Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
STIMZY, Inovasi Mahasiswa ITS Bantu Kelola Stres
Tampilan Stress Regulation Kit STIMZY, karya mahasiswa Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) ITS. Dok. Humas ITS.
  • Dua mahasiswa DKV ITS, Yohanes Carolus Satria Bramantyo dan Ivena Ayu Lestari, mengembangkan STIMZY untuk membantu mahasiswa menghadapi tekanan akademik, organisasi, magang, dan kecemasan masa depan.
  • Selama sekitar enam bulan, STIMZY dirancang dengan pendekatan user-centered design melalui riset, prototipe, pengujian pengguna, dan penyempurnaan berdasarkan kebutuhan mahasiswa serta dewasa muda.
  • Paket Stress Regulation Kit ini memadukan tactile fidget charm, jurnal refleksi, panduan regulasi stres, dan stiker; pengembang berharap STIMZY dapat berkolaborasi dengan komunitas dan perguruan tinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Dua mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan cara berbeda untuk membantu mahasiswa menghadapi tekanan akademik, organisasi hingga kecemasan soal masa depan.

Melalui inovasi bernama STIMZY, Yohanes Carolus Satria Bramantyo dan Ivena Ayu Lestari merancang Stress Regulation Kit yang menggabungkan stimulasi sensorik, refleksi diri, dan aktivitas kreatif dalam satu paket.

Mahasiswa Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) ITS angkatan 2023 itu melihat persoalan pengelolaan stres sebagai kebutuhan yang kerap luput dari perhatian. Tuntutan tugas kuliah, organisasi, magang hingga kekhawatiran menghadapi masa depan dapat membuat mahasiswa mengalami tekanan secara berulang.

"Banyak teman merasa tertekan oleh berbagai tuntutan itu," ujar Carolus, Kamis (13/8/2026).

Berangkat dari persoalan tersebut, keduanya mengembangkan STIMZY selama sekitar enam bulan. Proses pengembangan dilakukan dengan pendekatan user-centered design, sehingga produk dirancang berdasarkan kebutuhan dan pengalaman calon penggunanya.

Pengembangan dimulai dari riset terhadap mahasiswa dan dewasa muda, kemudian dilanjutkan dengan brainstorming, eksplorasi desain, pembuatan prototipe, user testing, hingga penyempurnaan produk berdasarkan masukan pengguna.

STIMZY tidak sekadar menawarkan satu aktivitas untuk mengatasi stres. Produk tersebut menggabungkan tactile fidget charm, jurnal refleksi, panduan regulasi stres dan sticker pack dalam satu paket.

Konsep tersebut memungkinkan pengguna memperoleh stimulasi sensorik untuk membantu menenangkan diri sekaligus melakukan refleksi terhadap kondisi emosionalnya.

"Kami ingin semua kebutuhan tersebut hadir dalam satu media yang praktis dan menyenangkan," tutur Carolus.

Salah satu konsep yang digunakan adalah ephemeral journaling. Pengguna dapat menuangkan pikiran dan perasaan melalui jurnal refleksi tanpa harus menjadikannya sebagai catatan permanen.

Dari sisi desain, STIMZY juga dibuat agar pengalaman pengguna tidak terasa seperti sedang menjalani aktivitas yang kaku. Kemasan pop-up dipadukan dengan identitas visual yang kuat untuk menciptakan pengalaman interaktif.

Nama STIMZY juga diperkuat dengan maskot kucing bernama Minzy. Sementara logonya terinspirasi dari tombol CTRL pada papan ketik. Tombol tersebut menjadi simbol dari pesan yang ingin disampaikan kedua mahasiswa tersebut, yakni membantu pengguna mengambil kembali kendali atas pikiran dan emosinya.

Pesan tersebut kemudian dituangkan dalam tagline "Take CTRL of Yourself".

Carolus mengatakan STIMZY dirancang bukan sekadar sebagai produk hiburan. Di dalamnya terdapat sejumlah elemen yang diarahkan untuk membantu pengguna mengenali kondisi diri, menyalurkan emosi dan melakukan regulasi stres secara lebih menyenangkan. "STIMZY bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga media regulasi stres yang lebih lengkap," jelasnya.

Ke depan, Carolus berharap STIMZY tidak berhenti sebagai proyek mahasiswa. Ia ingin inovasi tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas, perguruan tinggi maupun pihak yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental.

Curated For You

Editorial Team

Related Article