Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Api Bromo Belum Padam, Mulai Berdampak pada Ekonomi Warga

Kota Surabaya
Api Bromo Belum Padam, Mulai Berdampak pada Ekonomi Warga
Kebakaran lahan dan hutan di Gunung Bromo, Jawa Timur. (Dokumentasi BNPB)
  • Karhutla di Gunung Bromo memicu penutupan total seluruh akses wisata TNBTS sejak 8 Agustus 2026 hingga waktu belum ditentukan, menghentikan aktivitas pariwisata.
  • Penutupan berdampak pada UMKM, pemandu, dan usaha lokal; Disbudpar Jatim masih menghitung kerugian serta menginventarisasi kebutuhan pendampingan bagi pelaku pariwisata.
  • Petugas gabungan masih memadamkan api, sementara wisatawan diminta tidak datang atau menerobos penutupan; pemerintah menyiapkan mitigasi dan rehabilitasi vegetasi pascakebakaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo tak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga mulai memukul perekonomian warga yang menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata.

Penutupan total kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) membuat aktivitas wisata berhenti. Kondisi ini berdampak terhadap pelaku usaha lokal, mulai dari UMKM, jasa pemandu wisata hingga sektor usaha lainnya yang bergantung pada kunjungan wisatawan.

Diketahui, akses wisata Bromo sempat dibuka secara terbatas. Namun, seiring meluasnya karhutla, seluruh akses wisata alam TNBTS resmi ditutup pada Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur (Jatim), Evy Afianasari mengaku masih menghitung besaran dampak ekonomi akibat penutupan kawasan Bromo. Perhitungan tersebut juga membutuhkan data dari pihak TNBTS. "Memang pastinya ada kerugian dari industri pariwisata. Untuk perhitungannya berapa, kami masih dalam tahap perhitungan karena pihak TNBTS pun masih belum mau berkonfirmasi terkait hal itu. Mereka masih fokus dulu terhadap pemadaman api," ujar Evy, Kamis (13/8/2026).

Evy mengimbau masyarakat maupun wisatawan untuk tidak memaksakan diri datang ke kawasan Bromo selama penutupan berlangsung. Menurutnya, keselamatan wisatawan dan petugas harus menjadi prioritas. "Jadi kami mengimbau para wisatawan memang hindari dahulu kawasan Bromo agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.

Besarnya dampak ekonomi tidak lepas dari tingginya aktivitas wisata Bromo. Evy menyebut kunjungan wisatawan pada hari libur dapat mencapai sekitar 6 ribu orang per hari. Sementara pada hari kerja, rata-rata mencapai sekitar 2 ribu wisatawan per hari.

Kondisi tersebut membuat penutupan kawasan berpotensi memberikan dampak berantai terhadap masyarakat yang selama ini memperoleh penghasilan dari aktivitas wisata.

Apalagi, Agustus seharusnya menjadi salah satu periode penting bagi kunjungan wisatawan mancanegara. Musim panas di sejumlah negara menjadi momentum bagi wisatawan asing untuk melakukan perjalanan, termasuk ke destinasi alam seperti Bromo.

"Ini yang banyak malah kemungkinan mancanegara karena mereka lagi summer. Jadi, memang ini agak mengecewakan, tapi saya yakin kalau wisatawan global pasti amat sangat paham ini, mereka juga amat sangat menghormati alam pastinya," tuturnya.

Untuk diketahui, tiket masuk Bromo bagi wisatawan nusantara dibanderol Rp54 ribu pada hari kerja dan Rp79 ribu pada hari libur. Sementara tarif wisatawan mancanegara mencapai Rp225 ribu, baik hari kerja maupun hari libur.

Disbudpar Jatim kini menginventarisasi dampak ekonomi yang muncul akibat penutupan tersebut. Data itu nantinya akan digunakan untuk menentukan bentuk pendampingan yang dapat diberikan kepada masyarakat dan pelaku industri pariwisata.

"Makanya kita himpun apa saja dampak-dampak kerugiannya, apakah yang bisa kita lakukan untuk industri pariwisatanya. Paling tidak bukan mengganti kerugiannya, tapi apakah yang bisa dilakukan oleh Disbudpar nanti. Kami berhitung dulu," jelas Evy.

Di sisi lain, Evy memastikan petugas gabungan masih melakukan penanganan karhutla di kawasan Bromo. Ia meminta wisatawan tidak menerobos maupun mengabaikan kebijakan penutupan kawasan.

Selain pemulihan ekonomi, Disbudpar Jatim juga mulai menyiapkan langkah mitigasi untuk mencegah kejadian serupa. Salah satunya dengan memperketat barang bawaan wisatawan yang berpotensi menjadi sumber api.

"Ke depan, kami menyarankan agar pengunjung dilarang membawa rokok, baik rokok konvensional maupun vape," katanya.

Evy menambahkan, pemulihan kawasan Bromo pascakebakaran juga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Vegetasi yang terbakar membutuhkan waktu untuk kembali pulih sehingga diperlukan program rehabilitasi khusus.

"Seperti kasus tahun lalu, butuh waktu cukup lama untuk menghijaukan kembali. Mungkin nanti akan ada program khusus berupa pemulihan lahan atau bagaimana. Dampak kebakarannya sudah cukup luas, jadi semua pintu sekarang juga sudah ditutup," pungkasnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More