Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tumbuh 5,96 Persen, Ekonomi Jatim Belum Merata

Tumbuh 5,96 Persen, Ekonomi Jatim Belum Merata
ilustrasi ekonomi (pexels.com/Monstera Production)
Intinya Sih
  • Ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026, menunjukkan capaian positif meski belum merata di seluruh sektor.
  • Sektor konstruksi mengalami kontraksi -6,93 persen secara kuartalan akibat minimnya proyek baru di awal tahun anggaran, meski masih tumbuh tahunan berkat program pemerintah.
  • Sektor listrik dan gas turun signifikan karena melemahnya aktivitas industri serta berkurangnya hari kerja, disusul kontraksi di beberapa sektor lain seperti pertambangan dan jasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur (Jatim) pada Triwulan I 2026 memang masih menunjukkan angka positif. Namun, di balik capaian tersebut, sejumlah sektor strategis justru mengalami tekanan, menandakan pemulihan ekonomi belum merata.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, ekonomi Jatim tumbuh 1,25 persen secara kuartalan (q-to-q) dan 5,96 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Meski terlihat solid di permukaan, sejumlah lapangan usaha utama justru mencatat kontraksi.

Sektor konstruksi menjadi yang paling terdampak dengan penurunan hingga -6,93 persen secara kuartalan. Statistisi Ahli Madya BPS Jatim, Nurul Andriana, menyebut kondisi ini dipicu minimnya proyek baru di awal tahun anggaran.

“Karena masih dalam tahap perencanaan, jadi aktivitas konstruksi belum banyak berjalan. Yang ada masih didominasi proyek multiyears,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Meski demikian, secara tahunan sektor ini masih tumbuh 7,12 persen karena adanya sejumlah program seperti rehabilitasi sekolah hingga pengembangan koperasi desa. Namun, pola ini menunjukkan ketergantungan tinggi pada belanja pemerintah yang belum langsung berdampak di awal tahun.

Tekanan juga terjadi pada sektor pengadaan listrik dan gas yang terkontraksi -5,96 persen secara kuartalan dan -5,62 persen secara tahunan. Penurunan ini mencerminkan melemahnya aktivitas industri dan perkantoran, terutama akibat panjangnya periode libur di awal tahun.

“Permintaan dari industri menurun, salah satunya karena jumlah hari kerja yang lebih sedikit dibanding tahun lalu,” jelas Nurul.

Selain dua sektor tersebut, beberapa lapangan usaha lain juga mengalami kontraksi. Di antaranya pertambangan dan penggalian (-4,78 persen), jasa lainnya (-1,67 persen), jasa kesehatan dan sosial (-0,61 persen), jasa keuangan dan asuransi (-0,17 persen), jasa pendidikan (-0,16 persen), serta sektor pengelolaan air dan limbah (-0,12 persen).

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More