Kondisi di lapangan pun direspons oleh pemerintah. Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko mengaku, faktor anjloknya harga cabai rawit di tingkat petani bukan hanya dialami di Mojokerto. Beberapa daerah lain juga mengalami hal serupa.
Selain itu, pasokan cabai dari luar daerah juga turut menjadi faktor penyebab turunnya harga cabai rawit. "Ada cabai dari beberapa daerah seperti Situbondo, Probolinggo, Nganjuk, Kediri masuk ke Mojokerto," ujarnya.
Meski begitu, Tegus menilai harga cabai rawit saat ini masih di kisaran titik impas atau Break Even Point (BEP) sehingga para petani dinilai tidak terlalu merugi.
"Untuk BEP cabai rawit di kisaran Rp9 ribu-Rp10 ribu. Jadi bisa dikatakan masih tidak terlalu merugi," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo menyebut kondisi ini terjadi karena stok yang melimpah. Ia memprediksi produksi cabai rawit Jatim pada September diperkirakan mencapai 33.736 ton. Kemudian bulan Oktober 22.447 ton. Secara umum, hingga akhir Desember produksi cabai rawit selama setahun mencapai 426.571 ton dengan konsumsi untuk pangan setahun 66.958 ton.
"Maka neraca pada tahun 2021 surplus 359.613 ton," ujarnya, Selasa (7/9/2021).
Adapun Kementerian Pertanian melalui Pasar Mitra Tani atau Toko Tani Indonesia Center (PMT/TTIC) berencana akan melakukan penyerapan langsung cabai petani. Kepala Pusat Distribusi dan Akses Pangan BKP, Risfaheri, mengatakan hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi kerugian petani akibat panen berlimpah.
"Saat harga anjlok di petani, serta lesunya penyerapan produksi oleh pasar, PMT/TTIC gerak cepat untuk membantu menyerap kelebihan produksi cabai dengan harga wajar untuk mengurangi kerugian petani," ujar Risfaheri, Kamis (26/8/2021).