Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
The Woven Collection dalam rangkaian perayaan 13 tahun Adelle Jewellery di The Westin Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Adelle Jewellery memperkenalkan The Woven Collection pada perayaan 13 tahun di Surabaya, mengadaptasi karakter anyaman rotan menjadi perhiasan berlian.

  • Pengembangan koleksi melibatkan riset bersama sekitar 50 pengrajin rotan lokal serta kolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, Nine Square, dan Long Story Short.

  • Penerjemahan pola rotan ke perhiasan presisi, elegan, dan nyaman menjadi tantangan tinggi; setiap karya dapat dikerjakan hingga 960 jam, dengan pengrajin turut dilibatkan dalam acara dan clutch edisi terbatas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
13 tahun

The Woven Collection diperkenalkan dalam rangkaian perayaan 13 tahun Adelle Jewellery di The Westin Surabaya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Adelle Jewellery memperkenalkan The Woven Collection, koleksi perhiasan berlian yang mengadaptasi pola dan karakter anyaman rotan Indonesia.
  • Who?
    Adelle Jewellery, sekitar 50 pengrajin rotan lokal, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI, Nine Square, dan Long Story Short terlibat dalam pengembangan koleksi.
  • Where?
    Koleksi diperkenalkan di The Westin Surabaya, sementara riset pengembangannya melibatkan pengrajin rotan dari Indonesia.
  • When?
    Peluncuran dilakukan dalam rangkaian perayaan 13 tahun Adelle Jewellery; tanggal pelaksanaannya per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Karakter anyaman rotan dipilih karena rotan dan berlian alami sama-sama berasal dari alam serta membutuhkan proses panjang untuk menghasilkan nilai.
  • How?
    Pola anyaman rotan diterjemahkan ke struktur perhiasan berukuran kecil melalui riset dan kolaborasi. Setiap karya memerlukan pengerjaan presisi hingga 960 jam serta dirancang tetap elegan dan nyaman dikenakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rotan yang biasanya jadi kursi dan keranjang sekarang jadi ide perhiasan berlian. Adelle Jewellery bekerja bersama sekitar 50 pengrajin rotan Indonesia. Mereka membuat The Woven Collection di Surabaya. Membuat pola anyaman kecil itu susah dan bisa sampai 960 jam. Sekarang, karya ini dipuji karena membawa keterampilan pengrajin ke perhiasan modern.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
The Woven Collection menunjukkan bagaimana ketelitian anyaman rotan dapat diterjemahkan secara hormat ke dalam desain perhiasan modern. Riset bersama sekitar 50 pengrajin, keterlibatan mereka dalam acara dan karya terbatas, serta penggunaan rotan dengan pendekatan lebih berkelanjutan memberi ruang bagi keterampilan lokal untuk tampil dalam bentuk baru tanpa menanggalkan identitasnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Selama ini, rotan lebih sering dijumpai dalam bentuk kursi, meja, keranjang, atau berbagai perabot rumah tangga. Lembaran batangnya dianyam, disilangkan, lalu dibentuk menjadi benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, siapa sangka pola anyaman yang sederhana itu bisa menjadi inspirasi sebuah perhiasan berlian?

Di balik proses menganyam rotan, tersimpan keterampilan yang tidak bisa dikerjakan secara terburu-buru. Setiap helai harus ditempatkan dengan cermat agar membentuk pola yang kuat dan teratur. Ketelitian semacam inilah yang kemudian menarik perhatian industri perhiasan untuk menggali potensi kerajinan tradisional Indonesia.

Perjalanan itu terlihat dalam pengembangan The Woven Collection, sebuah koleksi perhiasan yang mengambil inspirasi dari karakter anyaman rotan. Pengembangannya melibatkan riset bersama sekitar 50 pengrajin rotan lokal di Indonesia.

Koleksi tersebut diperkenalkan dalam rangkaian perayaan 13 tahun Adelle Jewellery di The Westin Surabaya. Proses pengembangannya melibatkan kolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI, Nine Square, serta Long Story Short sebagai pelaku kerajinan rotan.

R&D Manager Adelle Jewellery, Melissa Surya, mengungkapkan bahwa membawa karakter anyaman rotan ke dalam bentuk perhiasan bukan pekerjaan mudah. Pola yang biasanya diterapkan pada benda berukuran relatif besar harus diterjemahkan ke struktur yang jauh lebih kecil, tetapi tetap mempertahankan detail dan karakter visualnya.

Tantangan lainnya adalah memastikan hasil akhir tetap presisi, elegan, sekaligus nyaman dikenakan. Proses tersebut membutuhkan ketelitian tinggi. Bahkan, pengerjaan setiap karya dalam koleksi itu dapat memakan waktu hingga 960 jam.

“The Woven merupakan salah satu koleksi dengan tingkat kompleksitas tertinggi yang pernah kami kerjakan. Tantangannya adalah menerjemahkan karakter anyaman rotan ke dalam struktur jewellery yang tetap presisi, elegan, dan nyaman dikenakan, dengan setiap piece membutuhkan proses hingga 960 jam,” ungkap Melissa.

Melissa bilang, rotan dan natural diamond memiliki satu kesamaan. Keduanya berasal dari alam dan membutuhkan proses panjang untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai. Kesamaan filosofi itu menjadi salah satu alasan karakter rotan dipilih sebagai inspirasi desain.

Namun, cerita di balik koleksi tersebut tidak hanya berhenti pada perubahan bentuk material menjadi perhiasan. Ada pengetahuan dan keterampilan para pengrajin yang ikut dibawa ke dalam proses kreatifnya.

Keterlibatan mereka tidak sebatas memberikan inspirasi melalui riset. Para pengrajin juga dilibatkan langsung dalam rangkaian acara dan pembuatan karya terbatas berupa Adelle Woven Clutch. Material rotan yang dipilih dengan pendekatan lebih berkelanjutan turut digunakan sebagai elemen dekorasi.

“Jadi rotan yang digunakan dipilih dengan pendekatan yang lebih sustainable, sekaligus diaplikasikan dalam elemen dekorasi acara, keterlibatan pengrajin secara langsung pada hari pelaksanaan, serta pembuatan limited edition Adelle Woven Clutch,” ujar Melissa.

Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa kerajinan tradisional memiliki ruang untuk berkembang melampaui bentuk produk yang selama ini dikenal masyarakat. Teknik menganyam yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat menjadi sumber gagasan bagi industri kreatif lain, termasuk desain perhiasan.

Di sisi lain, pertemuan antara keterampilan lokal dan industri modern juga menghadirkan pertanyaan penting, bagaimana agar pengrajin tidak hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi turut memperoleh manfaat dari perkembangan produk yang lahir dari pengetahuan mereka?

Sebab, nilai sebuah kerajinan tidak semata-mata terletak pada bahan baku atau hasil akhirnya. Ada pengalaman, ketekunan, dan keterampilan yang terbentuk melalui proses panjang. Ketika pengetahuan itu mendapat ruang untuk berkembang, kerajinan tradisional berpeluang menemukan pasar dan bentuk baru tanpa kehilangan identitas asalnya.

The Woven Collection mendapat apresiasi dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI sebagai salah satu upaya membawa keterampilan kerajinan Indonesia ke dalam karya perhiasan melalui pendekatan modern.

Perjalanan anyaman rotan menuju dunia perhiasan menunjukkan bahwa warisan budaya tidak harus diam di tempat. Ia bisa terus bergerak, beradaptasi, dan menemukan pembaca maupun penikmat baru. Bahkan, dari helai-helai rotan yang dianyam dengan sabar, bisa lahir cerita tentang bagaimana keterampilan lokal menemukan tempat di panggung industri kreatif yang lebih luas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article