Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PT Pertamina Patra Niaga mulai melakukan lifting atau pengiriman perdana Biosolar 50 (B50) sebagai bagian dari implementasi program mandatori B50. (Dok/Istimewa).
  • Pemerintah membidik B50 serta bioetanol E20 hingga E50 untuk mengurangi impor BBM, menghemat devisa, dan memperkuat pemanfaatan sumber daya energi domestik.

  • Proyeksi ESDM menyebut B50 berpotensi menghemat devisa Rp170 triliun, menambah nilai CPO Rp23,49 triliun, serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.

  • Pakar menekankan program harus menjaga biaya kompetitif, pasokan bahan baku, dan kesejahteraan petani; keberhasilan diukur melalui penghematan bersih, harga energi, industri, serta APBN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
3 November 2026

Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana strategis pengembangan bioetanol bertahap dari E20 hingga E50 setelah rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan kolaborasi Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian untuk menjamin bahan baku.

5 November 2026

Prof. Murpin Josua Sembiring menilai pengembangan B50 dan E20 hingga E50 berpotensi memperkuat ekonomi domestik serta menghemat devisa. Ia meminta pemerintah menguji biaya, pasokan bahan baku, subsidi, dan manfaat bagi petani secara menyeluruh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemerintah melanjutkan program biodiesel B50 dan menyiapkan pengembangan bioetanol E20 hingga E50 untuk meningkatkan penggunaan energi domestik serta mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
  • Who?
    Pemerintah, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, Menteri Bahlil Lahadalia, Presiden Prabowo Subianto, serta Prof. Murpin Josua Sembiring terlibat dalam pembahasan dan pengembangan program ini.
  • Where?
    Rencana pengembangan bioetanol dibahas dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta. Program B50 dan E20 hingga E50 ditujukan untuk penerapan secara nasional.
  • When?
    Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana strategis bioetanol setelah rapat terbatas pada Selasa, 3 November 2026. Prof. Murpin menyampaikan penilaiannya pada Kamis, 5 November 2026.
  • Why?
    Program ditujukan menekan impor BBM, menghemat devisa, meningkatkan nilai tambah sawit dan pertanian, mendorong industri pengolahan, serta membuka lapangan kerja.
  • How?
    B50 mencampurkan 50 persen biodiesel berbasis CPO dengan solar, sedangkan E20 hingga E50 mencampurkan etanol dengan bensin. Pemerintah menyiapkan kolaborasi ESDM dan Kementerian Pertanian untuk bahan baku.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemerintah mau membuat bensin dan solar campur bahan dari sawit, tebu, singkong, dan jagung. Namanya B50 dan E20 sampai E50. Pakar Murpin bilang ini bisa mengurangi beli bahan bakar dari luar negeri dan memberi kerja untuk banyak orang. Tapi bahan-bahannya harus cukup, harganya tidak mahal, dan petani harus dapat untung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Program B50 serta E20 hingga E50 membuka ruang bagi sumber daya domestik untuk memberi nilai ekonomi lebih besar, dari industri pengolahan hingga hasil pertanian. Dengan pasokan yang terjaga, biaya yang kompetitif, dan keterlibatan petani yang adil, kebijakan ini berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi pedesaan sekaligus mengurangi kebutuhan impor energi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Pemerintah membidik program biodiesel B50 dan bioetanol E20 hingga E50 bukan sekadar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan ini juga menyimpan potensi ekonomi besar, mulai dari penghematan devisa, peningkatan nilai tambah industri sawit dan pertanian, hingga pembukaan lapangan kerja baru.

Namun, potensi tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan bagi perekonomian nasional. Pemerintah harus memastikan biaya produksi bahan bakar nabati tetap kompetitif, pasokan bahan baku terjamin, dan petani memperoleh bagian keuntungan yang layak.

Pakar ekonomi sekaligus Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Murpin Josua Sembiring menilai pengembangan B50 dan E20 hingga E50 dapat menjadi strategi untuk memperkuat ekonomi domestik. Sebab, semakin besar penggunaan bahan bakar berbasis sumber daya dalam negeri, semakin terbuka peluang mengurangi pengeluaran devisa untuk impor energi.

“Sinerginya masuk akal, tetapi harus diuji holistik terhadap harga minyak, harga sawit, cuaca ekstrem, pasokan bahan baku, dan kebutuhan subsidi,” ujarnya kepada IDN Times, Kamis (5/11/2026).

Dari sisi ekonomi, kedua program memiliki sasaran berbeda. B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan solar, sedangkan E20 hingga E50 merupakan campuran etanol dengan bensin. Keduanya berpotensi menekan kebutuhan bahan bakar fosil dari luar negeri.

Besarnya potensi ekonomi B50 tergambar dari proyeksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pemerintah memperkirakan implementasi B50 dapat menghemat devisa hingga Rp170 triliun, meningkatkan nilai tambah industri minyak sawit mentah atau CPO menjadi Rp23,49 triliun, serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja. Angka tersebut merupakan proyeksi pemerintah, bukan realisasi penghematan yang telah tercapai.

Sementara itu, pengembangan bioetanol juga membuka peluang menggerakkan sektor pertanian dan industri pengolahan. Bahan baku seperti tebu, singkong, dan jagung berpotensi menciptakan permintaan baru bagi hasil produksi petani sekaligus mendorong investasi pabrik pengolahan.

Murpin menilai efek berganda tersebut bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di wilayah pedesaan. Namun, petani harus mendapatkan kepastian pembelian, transparansi harga, akses pembiayaan, dan kesempatan terlibat dalam rantai nilai industri.

“Petani harus menjadi pemenang, bukan pemasok murah,” tegasnya.

Menurut Murpin, pemerintah juga perlu menghitung apakah penghematan impor yang diperoleh benar-benar lebih besar dibandingkan biaya untuk memproduksi bahan bakar nabati. Perhitungan itu harus mencakup harga bahan baku, biaya pengolahan, investasi infrastruktur, logistik, insentif, hingga kebutuhan subsidi.

Sebab, apabila biaya produksi biofuel terlalu tinggi dan membutuhkan dukungan fiskal besar, manfaat penghematan devisa berpotensi tidak sebanding dengan beban yang harus ditanggung negara.

Tantangan pasokan juga menjadi perhatian. Kementerian ESDM sebelumnya memperkirakan penerapan E20 membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol. Kebutuhan tersebut harus ditopang kapasitas produksi dalam negeri yang memadai agar program tidak justru menciptakan ketergantungan baru terhadap bahan baku atau produk etanol impor.

Murpin meminta pemerintah tidak hanya mengejar persentase campuran bahan bakar nabati. Keberhasilan program harus diukur dari penurunan impor BBM, penghematan devisa bersih, peningkatan kesejahteraan petani, keterjangkauan harga energi, serta penguatan industri domestik.

“Ukuran keberhasilan bukan seremoni expose proyek, melainkan impor turun, petani sejahtera, harga terjangkau, industri tangguh, dan APBN terlindungi,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah telah menyiapkan rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap dari E20 hingga E50. Hal itu disampaikan setelah rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Bahlil menyebut pengembangan bioetanol membutuhkan kolaborasi Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian, terutama untuk memastikan ketersediaan bahan baku dari sektor hulu.

“E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM,” kata Bahlil.

Di sisi lain, pemerintah memastikan program mandatori biodiesel B50 tetap dilanjutkan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi meningkatkan pemanfaatan sumber daya energi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.

Editorial Team

Related Article