikan tersebut telah dirasakan perajin dalam empat bulan terakhir.
Tak hanya tepung, harga kedelai, minyak goreng, dan plastik kemasan juga ikut membebani pelaku usaha.
Harga kedelai ukuran 50 kilogram kini mencapai Rp520 ribu per sak, naik dari sebelumnya Rp485 ribu. Minyak goreng yang semula Rp18 ribu kini menjadi Rp22 ribu. Sedangkan plastik kemasan naik dari Rp24 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
Erlita, salah seorang perajin keripik tempe, mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat para perajin di wilayahnya sama-sama kesulitan. Mereka harus mencari cara agar tetap bisa menjalankan usaha di tengah biaya produksi yang terus meningkat.
"Para perajin pusing semua. Semua naik, seperti tepung. Banyak yang berhenti produksi, lainnya menaikkan harga seribu rupiah," ujarnya, Minggu (8/11/2026).
Untuk mengurangi beban produksi, sebagian perajin terpaksa menaikkan harga jual keripik tempe sebesar Rp1.000 per bungkus. Namun, kenaikan tersebut tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Produk mereka justru semakin sulit dijual karena konsumen harus membayar lebih mahal.
Sementara itu, sejumlah perajin lainnya memilih berhenti sementara daripada memaksakan produksi dengan risiko mengalami kerugian.