Ponorogo, IDN Times - Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, sempat meminta maaf kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum menyampaikan pesan tentang pilihan Gontor dalam membangun bangsa melalui pendidikan. Uniknya, permintaan maaf itu memakai kalimat yang pernah diutarakan Prabowo dalam Debat Presiden tahun 2024 lalu.
Momen itu terjadi saat Kiai Hasan menyampaikan pidato dalam peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9/2026). Prabowo hadir langsung dalam acara tersebut.
“Kami tetap memilih pendidikan, Bapak Presiden. Saya tak ngomong, agak gak enak ya Pak, sorry ye,” ujarnya.
Setelah menyampaikan kalimat tersebut, Kia Hasan kemudian membawa hadirin pada pembicaraan mengenai sejarah. Ia mengingatkan pesan Presiden pertama Sukarno tentang pentingnya tidak melupakan sejarah. Namun bagi Gontor, sejarah tidak cukup hanya untuk dikenang atau dipelajari. Sejarah harus menjadi pijakan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
“Saya membaca buku, bergurulah pada sejarah. Gontor tidak puas. Gontor cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah, tidak menyerah pada sejarah,” katanya.
Kiai Hasan kemudian menegaskan bahwa Gontor ingin mengambil peran dalam membangun sejarah dan peradaban melalui pendidikan. “Tidak hanya jangan melupakan sejarah, tidak hanya bergurulah pada sejarah, tetap kita membangun sejarah, membangun peradaban dari Gontor,” katanya.
Dalam pidatonya, Kiai Hasan juga menyampaikan bahwa Gontor tetap berpegang pada nilai iman, Islam, dan ihsan sebagaimana gagasan para pendirinya. Pendidikan Gontor, kata dia, tidak dimaksudkan untuk menghapus latar belakang organisasi keagamaan para santri.
Ia memberikan contoh hubungan Gontor dengan warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
“Anak Muhammadiyah masuk Gontor, keluar Muhammadiyah lagi. Pimpinan Nahdlatul Ulama menjadi santri Gontor dan memimpin Nahdlatul Ulama,” katanya.
Menurut Kiai Hasan, banyak pula keluarga berlatar belakang Muhammadiyah dan NU yang kemudian terhubung melalui hubungan keluarga.
Ia lantas mencairkan suasana dengan guyonan mengenai identitas dirinya. “Saya ini orang bebas. Orang bilang itu Muhammadiyah agak Wahabi dikit, tapi menantu saya NU kabeh, Pak,” bebernya.
Kiai Hasan pun menyebut dirinya dengan istilah guyonan, “Hasan Abdullah Aswabi, Aswaja Wahabi.” Bagi Kiai Hasan, keberagaman latar belakang tersebut merupakan bagian dari perjalanan pendidikan Gontor. Para santri datang dari berbagai lingkungan, memperoleh pendidikan di Gontor, kemudian kembali mengabdi di tengah masyarakat dengan identitas dan ruang pengabdian masing-masing.
